kecelakaan

1149 Words
“Tapi, Nenek berpesan bahwa Nona tidak boleh….” “Eh, bukan apa-apa kok!” kata Migy dengan cepat membekap mulut Nathan dengan tangannya. Kalvi terkejut melihat respon Migy yang seperti itu. “Nathan, ayo. Kamu ikut kita, oke?” kata Migy sambil mengedipkan mata sebagai kode. Nathan mengernyit, ia merasa bingung harus menuruti ucapan Migy atau melaporkan apa yang terjadi saat ini kepada Nenek Umaya. Karena, dari awal perjanjian ia telah diberitahu untuk menjaga Migy dari pacarnya. “Ayo, Migy. Jika terlalu lama, takut tidak keburuan,” ajak Kalvi. “Iya,” Migy tersenyum gugup, namun matanya tetap menatap Nathan yang sudah terlihat muram. “Aku ambil mobil dulu,” kata Kalvi. “Hmm. Kalvi, aku mau bilang, aku bareng Nathan saja, ya?” kata Migy takut-takut. “Hah? Terus aku sendirian?” ucap Kalvi tidak percaya. Migy mengangguk tak berdaya. Ia merasa posisi ini serba salah. Bagaimana pun ia telah berjanji kepada Nenek untuk tidak mendekati Kalvi lagi, namun ia masih belum bisa mencari alasan untuk meninggalkan Kalvi. Sedangkan Nathan, ia terlihat tidak peduli dengan tatapan memelas Migy padanya. Karena ini adalah tugasnya, dan ia tidak akan melanggar walau pun Migy memohon sekali pun. “Oke?” kata Migy memastikan pada Kalvi lagi. Kalvi bernapas lemah, “Baiklah. Kalau gitu aku bawa motor aja, ngapain naik mobil sendiri.” Setelah itu mereka berangkat beriringan dengan motor masing-masing. Migy yang berboncengan dengan Nathan, ingin merasakan membawa motor barunya. Dan ia juga berkata kepada Nathan untuk berganti posisi. “Nathan, aku mau mencoba membawa motor ini,” kata Migy sambil menepuk punggung Nathan dari belakang.” Nathan menoleh ke belakang. “Tapi, Nona. Saya takut kita kenapa-napa, motor ini lumayan berat.” Namun Migy tetap memaksa, “Nggak masalah, aku sudah terbiasa membawa motor. Nanti kamu kasih tahu saja jika aku kurang mengerti ,” paksa Migy. Setelah itu Nathan memberhentikan motor di pinggir jalan, lalu Migy pindah ke depan. Namun, Kalvi yang berada di belakang ikut berhenti dan menanyakan apa yang terjadi kepada Migy. “Kenapa?” Tanya Kalvi. “Aku mau coba mengendarai motor ini,” jelas Migy tersenyum gembira. Kalvi terlihat cemas melihat kenekatan Migy yang membawa Moge baru itu. Rasanya motor itu terlalu berat bagi Migy yang memiliki tubuh ramping dan kecil itu. “Migy, jangan bawa Moge dulu. Aku takut kamu nggak bisa menahan bebannya. Itu berat, biarkan Nathan yang membawanya,” tegas kalvi memberi tahu. Namun Migy tetap bersikeras. Padahal saat ini mereka berada di daerah puncak. Jalannya yang lumayan sulit, dengan banyak tanjakan dan tikungan yang sulit untuk dilalui. “Nona, saya tidak berani membiarkan Nona yang membawanya.” “Kalian kenapa sih? Aku kan mau mencoba sebentar saja, sampai tiga kilo meter cukup.” Migy tetap keras kepala. Mereka akhirnya kembali berjalan. Dan Migy pun mulai membiasakan diri dengan Moge barunya, tapi ia dipegangi oleh Nathan dari belakang. Hal tersebut membuat mata Kalvi panas melihatnya. Ia merasa terbakar api cemburu melihat tubuh Migy yang dipeluk oleh Nathan dari belakang, keduanya jelas terlihat seperti orang yang sedang pergi kencan romantis berdua. Kalvi benar-benar ingin meneriaki Nathan, dan menghajarnya dengan sekeras mungkin, namun mencoba untuk diam. “Ya Tuhan, kenapa sesakit ini untuk mendapatkan kekasih yang benar-benar aku cintai dengan setulus hati,” kata Kalvi pada dirinya sendiri. Dengan kecepatan penuh, Kalvi mendahului laju motor Migy. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi jika ia masih setia bersabar melihat kedekatan Migy dan Nathan. Apa lagi ketika Nathan menyadarkan dadanya ke punggung Migy untuk memberitahukan arahan kepada Migy. Mereka tampak sangat serasi, walau Natahn adalah pengawal bagi Migy, tetapi bagi pandangan Kalvi, mereka berdua tampak seperti pasangan kekasih. “Kalvi!!!” teriak Migy yang melihat laju motor Kalvi yang sangat cepat. Kalvi tidak mendengarkan teriakan Migy padanya, ia selalu memandang ke depan dan semakin menambah kecepatan. Dan naas yang terjadi, di dekat tikungan, Kalvi bergesekan dengan sebuah mobil dari arah berlawanan. Brak!!!! Kalvi terpental ke bahu jalan, dan motornya masuk ke bawah mobil. Kejadian itu tak luput dari penglihatan Migy dan Nathan. Tubuh Kalvi yang berguling-guling di bahu jalan, terlihat sangat dekat di hadapan Migy. Keadaan seketika kacau dan heboh. Jantung Migy berdetak tidak lagi pada tempatnya saat ini. Bunyi gesekan motor dengan aspal jalanan menjadi saksi kecelakaanyang terjadi pada Kalvi. “Kalviiiii!!!!!” Migy berteriak histeris, namun tangannya tidak sengaja menarik kecepatan gas motor, hingga motro itu seketika bergerak tak beraturan. Beruntung Nathan menginjak rem dan mengambil kendali dengan cepat. “Aaaahhhk!” jerit Migy saat motor itu langsung berhenti mendadak. Migy bergegas turun dan berlari ke arah kalvi. “Kalvi, ya Tuhan!!!” Migy memeluk kepala Kalvi yang telah dilumuri darah. Saat itu Kalvi masih sedikit tersadar, “Mi….gy…” matanya langsung terpejam. Melihat Kalvi pingsan, Migylangsung ketakutan luar biasa. Ia mencoba membangunkan Kalvi dengan menepuk-nepuk pipinya. “Kalvi, Kalvi, bangun! “ “Bangun Kalviii!” teriak Migy dengan berurai air mata. Melihat Kalvi yang berada di pangkuannya, Migy tidak kuasa menahan kesedihan. Ia merasa takut, jika sesuatu yang buruk terjadi. Kemudian, orang-orang datang berkerumun, mobil ambulan punjuga terdengar dari kejauhan. Migy mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Nathan, dan ia melihat Nathan yang berada di tak jauh dari tempatnya sedang menepikan motor Kalvi bersama beberapa orang. Dan mereka pun pergi ke rumah sakit bersama. Migy yang setia menemani Kalvi, ikut naik bersama mobil ambulan itu. Ia juga merasa takut untuk memberi tahukan kejadian ini kepada keluarga Kalvi. Tetap, dengan sekuat hati, Migy mencoba memberanikan dirinya untuk menghubungi Bibi Ina. Saat telepon tersambung, suara Bibi Ina terdengar, “Halo?” “Halo, Bi… Bibi…” suara Migy tercekat karena takut. “Iya, Migy?” Air mata Migy mengalir deras, suaranya bergetar takut. “Bibi, Kalvi kecelakaan.” “Astaga!....” suara di seberang telepon seakan terdengar ribut. “Halo, Migy! Di mana Kalvi sekarang? Kalian di mana?” tiba-tiba suara Ibu Kalvi terdengar. “Kita menuju rumah sakit….. Kal.. Kalvi sedang dibawa bersama ambulan Tante,” kata Migy tergagap. Migy mematikan telepon lalu mengetik alamat rumah sakit yang akan mereka tuju saat ini. Perasaanya benar-benar sangat kacau melihat Kalvi yang terbaring di tempat tidur di hadapannya. Banyak luka di sekujur tubuh Kalvi. Melihat hal tersebut, Migy merasa tidak kuasa menahan kesedihannya. Sebelumnya Nenek telah mengatakan tidak menyukai Kalvi dan sekarang Kalvi terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Nenek bahwa dirinya telah melanggar janjinya sendiri, dan sekarang Kalvi kecelakaan saat bersama dengannya. Tiba di rumah sakit, Kalvi segera dibawa ke UGD. Migy ikut menemani dan dibantu oleh Nathan yang setia berada di dekatnya. Wajah Migy terlihat pucat dan ketakutan. Nathan berusaha menenangkan, “Nona, tenang saja. Semoga Kalvi baik-baik saja.” Setelah menunggu dua puluh menit, dokter keluar dan memberi tahu bahwa Kalvi harus dirujuk ke rumah kota. Karena saat ini rumah sakit tersebut tidak mempunyai kapasitas yang memadai untuk menangani kondisi Kalvi. Beruntung keluarga Kalvi datang dengan cepat, sehingga mereka bergegas untuk mengurus prosedur pemindahan Kalvi dengan segera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD