Christa masih tak mampu mengontrol tangisannya, sedari Geo pergi tadi pagi untuk berangkat ke kantor, ia sudah menangis karena telepon dari kakaknya.
Agam tadi pagi menelponnya hanya untuk meminta uang. Lelaki yang begitu disayanginya malah memanfaatkannya untuk menjadi pusat uang pria itu. Begitu acara pernikahannya selesai kemarin, sehari setelahnya, Agam dan Linara langsung meninggalkan Christa tanpa pesan, seolah sedang melarikan diri sehingga Christa tak bisa melihat mereka sebelum pindah ke luar negeri.
Setelah menjualnya pada Geo dengan bayaran yang mahal, namun Agam masih tetap saja mengganggu hidupnya. Menyuruhnya untuk menguras kekayaan Geo. Apa sebenarnya yang pria itu pikirkan hingga berubah dalam hitungan waktu. Christa bahkan tak menyangka kalau kakaknya bisa setega dan sekejam itu padanya, padahal selama ini, Christa selalu menganggap kakaknya sosok malaikat yang telah menanggungjawabinya dengan sangat baik.
Flashback On
Pagi ini Christa sedang mencuci piring setelah kepergian Geo tadi menuju kantor. Ia bersenandung kecil sampai suara dering telpon membuat aktivitasnya terhenti. Melihat nomor asing masuk dalam panggilannya, akhirnya membuat Christa yang penasaran mengenai siapa yang menelpon akhirnya memutuskan mengangkat panggilan itu.
"Halo Ta"
Christa meneguk ludahnya saat mendengar suara kakaknya, karena hanya Agam yang memanggilnya dengan sebutan Ta, selain Geo khususnya.
"Ha-ha-lo" jawabnya, berharap tak ada lagi keburukan yang pria itu timbulkan untuk mempersulitnya.
"Gimana pernikahan kamu sama Geo? Lancar sampai sejauh ini?" tanya pria itu.
"Iya kak" jawab Christa dengan anggukan kecil.
"Bagus deh. Kalau gitu, gue kan jadi bisa minta uang sama lo" ujarnya tanpa malu dan itu membuat kekesalan Cchrista ada sang kakak semakin bertambah.
"Maksud kakak apa?" tanyanya dengan suara yang cukup tegas dan menunjukkan adanya nada marah dalam suaranya.
"Ya itu, lo bilang sama Geo supaya ngirim duit, soalnya gue butuh banget" kekeh Agam tanpa sadar berhasil membuat lautan kekecewaan yang membekas sangat dalam di hati Christa.
"Kak, gue sama Mas Geo baru nikah" lirihnya.
"Yaudah sih, gak apa-apa. Yang penting kan dia suami lo, jadi lo berhak minta uang sama dia"
"Maaf kak, gue sibuk"
"Kalau lo ngga kirim uang, gue ngga akan anggep lo keluarga lagi" nacam Agam.
Christa menahan kekesalan dalam hatinya, namun ia tak bisa hingga akhirnya ia melampiaskan marahnya pada pria itu "Lo memang udah nggak nganggep gue adik lagi, jadi jangan pernah lo bersikap seolah lo itu emang nganggep Christa Ziecola sebagai adik. Gue juga nggak masalah hidup tanpa kakak lagi" desisnya lalu memutuskan panggilan telpon begitu saja.
Ia benci pada Agam yang telah menelantarkannya dan kini malah mengusiknya dengan alasan uang. Entah sejak kapan pria itu jadi sebrengsek ini. Yang ia kenal, Agam adalah pria yang paling menyayanginya dan selalu peduli padanya, tapi kini justru berbanding terbalik dari segala penilaiannya. Christa tak lagi memahami kakaknya.
Flasback Off
Christa merutuki takdir hidupnya yang begitu miris dan menyedihkan. Sebelumnya, ia tak pernah menduga bahwa orang yang paling disayanginya, menjualnya hanya demi setomplok uang. Christa menghapus air matanya yang membasahi pipi dan menciptakan lelautan diwajahnya. Dilihatnya jam menunjukkan angka 5 sore, jam yang kemungkinan akan menunjukkan kepulangan Geo.
Dengan gerakan cepat dia membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower. Rintik air yang menusuk kulitnya begitu menyejukan sekaligus meredakan pilunya. Dia merasa damai saat dilanda kesedihan harus meredamnya dengan cucuran air. Hanya itu yang bisa menyamarkan kesedihan dan air matanya. Beberapa menit berlalu, Christa sudah selesai mengenakan piamanya. Rambutnya yang tadinya berantakan sudah terjepit rapi dengan ikat rambutnya.
Ia menghampiri dapur apartemen suaminya dan melihat bahan apa yang bisa dimasaknya untuk makan malam mereka. Ternyata tak ada satupun yang bisa menjadi paduan yang pas untuk disajikannya. Christa menghela nafas dan akhirnya memilih pergi ke super market untuk melengkapi isi kulkasnya.
***
Setibanya di apartemen dengan beberapa kantong kresek di tangannya, hasil belanjaannya di Super Market terdekat, ia terlonjak kaget melihat Geo duduk di sofa, kini sedang menatap ke arahnya.
Christa menunduk dan menghampiri Geo "A..aku ta..di pergi ke Super Market" ujarnya gugup dan takut. Ia takut Geo menganggapnya berniat kabur. Walau bagaimanapun juga, pria itu sepertinya telah banyak mengeluarkan duit untuk memilikinya.
"Kenapa nggak tunggu aku aja, kan bisa aku anterin" tanya pria itu sambil menatap kantongan Christa.
"Udah mau jam makan malam, aku ngga mau terlambat masak" jawab Christa ragu.
"Yaudah gih, aku mandi dulu" ujar Geo pada akhirnya.
Pria itu meninggalkan Christa setelah mengecup kening wanita itu hingga ia membeku di tempatnya dan kakinya terasa lemas hanya untuk menopang tubuhnya.
"Jangan berbuat baik, aku takut jatuh cinta" lirih Christa. Ia adalah perempuan lemah yang mudah menyukai bila diperlakukan special seperti itu. perlakuan lembut Geo bisa saja menimbulkan harapan lebih dalam hatinya.
Gadis itu memulai kegiatan menyiapkan makan malamnya, berkutat dengan sayuran berbagai macam yang akan di ubahnya menjadi sup ala Christa. Ia merasa beruntung karena dulu ia tertarik dengan kegiatan memasak dan ternyata kemampuannya sekarang sangat bagus dan bermanfaat untuk statusnya sebagai seorang istri.
Beberapa menit tak terbuang sia sia, Christa sudah selesai menyajikan makan malam di atas meja makan yang begitu minimalis. Dengan langkah pasti, ia memasuki kamar, dan dilihatnya Geo malah terbaring di atas tempat tidur dengan pulasnya. Sepatunya bahkan belum terlepas dari kaki Geo dan itu membuatnya cukup prihatin karena pria itu pasti kelelahan.
Christa menyentuh sepatu Geo perlahan lantas membukanya sekaligus dengan kaos kaki hitam yang dikenakan Geo. Setelah menyimpannya ke rak sepatu, Christa kini dengan sedikit berani mengguncang tubuh Geo.
"Mas"
"Engh" Geo melenguh, matanya sedikit terbuka. Di dapatinya Christa dengan wajah tertunduk, sedang berdiri di depannya. Ia mengucek matanya pelan dan menatap menatap Christa.
"Ada apa?"
"Ka..kamu nggak mandi dulu? Nanti kemaleman" ujar Christa mengingatkan.
Geo berdehem dan mengangguk. Tadi niatnya, dia hanya ingin merebahkan tubuhnya sebentar saja karena terasa begitu lelah dalam perkerjaan hari ini, tapi ternyata malah menghantarkannya kea lam bawah sadar yang membuatnya terlelap.
Christa menyimpan tas kerja Geo ke atas meja kerjanya yang ada di dalam kamar mereka. Setelah itu ia membuka lemari dan mengambilkan sepasang pakaian untuk Geo.
Beberapa menit di dalam kamar mandi, Geo keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia tersenyum melihat sudah tersedia pakaian yang akan di kenakannya. Seminggu sudah bersama Christa, ia sudah merasakan hal yang baru dalam hidupnya.
Ada yang menyiapkannya sarapan, baju bahkan segelas air putih. Dan yang dirasanya berbeda lagi, ada yang menyambutnya sepulang kantor, padahal selama ini ia selalu sendirian dalam apartemennya. Tanpa ia minta, Christa akan langsung melayaninya dengan baik. Gadis itu tampak sangat telaten dan cekatan.
Meskipun belum melakukan hubungan suami istri dengan Christa, tapi Geo seakan tidak merindukan kehangatan itu dari wanita club yang biasanya membuatnya b*******h. Ia memang tak sampai melakukan hubungan intim, namun hal-hal yang mendekati itu, ia sudah pernah melakukannya.
Ia seakan memiliki komitmen saat ini bahwa dirinya hanya untuk satu wanita dan memiliki satu wanita. Hanya istri saja.
Geo menghampiri Christa yang sudah duduk lebih dulu di meja makan. Dalam dia ia menyantap makanan yang telah disiapkan istrinya dengan lahap, sesekali memandangi Christa yang diam dan canggung. Aktivitas makan mereka diisi dengan keheningan, sehingga hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar sedikit ribut dan mengisi ruangan.
"Ta, tadi kamu nangis ya?" tanya Geo saat memperhatikan wajah Christa dari dekat dan melihat mata wanita itu sedikit lebih besar dari biasanya. Christa sedikit terkejut mendengar panggilan yang dilayangkan Geon padanya terdengar sangat akrab, namun ia tak mengkomentari hal itu sama sekali. Toh, Geo juga sudah beberapa kali memanggilnya dengan sebutan Ta. Hanya saja, kini mendengar panggilan itu terdengar cukup menyakitkan hatinya karena teringat perbuatan Agam.
Christa tersenyum seraya menggeleng kecil, tidak ingin Geo tau jika tadi kakaknya meminta uang padanya "Aku cuma kangen sama Mama" ujarnya beralibi.
"Yaudah, besok kita ke makam Mama ya?" tawar Geo. Christa mengangguk singkat.
Setelah selesai makan malam dan juga membereskan meja makan, Christa ke kamar menghampiri Geo yang sedang mengetik sesuatu di laptop canggihnya. Geo yang menyadari kehadiran Christa, segera menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas samping ranjang. Berdeham sejenak sambil mendekat ke tubuh Christa.
"Ta, kemarin kan kita belum ngelakuin itu, boleh nggak kalau aku minta sekarang?" goda Geo.
Christa menelan salivanya yang terasa tertahan di tenggorokannya. Setelah menghela nafas, ia menatap Geo takut takut lantas mengangguk pasrah. Tak mungkin juga ia menggelengkan kepala dan menolak permintaan Geo padahal itu adalah hak pria itu dan kewajiban baginya untuk melayani suaminya.
"Liat aku" ujar Geo pelan. Christa menatap Geo sebentar kemudian menutup matanya.
Geo menghela nafas pelan "Kamu belum siap? Kalau belum, aku nggak akan maksa" ujar pria itu mencoba mengerti.
Christa menggeleng cepat "Enggak kok, aku siap. Itu hak kamu" apalagi kamu udah bayar sama kakak aku. Batinnya dalam hati.
Geo tersenyum singkat "Aku tunggu kamu siap aja" ujarnya membuat Christa tersentuh akan kata-kata lembut suaminya.
"Aku siap Mas" ujarnya yakin.
Geo menangkup wajah Christa dengan lembut, ditatapnya mata indah yang menariknya itu. Kepalanya mendekat kala tangannya sudah berpindah ke tengkuk Christa. Meski ragu, namun Christa menutup matanya perlahan ketika wajah Geo semakin mendekat dengan wajahnya bahkan embusan nafas mereka sudah saling mereka rasakan satu sama lain.
Cup
Geo melumat bibir Christa dengan penuh kelembutan, tampak dari Christa sendiri yang terbuai dalam cekaman lumatan Geo. Sedikit demi sedikit ia mulai membalas lumatan lembut penuh sensasi itu sebisanya.
Geo membaringkan istrinya diatas ranjang dengan sangat lembut, terlihat tidak ingin menyakiti sedikitpun. Sedikit memposisikan tubuhnya tertahan di atas tubuh Christa yang memejamkan mata dengan nafas kencang tak teratur.
Dengan gerakan lembut teratur dan penuh pengertian, Geo melancarkan aksinya membuai istrinya dalam kehangatan yang pada akhirnya membuat Christa menjadi istri yang sesungguhnya.
***
Christa tersentak kaget ketika melihat jam di atas nakas menunjukkan jarum panjang di angka 5 sedangkan jarum pendek diangka 7. Ia segera bangun dari tidurnya, dengan gerakan tertatih karena nyeri di bagian intinya, dia menuju dapur. Di lihatnya Geo sedang menyiapkan roti panggang.
"Em, Mas maaf aku terlambat bangun" ujarnya penuh rasa bersalah.
Geo menoleh sejenak ke arah istrinya "Iya, nggak apa-apa, aku maklum kok. Kamu mandi sana" titah Geo memerintah.
Christa menggeleng "Tapi seharusnya yang masak aku"
"Udah, nggak apa-apa Ta"
Geo mematikan kompor yang tadi ia gunakan memanggang roti untuknya dan Christa. Ia menatap Christa yang terlihat masih kucel dan sedikit berantakan.
"Masih sakit?" tanya Geo lembut.
"Sedikit" jawab Christa ragu. Ia mencoba membuat Geo tak khawatir padanya.
"Maaf ya kalau semalam aku kasar"
Christa menggelengkan kepalanya "Enggak kok"
"Yaudah, mandi dulu gih. Aku mau beresin tempat tidur"
"Em..aku aja, nanti aku yang beresin"
"Udah, kamu mandi aja" ujar Geo mendorong kecil tubuh Christa ke dalam kamar mandi.