"Sayang!"
Delika yang masih sibuk membaca buku di perpustakaan pun terkejut. Rio mengejutkannya sampai-sampai penjaga perpustakaan mengomel, karena suara berisik Rio. Seketika Delika menoyor kepala Rio. Ia benar-benar kesal dengan pria itu. Selalu saja membuat kekacauan.
"Berisik banget sih lo!" omel Delika dengan suara berbisik. "Ganggu!"
Rio memanyunkan bibirnya. "Lagian kamunya main ninggalin aku gitu aja. Aku kan kesel jadinya."
"Terserah gue-lah. Nggak usah ngatur-ngatur," ketus Delika.
"Kamu tuh jutek banget sih. Nggak ada manis-manisnya. Aku tuh maunya kamu manja sama aku, kayak cewek lain. Biar semua orang iri sama kita, Sayang. Terus entar kita jadi pasangan yang viral deh di kampus. Kan seru," ujar Rio.
Delika hanya mendengus, tak berniat sama sekali untuk merespon ucapan Rio yang terkesan berlebihan. Wanita itu tetap memfokuskan pandangannya ke arah buku yang sedang dibaca.
"Oh iya, kita kan udah pacaran selama seminggu, tapi kenapa kamu nggak mau aku cium sih? Aku kan juga mau kayak pasangan lain," lanjut Rio.
"Cium aja tembok," balas Delika ketus.
Rio pun mendecak kesal. "Mana enak cium tembok. Kamu mah gitu. Aku cium sekarang, mau nggak? Mumpung nggak ada yang lihat."
"Mau masuk rumah sakit, atau kuburan?" Delika memberikan tatapan sinis pada Rio, "Jangan minta yang aneh-aneh kalau masih mau sama gue. Ngerti?!"
"Iya, ngerti kok," jawab Rio sambil menyengir kuda. "Aku nggak akan minta yang aneh-aneh lagi kok. Aku kan sayang sama kamu. Jadi, jangan putusin aku ya. Aku nggak sanggup tanpa kamu."
"Halah, gombal!"
Rio langsung menggenggam tangan Zehra dan mulai memainkan drama romantisnya di depan Zehra. "Aku tuh serius, Sayang. Nggak lagi gombal. Di hati aku tuh cuma ada nama kamu, Sayang. Nggak ada yang lain."
"Hhh!" Helaan napas lelah pun terdengar dan Delika melepaskan tangannya dari genggaman Rio. Ia masih tidak ingin menanggapi ucapan membosankan itu. Lebih baik ia membaca buku daripada mendengarkan ocehan Rio.
"Sayang, nanti mau nggak aku anter pulang? Soalnya aku mau ketemu sama camer," lanjut Rio.
"Gue dijemput sama Papa. Lo pulang sendiri aja. Nggak perlu repot nganterin gue."
Wajah Rio mendadak sumringah. "Oh, kebetulan dong. Nanti kenalin aku sama Om Dehan ya."
"Iya, nanti gue kenalin," ujar Delika sambil beranjak dari kursinya, kemudian berjalan mendekati rak buku dan meletakkan kembali buku yang dibacanya tadi ke tempat semula. Setelah itu, ia pergi begitu saja meninggalkan Rio.
Rio pun mendecak kesal sambil berlari mengikuti Delika keluar dari perpustakaan. Sambil berjalan, Rio menggerutu, "Ditinggal mulu gue. Jutek banget jadi cewek. Gue pikir orangnya care, ternyata jutek parah. Hhh! Untung cantik. Kalau jelek, udah gue tinggalin."
"Yaudah, kita putus."
Rio terkejut. Ia tidak menduga, ternyata Delika mendengar semua ucapannya. Rio menelan salivanya saat ia bertatapan dengan Delika. "Kamu salah denger, Sayang."
"Nggak usah manggil sayang," ucap Delika kesal. "Mulai detik ini, hubungan kita selesai dan jangan pernah lo ganggu kehidupan gue. Untungnya telinga gue masih sehat, jadi gue bisa tahu sifat asli lo yang sebenernya. Bye!"
"Sayang, tunggu!"
Rio memukul kepalanya karena sudah bertindak bodoh. Harusnya ia tidak mengatakan hal itu. "b**o banget sih gue! Gagal kan rencana gue buat menangin taruhan! Sial banget sih!"
Sementara Delika terus berjalan melewati lorong kampus untuk menemui keenam sahabat baiknya yaitu Geby, Arya, Suci, Bella, Satria dan Gea di taman kampus. Hari ini, Rio benar-benar membuat Delika kesal. Tapi setidaknya Delika lega bisa lepas dari Rio.
"Kalau nggak serius, ngapain waktu itu dia nembak gue? Lebay lagi. Bete gue," gerutu Delika kesal.
"Wih! Temen kita yang paling cantik udah nongol guys!" seru Satria.
Kelima orang lainnya langsung menatap ke arah Delika dan mengernyit saat menyadari wajah kesal dari temannya itu.
"Kenapa muka lo, Del? Ditekuk mulu perasaan. Lo masih kesel sama Bu Dian?" tanya Bella.
Delika duduk di samping Suci, lalu menjawab pertanyaan Bella, "Gue lagi kesel banget sama Rio."
"Lah? Kenapa lagi sama tuh bocah?" sahut Arya dengan logat betawinya.
"Hhh! Tadi waktu gue mau jalan ke sini, Rio ngikutin gue. Terus gue denger dia ngedumel karena sikap gue yang jutek sama dia. Masa dia bilang, untung cantik, kalau jelek udah gue tinggal. Perkara gue ninggalin dia mulu. Kan kesel gue jadinya."
Gea yang sejak tadi sibuk memoles wajahnya dengan bedak padat pun langsung menoleh ke arah Delika. "Dia bilang gitu, Del?! Berani banget dia kayak gitu sama sahabat gue. Mau gue geplak aja tuh orang."
"Iya, bener tuh," sahut Geby yang juga tak terima dengan ucapan Rio pada Delika. "Mulutnya kudu dicocol saos cabe kali ya, biar nggak sembarangan ngomong tuh anak."
Suci yang memang terkenal lebih kalem dan penyabar dalam grup mereka pun hanya tersenyum melihat kelima temannya, kemudian merangkul pundak Delika yang memang duduk di samping kanannya. "Delika, lo harus jadi orang yang penyabar. Jangan kebawa suasana. Anggap aja ini cobaan buat lo. Tuhan udah tunjukin kelakuan asli si Rio. Itu artinya, lo emang harus ngejauh dari dia dan suatu saat, lo bakal dapetin yang lebih baik lagi. Tapi, lo kudu sabar. Oke?"
"Bener tuh kata Suci, Del. Kalau lo butuh sandaran, gue udah nyediain bahu gue buat lo," sahut Satria sambil menepuk bahunya sendiri dengan alis yang naik-turun untuk menggoda Delika.
"Najis!" seru Arya, Geby, Bella dan Suci secara bersamaan.
"Najis!" sahut Gea yang terlambat menyoraki Satria karena sibuk mengurusi riasan di wajahnya agar tidak luntur.
"Telat!" kata Arya kesal.
Delika yang melihat tingkah konyol keenam sahabatnya itupun hanya bisa tertawa, terutama melihat wajah cemberut Gea karena tidak suka dengan seruan Arya. Seketika, amarahnya mereda setelah dihibur oleh sahabat baiknya itu. Bagi Delika, keenam sahabatnya adalah teman paling berharga di hidupnya, selain keluarga.
"Oh iya, lo kok naik bus ke kampus? Tumben-tumbenan. Biasanya Om Dehan nggak pernah ngasih izin lo buat pergi sendiri," ujar Bella heran.
"Lo juga nggak fokus tadi selama pelajaran. Sampe dikeluarin loh," tambah Geby. "Padahal lo itu paling rajin dengerin Bu Dian. Ada masalah di rumah?"
Terdengar decakan berulang dari seorang oknum bernama Satria. Ia melipat kedua tangannya di bawah d**a. "Dia itu lagi mikirin gue dari tadi. Makanya dia ngelamun mulu. Yakan, Del?"
"Ueeekk!" Seketika Delika mual sambil menatap Satria. "Pede-an lo! Mual gue dengernya," ucapnya.
Kelima teman lainnya langsung tertawa mendengar ucapan Delika. Sedangkan Satria meringis malu sambil mengelus tengkuk lehernya setelah mendapat penolakan tegas dari Delika. Dan fyi, Satria memang menaruh hati pada Delika, namun pria itu tetap mengutamakan persahabatan dan menyingkirkan perasaannya agar tetap menjaga hubungan baiknya dengan Delika. Jika Satria menggoda Delika dengan kata-kata manis, itu semua bertujuan untuk menghibur Delika saat wanita itu merasa kesal pada seseorang.
"Tadi tuh gue terpaksa naik bus, karena Papa nggak bangun-bangun. Capek gue banguni Papa. Jadi, gue mutusin buat naik bus sendirian deh," lanjut Delika menjelaskan. "Soal gue ngelamun, tadi gue emang mikirin seseorang. Makanya gue nggak fokus."
Suci mengernyit. "Emangnya lo mikirin siapa? Satria?"
"Dih! Najis!" ucap Delika merinding. Sementara Satria hanya terkekeh mendengarnya. "Di bus, gue ketemu sama om-om. Dia duduk di sebelah gue. Tapi, gue kayak ngerasa pernah ketemu sama tuh orang."
Gea menghentikan aktifitas rias-meriasnya, lalu bertanya, "Om-nya ganteng gak, Del? Kalau ganteng, gue mau dong dikenalin. Pas banget gue lagi jomblo."
"Hhh!" Helaan napas panjang terdengar dari Arya yang memang terkenal ceplas-ceplos jika berbicara dan tidak suka dengan ke-alay-an. "Soal cowok gercep. Tapi kalau soal lain, lemotnya luar biasa," ucapnya.
"Halah, bilang aja lo iri sama gue! Lo kan jomblo karatan!"
"Bodoamat. Yang penting gue happy, nggak kayak lo," balas Arya tak mau kalah dengan Gea.
Fyi, Arya dan Gea memang sering berdebat dalam hal apapun. Terkadang, perdebatan mereka membuat teman lainnya merasa lelah dan hanya bisa diam. Tapi, keduanya tetap saling peduli jika salah satu dari mereka mengalami masalah.
"Udah deh, sama-sama jomblo aja berantem. Heran gue," sahut Bella agar Arya dan Gea menghentikan perdebatan mereka.
"Bener tuh," tambah Geby yang membenarkan ucapan Bella. "Lagian lo berdua berantem mulu deh. Masalah sepele pun bisa buat lo berantem. Entar jodoh, baru tahu rasa lo berdua. Capek gue dengernya."
"OGAH!" seru Arya dan Gea bersamaan.
Suci terkekeh. "Ciye, kompakan nih ceritanya."
Arya dan Gea saling memalingkan wajah ke arah berlawanan. Sedangkan yang lainnya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Btw, lo kok bisa mikir pernah kenal sama tuh om-om, Del?" tanya Suci kemudian.
Delika menaikkan kedua bahunya. "Gue juga nggak ngerti sih kenapa bisa gue mikir kayak gitu. Mungkin cuma perasaan gue aja kali ya. Udah ah, males mikirin tuh om-om. Sekarang gue mikirin tugas dari Bu Dian tadi. Entar bantuin gue ya."
"Siap, Del!" jawab Suci.
"Gue juga bisa bantuin lo, Del," sahut Satria.
Delika menatap Satria. "Bantu doa?"
"Iya," jawab Satria dengan cengirannya. "Yakan bantuin juga namanya."
"Kebiasaan lo ya. Entar ada tugas, nggak bakal gue ajarin lagi," gerutu Delika.
"Yah, jangan gitu dong."
"Bodoamat."
Satria terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Delika pun mendengus dan beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan beriringan dengan Suci. Sementara Arya, Geby, Bella dan Gea mengikuti dua temannya dari belakang. Tinggallah Satria sendiri di sana.
"Lah? Kok gue ditinggalin sih," gumam Satria lalu bangkit berdiri sambil mengejar yang lainnya. "Woi, tungguin gue!"
"Buru!" teriak Arya.
To be continue~