"Aku bukanlah orang hebat yang mengukir sejarah, namun inilah kisah ku dan inilah aku yang apa ada nya"
***
Manusia di dunia ini terbagi menjadi tiga golongan. Tiap golongan di tentukan berdasarkan cara tumbuh dan lingkungan tempat dia berkembang. Tiga golongan ini adalah manusia bahagia, netral, dan putus asa. Pembagian golongan manusia ini terjadi ketika manusia berumur tujuh belas tahun, dimana usia itu merupakan usia yang menjadi batas kedewasaan seseorang.
Namaku adalah Andreas Syahreza. Orang-orang biasa memanggil ku An. Sebenarnya aku bukanlah manusia hebat. Aku hanyalah anak panti yang di buang oleh orang tua ku dahulu. Lingkungan tempat tinggal ku tidak bisa di bilang menyenangkan karena aku termasuk anak yang tertutup. Banyak anak-anak panti yang memusuhi ku karena kata mereka, aku adalah anak yang aneh dan terkutuk. Siapa pun yang mendekati ku, maka akan mendapatkan kesialan karena aku biasanya akan memimpikan orang yang bersentuhan dengan ku dan mimpi ku akan menjadi kenyataan.
Aku mempunyai sebuah kelebihan dimana setiap aku menyentuh seseorang atau mempunyai hubungan cukup intens dengan mereka, maka aku akan memimpikan orang tersebut dan mimpi ku akan menjadi kenyataan. Tapi entah mengapa aku lebih sering bermimpi tentang nasib buruk seseorang yang akan menimpa nya dibandingkan dengan nasib baik. Alasan mereka menjauhi ku sebenarnya adalah karena hal itu. Sejujur nya aku sangat merasa kesepian. Di usia ku yang masih muda ini, aku membutuhkan teman untuk bicara atau pun seseorang yang bisa membimbing ku. Namun seperti nya itu hanyalah harapan hampa ku semata karena sekeras apa pun aku berusaha, hal itu takkan pernah terwujud karena kelebihan yang terjadi pada ku ini sudah tersebar kemana-mana. Orang-orang yang melihat ku biasa nya akan langsung takut atau menghindari ku.
Jangankan orang lain yang baru mengenal ku. Ibu panti yang seharusnya menjadi penuntun ku ketika aku masih kecil seperti ini pun takut padaku. Setiap kali ia berhadapan dengan ku, tatapan yang ia tunjukkan tidak lebih dari sekedar tatapan jijik atau pun tatapan takut. Bahkan ketika hendak memberikan makanan kepada ku, ia menyuruh ku menjauh terlebih dahulu dengan tatapan takut nya. Terkadang juga ketika dia tidak tahan terhadap ku, makanan yang dibawa nya dilempar dan aku makan nasi yang sudah berceceran itu. Alasan ia tidak mengusir ku adalah karena peringatan dari donatur panti yang mempunyai prinsip tidak akan membuang anak panti apa pun yang terjadi pada mereka. Sebenarnya yang memiliki kelebihan di panti ini tidak hanya aku saja. Ada beberapa anak panti yang mempunyai kelebihan seperti bisa melihat masa depan, bisa menyembuhkan orang-orang yang di sentuh nya, dan bisa memberikan nasib baik kepada siapa pun yang berbicara dengan nya. Mereka semua memiliki kelebihan dimana membawa seseorang pada keberuntungan. Sementara aku? Aku hanyalah seorang anak dengan kelebihan yang cenderung memimpikan nasib buruk seseorang di bandingkan nasib baik seseorang.
Terkadang di setiap malam aku bertanya-tanya kepada bintang malam dan juga Tuhan. Apakah aku salah terlahir seperti ini? Apakah ini juga yang menjadi alasan di balik terbuang nya aku di panti ini? Aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, namun perlakuan orang-orang terhadap ku seolah aku adalah penjahat kelas kakap yang patut di takuti dan di pandang rendah. Terkadang pula aku sampai berpikir, apakah nanti nya aku akan menjadi manusia yang putus asa dan akan berakhir di Mortem Obire dan Agraria Land? Aku masih tidak ingin menjadi manusia yang putus asa. Cita-cita ku satu-satu nya adalah menjadi manusia bahagia dan merasakan kebahagiaan bersama dengan jiwa-jiwa bahagia di Talfathar Land. Namun melihat keadaan ku yang sekarang ini, seperti nya jalan yang harus ku lalui cukup terjal untuk bisa mencapai kebahagiaan itu.
Kehidupan yang ku jalani cukup menyedihkan sampai usia ku mencapai dua belas tahun. Di caci dan di hina rasanya sudah biasa bagi ku dan menjadi makanan sehari-hari. Ya, semua itu sudah menjadi kebiasaan bagi ku. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang membuat ku menenggelamkan semua kesialan dan nasib buruk yang menimpaku dan menjadikan kelebihan ku sebagai sesuatu yang patut aku hargai keberadaan nya. Seseorang yang merubah hidup ku menjadi lebih baik dan membuat ku yakin bahwa kehadiran ku di dunia ini mempunyai tujuan nya tersendiri untuk membantu orang-orang yang putus asa menyelamatkan jiwa mereka supaya bisa tenang di Talfathar Land. Kisah inilah yang menjadi inti perjalanan ku hingga akhir nya nanti aku akan bertemu seseorang paling penting dalam hidup ku ke arah yang lebih baik dan menemukan tujuan hidup ku untuk menetap di dunia ini.
***
Seperti yang sudah-sudah, aku bermain di taman dekat panti sendirian. Aku sengaja memilih tempat terpencil dimana sepi orang yang lewat di jalanan yang ku pilih karena aku lelah menghadapi pandangan orang-orang yang dengan seenak nya menilai ku atau melihat ku dengan jijik maupun takut. Tanpa teman, aku bermain sendirian di taman itu. Entah berapa lama aku bermain seorang diri, hingga akhirnya sebuah kelereng ku meluncur bebas mengenai sepatu seseorang. Ketika aku hendak mengambil kelereng ku, tangan orang itu tanpa ragu mengambil kelereng ku dan menyerahkan nya kepada ku sambil tersenyum. Aku mundur beberapa langkah dan menatap nya dengan tatapan takut. Namun semakin aku mundur, dia semakin maju dan tetap mengulurkan kelereng yang tadi ku jatuhkan ke dekat kaki nya. Aku tetap mundur sambil menghela nafas. Ku tatap wajah nya yang tegas namun menyunggingkan senyum itu dengan takut-takut dan mencoba memperingati nya.
"Tuan, saya mohon supaya tuan tidak mendekat pada saya dan menjauh sebelum tuan terkena kutukan yang melekat pada saya," kalimat itu meluncur dari mulut ku dengan suara bergetar. Aku mencoba menatap wajah nya, dan dengan takut-takut aku menanti perubahan ekspresi di wajah nya. Biasa nya ketika aku sudah berkata seperti itu, wajah orang yang berhadapan dengan ku akan langsung berubah ekspresi menjadi takut atau jijik memandang ku. Sedetik, dua detik, entah berapa lama keheningan yang tercipta di antara kami, namun wajah orang itu tetap menatap ku dengan senyuman nya yang semakin lebar. Aku mengernyitkan dahi ku keheranan. Tumben saja ada orang yang tidak takut kepada ku dan malah tersenyum lebih lebar seperti itu kepada ku.
Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan ku. Tatapan mata nya menatap ku dengan seksama. Tanpa ragu, ia mengambil tangan kanan ku dan menyerahkan kelereng ku yang langsung saja membuat ku panik. Ku beranikan diri untuk sekali lagi menatap mata lelaki di depan ku, namun tatapan mata nya justru menatap ku dengan teduh dan tidak ada rasa takut sekali pun. Dengan ragu-ragu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada nya.
"Tuan, mengapa engkau tidak takut kepada saya? Padahal saya sudah mewanti-wanti pada mu sebelum nya bahwa saya adalah anak pembawa kutukan. Apakah sama sekali tidak ada rasa khawatir pada diri tuan untuk mendekat pada saya apalagi sampai menyentuh saya seperti barusan? Saya hanya khawatir tuan akan terkena kutukan jika bersentuhan dengan saya. Saya mohon maaf sekali pada tuan jika pada akhir nya nanti tuan akan terkena kutukan ketika mendekat kepada saya," kata ku dengan suara yang semakin bergetar. Lelaki di depan ku menatap ku dengan seksama sekali lagi. Setelah cukup lama ia memandang ku, ia kembali tersenyum dan kemudian mengelus kepala ku.
"Kamu adalah anak yang bisa melihat nasib buruk seseorang bukan lewat mimpi? Sebenarnya kamu bisa melihat nasib baik juga, namun kamu lebih sering melihat nasib buruk yang akan menimpa seseorang lewat mimpi. Anak yang sangat unik. Aku seperti nya jarang menemukan anak seperti kamu di dunia yang sudah ku jelajahi ini. Tidak, kamu tidak terkutuk, nak. Kamu ini istimewa dengan kelebihan yang kamu punya. Jangan pernah merasa kamu terkutuk karena kelebihan yang kamu punya adalah s*****a mu untuk maju dan menjadi lebih baik," balas lelaki di hadapan ku yang membuat hati ku sedikit tersanjung karena ucapan nya.
"Tapi, tuan. Dari mana anda tahu bahwa saya memiliki kelebihan seperti itu? Saya bahkan tidak pernah memberitahu anda bahwa saya memiliki kelebihan seperti itu. Apakah anda...?" ucapan ku terhenti ketika lelaki di depan ku tersenyum penuh misterius. Tanpa ia mengucapkan pun aku tahu bahwa dia memiliki kelebihan dimana dia bisa mengetahui kelebihan yang ada pada diri orang yang ditemui nya. Lelaki itu kemudian berdiri dan mengulurkan tangan nya kepada ku untuk bersalaman. Aku menatap uluran tangan nya dengan ragu dan menatap nya dengan takut-takut seperti sebelum nya.
"Kamu tidak perlu takut kepada ku. Mungkin kamu sering mendengar dari orang di sekeliling mu bahwa kamu adalah anak terkutuk. Namun tidak bagi ku. Kamu adalah anak yang spesial. Mari, jabat tangan ku dan berjanji bahwa besok kita akan bertemu lagi. Aku akan melakukan suatu perjalanan dan aku ingin kamu mengetahui nasib buruk atau pun mungkin nasib baik yang akan menimpa ku nanti di perjalanan. Besok aku akan memperkenalkan diri ku secara layak kepada mu dan dengan resmi akan ku ajak kamu ke organisasi ku supaya nanti nya kamu tidak akan menjadi manusia yang putus asa setelah lewat usia tujuh belas tahun. Jangan takut, aku tidak akan berbuat hal jahat kepada mu. Aku berjanji. Sekali lagi aku meminta mu untuk menjabat tangan ku, sebagai tanda perjanjian dimana kita besok akan bertemu kembali," ujar lelaki itu yang masih mengulurkan tangan nya kepada ku.
Aku kembali menatap uluran tangan lelaki itu yang terulur di hadapan ku. Entah mengapa mendengar ucapan nya barusan seolah memberi ku harapan akan hari cerah untuk tidak menjadi golongan manusia yang putus asa. Ku hela nafas singkat sebelum akhirnya aku membalas uluran tangan nya kepada ku. Perlahan, aku menatap nya sambil berusaha tersenyum. Lelaki itu menatap ku dengan seksama, kemudian ia tertawa kecil melihat ku yang mulai tersenyum kepada nya. Setelah menjabat tangan ku, ia izin pamit dan pergi meninggalkan ku sendirian yang masih terpaku menatap sosok nya yang menjauh.
***
Aku berada di sebuah tempat yang tidak ku ketahui. Di tempat itu, hanya terlihat kendaraan yang berlalu lalang. Aku mencoba berjalan ke sana dan kemari, namun tidak ada apa-apa. Setelah berkeliling dan aku tidak mendapatkan apa pun, aku mencoba duduk di sebuah batu dekat dengan terdekat. Beberapa saat kemudian, aku melihat sosok lelaki yang tadi ku temui lewat di hadapan ku. Ia ditemani oleh beberapa orang di belakang nya, mengikuti seperti ajudan yang patuh terhadap atasan nya. Dengan segera, aku mengikuti jejak langkah mereka dengan seksama. Pertama, mereka mengunjungi sebuah rumah dan pemilik rumah tersebut menyambut mereka dengan hangat sambil mengucapkan terimakasih atas bantuan nya. Aku bertanya-tanya, bantuan apakah gerangan yang telah diberikan oleh lelaki ini dan pengikut nya sehingga pemilik rumah yang mereka kunjungi memperlakukan mereka dengan istimewa bagai sosok penyelamat nyawa nya seperti ini?
Setelah mereka beramah tamah di rumah pertama, mereka segera beralih ke rumah kedua, dimana sama seperti rumah pertama, pemilik rumah tampak menyambut mereka dengan ramah dan mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa nya. Setelah mengunjungi dua rumah tersebut, lelaki itu bersama pengikut nya pergi berjalan kaki entah kemana. Tiba-tiba, terdapat sebuah daun yang jatuh di hadapan lelaki itu. Tanpa banyak basa-basi lagi, lelaki itu mengambil daun yang ada di hadapan nya dan muncullah sekelompok orang di sekeliling nya. Para pengikut lelaki itu dengan siaga melindungi lelaki itu dan bertarung dengan sengit. Beberapa di antara mereka gugur bersamaan dengan kelompok yang menghadang nya. Lelaki itu berjongkok dan tampak menyesal melihat pengikut nya yang gugur dalam pertempuran singkat itu. Ia mengusap tangan pengikut nya dan setetes air mata keluar dari pelupuk mata nya. Sekilas sebelum aku tertarik dari tempat itu, aku mendengar ucapan salah satu pengikut nya yang sangat ku ingat dalam benak ku.
"Tidak apa Pak Desmon. Gugur nya kita kali ini adalah untuk melindungi Pak Desmon. Dengan begini saja rasanya kami sudah bahagia karena bisa melindungi Pak Desmon sampai titik darah penghabisan. Lanjutkan saja perjalanan mu bersama teman-teman kami yang tersisa, pak, dan hati-hati untuk tidak memungut apa pun sembarangan lagi seperti sebelum nya,"
***
Aku berdiri di taman tempat kemarin aku bertemu dengan lelaki yang ternyata bernama Desmon itu. Sambil bermain kelereng supaya tidak bosan, aku menunggu Pak Desmon untuk tiba di hadapan ku. Sampai hari menjelang sore pun, ia tidak datang ke tempat ku. Sempat terbesit perasaan dimana ia hanya menipu ku dengan kata-kata manis nya dan mengingkari janji nya. Dengan lesu, aku bergegas pergi dari tempat itu dan membawa kelereng ku yang sejak tadi menemani ku menunggu Pak Desmon. Baru saja aku bergegas pergi, terdengar sebuah langkah mendekat dan ku lihat Pak Desmon berdiri dengan tegap di hadapan ku. Ia tersenyum melihat ku yang menunggu nya. Perlahan, ia mendekat pada ku dan kembali berjongkok di hadapan ku.
"Jadi, sebelum aku menanyakan kepada mu bagaimana mimpi mu, mari kita perkenalan diri dulu. Nama mu siapa anak muda? Supaya aku bisa mengenal mu dan enak memanggil nama kepada mu," ujar Pak Desmon kepada ku. Ia kembali mengulurkan tangan di hadapan ku. Aku menatap nya dengan tatapan yang tidak lagi takut. Sebalik nya, melihat kedatangan Pak Desmon membuat ku yakin bahwa mungkin inilah takdir ku untuk menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang-orang. Aku menerima uluran tangan nya dengan yakin sebelum akhirnya memperkenalkan diri ku.
"Nama saya Andreas Syahreza. Biasanya orang-orang memanggilku dengan nama An. Saya masih berumur dua belas tahun dan saat ini saya tinggal di Panti Asuhan Bertha Asih. Salam kenal, Pak Desmon," aku memperkenalkan diri dengan mantap dan dapat ku lihat sedikit ekspresi terkejut dari Pak Desmon. Mungkin karena aku mengetahui namanya sebelum ia sempat memperkenalkan diri. Pak Desmon tertawa kecil sebelum akhirnya giliran ia memperkenalkan diri.
"Sudah ku duga bahwa kamu akan mendengar nama ku di mimpi mu, An. Kamu memang anak yang istimewa. Biar ku perkenalkan ulang nama ku. Namaku adalah Aurelio Desmon. Aku berusia tiga puluh delapan tahun. Saat ini aku menjabat sebagai ketua di organisasi Convallaria Majalis," Pak Desmon kembali memperkenalkan diri nya kepada ku sambil tersenyum kecil. Aku balas tersenyum pada nya sebelum akhirnya ia mengajak ku ke sebuah tempat duduk di dekat kami.
"Jadi bagaimana perjalanan ku nanti nya? Apakah kamu melihat sesuatu buruk yang terjadi pada ku nanti nya?" tanya Pak Desmon. Aku mengangguk dan menatap nya dengan seksama.
"Untuk kunjungan Pak Desmon ke rumah Bu Veronica dan Bu Rika, tidak ada masalah sama sekali. Namun setelah itu, bapak akan menemui sebuah daun yang jatuh dengan sangat aneh di hadapan bapak. Saya sarankan, apa pun daun yang jatuh di hadapan bapak, jangan sekali-sekali bapak ambil karena daun itu adalah jebakan dari musuh bapak. Beberapa pengikut bapak juga tampak gugur karena pertempuran kecil dengan musuh bapak itu. Jadi berhati-hatilah supaya supaya nanti nya bapak tidak menyesal karena pengikut bapak gugur di sana," jelas ku kepada Pak Desmon. Ia mendengarkan ku dengan seksama, kemudian menatap ku dengan pandangan serius.
"Terimakasih karena telah memperingatkan ku atas daun itu, An. Beberapa waktu lalu, ada yang memang mengincar ku dengan cara serupa dan dengan bodoh nya, aku mengambil perangkap yang mereka pasang untuk ku. Terimakasih sekali lagi karena telah memperingatkan ku," ucap Pak Desmon sambil tersenyum.
"An, mungkin ini terdengar mendadak. Namun maukah kamu menjadi salah satu agen di Convallaria Majalis? Anak dengan bakat hebat seperti kamu rasa nya sayang sekali untuk di lewatkan. Apa itu Convallaria Majalis, nanti nya aku akan menjelaskan nya pada mu. Yang penting sekarang kamu mau mengikuti ku dan meninggalkan dunia mu yang selama ini selalu salah tanggap kepada mu. Kamu akan dilatih menjadi agen yang luar biasa dan akan menyelamatkan banyak orang seperti saat ini kamu yang menyelamatkan nyawa ku dan para pengikut ku di perjalanan ku nanti. Apakah kamu mau ikut dengan ku? Masalah pindah dari panti dan lain sebagai nya, biar aku yang mengurus semua nya. Asalkan kamu mau mengikuti ku ke Convallaria Majalis," Pak Desmon kini menatap ku dengan pandangan memohon. Aku terpana mendengar ucapan Pak Desmon, berpikir tentang langkah apa yang sebaik nya ku ambil untuk menjawab tawaran nya.