“Maksudnya cucu, Eyang ....” tanyaku terputus. Kedua alisku ditautkan ketika eyang ucap seperti itu. Kemudian, ia mendekatiku, lalu duduk di sebelah dan merangkul layaknya teman. “Iya, Eyang sudah tahu semua, kamu itu cucu saya yang asli, iya kan?” tanyanya balik. Kutengok ke arah Mas Irfan yang terlihat sedih, ia mundur perlahan dari kami. Aku juga tidak habis pikir, perbuatan papa sebenarnya sangat menyakitkan. Mas Irfan pasti sangat minder ketika ia tahu bahwa Mas Irfan hanya orang asing. “Eyang, Eyang tahu dari mana?” tanyaku menyelidik. Papa pun turut mendekati, sepertinya ia ingin tahu juga. Kemudian, eyang memanggil seseorang dengan teriakan. “Dody!” teriaknya. Tidak lama kemudian muncul seorang lelaki memakai jaket biru celana jeans dan menggunakan topi. “Loh, ini kan yang se

