Puji Tuhan hebatnya Fiki melewati masa kritisnya, pagi itu dia dipindahkan ke bangsal perawatan inap. Tidak disangka Icha sampai menginap di rumah sakit karena ia memaksa tidak mau pulang. Begitu Fiki dipindahkan Icha mengikutinya.
Fiki membuka matanya sayup-sayup, selang penyedot yang dimasukkan lewat hidung itu masih menempel karena dokter masih memonitor agar lambung Fiki benar-benar bersih dan tidak ada pendarahan lagi.
Fiki hanya diinfus saja dan tidak boleh makan atau pun minum.
* * *
[Fiki]
“Fiki… aku di sini.” kata Icha sambil menggenggam tanganku.
“Icha, koq kamu di sini? Aku di mana?”
“Kamu di rumah sakit.”
“Aku kenapa?”
“Ah, udah ceritanya panjang.” kata Icha.
“Hm, aku dipukulin kan sama Johan.” kataku.
“Udah nggak usah dipikirin, yang penting kamu sembuh dulu.” kata Icha.
“Icha… kamu temenin aku?”
Icha mengangguk dan menempelkan tangannya di pipiku.
“Emang nggak boleh?”
“Icha… makasih…” aku tersenyum kecil, tapi rasanya seluruh tubuhku masih sakit, terutama bagian dalam di perutku. Ditambah lagi ada selang di hidungku yang terasa masuk sampai kerongkonganku, sungguh tidak nyaman. Belum lagi jarum infus yang menempel di tanganku, aku kan takut jarum, tapi sekarang ada jarum bersemayam di balik kulitku menusuk pembuluh darahku.
* * *
[Orang Tua Fiki (Pak Adit), Orang Tua Johan (Pak Rudi) dan Pak Kepsek Fahmi]
“Pak, saya Rudi papanya Johan… sebelumnya saya yang pertama kali minta maaf untuk semua kejadian ini.”
“Ini nggak bisa nih dibiarkan, pokoknya saya tuntut kamu karena kelakuan anak kamu dan juga pihak sekolah yang sampai membiarkan hal ini terjadi.” kata papanya Fiki kepada papanya Johan dan pak Kepsek Fahmi. “Saya akan tuntut kepada pihak kepolisian atas tindak penganiayaan.”
“Mohon sabar pak Adit, kita semua di sini mencari solusi dan jalan tengah yang terbaik.” kata Pak Kepsek Fahmi.
“Jalan terbaik apanya? Sekarang anak saya masuk rumah sakit, dirawat dan kritis, gara-gara anak yang kelakuannya kayak preman.”
“Pak Adit… maaf… pak saya yakin ini kecelakaan, ini kenakalan remaja.” kata pak Rudi papanya Johan.
“Pokoknya saya tuntut sekolah ini dan juga kamu Rudi.” kata pak Adit.
“Sabar… sabar… begini… saya mau menawarkan solusi terbaik. Pertama untuk bapak Adit dan keluarga ya. Semua biaya perawatan Fiki biar saya yang tanggung, sekarang juga saya sudah pindahkan dia ke bangsal perawatan VVIP, dia akan mendapat perawatan terbaik di rumah sakit pokoknya sampai dia benar-benar sembuh. Kemudian untuk pihak sekolah, saya mohon Johan tidak perlu di-skors, tapi kalau mau skors enam orang temannya itu silahkan saja. Untuk anak saya biar saya yang tanggung jawab, saya lah bapaknya yang akan memberinya pelajaran, pokoknya itu tanggung jawab saya.” kata papanya Johan.
“Oh iya pak Kepsek, kebetulan sebagai ketua Komite Orang Tua Siswa tentu saja juga harus menjaga nama baik kita semua dan juga sekolah ini, saya akan tuntaskan janji saya untuk memperbaiki kolam renang sekolah dan lapangan volley, juga sumbangan yang saya janjikan untuk memperbaiki gedung D yang lama terbengkalai itu supaya bisa jadi yaaa mungkin auditorium, atau gedung serbaguna sementara sekolah ini belum perlu tambahan kelas. Bagaimana pak?”
“Ya, kamu bisa suap saya dengan memberikan perawatan terbaik di rumah sakit, tapi tetap saja hal itu tidak menghapus apa yang sudah anak kamu lakukan terhadap anak saya.” kata pak Adit.
“Pak Adit, saya mengerti betul perasaan bapak sebagai orang tua, saya pun mengalaminya dari sisi saya, jujur saja ini semua mengejutkan. Tapi izinkan saya beritikad baik, saya kompensasikan biaya sekolah Fiki.” kata pak Rudi.
“Pak, saya mohon, sesama orang tua, kita tidak mau mendidik anak kita jadi kriminal kan? Ini murni kenakalan remaja, biar saya yang tanggung jawab, tapi jangan ada keterlibatan polisi di sini, kasihan nama baik sekolah juga kan. Mari kita sama-sama berkepala dingin di sini.” kata pak Rudi.
“Iya benar pak Adit, saya mohon juga dari pihak sekolah, maafkan kelalaian kami kali ini, masalah biaya sekolah tidak perlu dari pak Rudi, saya selaku kepsek biar itu yang jadi tanggung jawab saya. Biar saya yang atur, setidaknya itu yang terbaik yang bisa saya lakukan.” kata pak Fahmi.
“Tapi siapa yang bisa menjamin hal ini tidak akan terulang lagi?” kata pak Adit.
“Saya pasti akan bertanggung jawab membina anak saya dan saya harap sih tidak ada lagi kejadian serupa.” kata pak Rudi.
“Saya pribadi akan menjamin saya akan menjaga kelakuan murid-murid lebih baik lagi.” kata pak Fahmi.
Akhirnya entah bagaimana pak Adit pun mengalah, karena menghargai upaya orang tua Johan untuk memperbaiki keadaan yang mana nasi sudah terlanjur menjadi bubur.
* * *
Akhirnya laporan polisi dibatalkan dan papanya Fiki setuju dengan semua penawaran dan kompensasi yang diberikan.
Pada akhirnya toh sepertinya segalanya bisa diselesaikan dengan uang.