BAB 2 SENTUHAN YANG TAK BISA DILUPAKAN

296 Words
Lima menit. Itu waktu yang dibutuhkan Dion untuk sepenuhnya masuk ke dalam ruang pribadinya. Raya bukan tipe wanita yang mudah didekati. Tapi pria itu… ada sesuatu di caranya bicara, diam, bahkan menatap—semuanya terasa seperti permainan yang sudah dia kuasai. Mereka duduk berdua di pojok lounge yang lebih gelap. Di antara mereka hanya meja bundar kecil dan dua gelas wine. “Biasanya aku bisa membaca orang,” ucap Dion tiba-tiba. Matanya menyapu wajah Raya seperti sedang mempelajari peta rahasia. “Tapi kamu…” “Aku?” “Kamu berusaha menyembunyikan luka dengan cara terlalu tenang. Tapi tubuhmu... bicara lain.” Raya menatapnya lama. “Kamu suka memainkan kata-kata ya?” “Aku lebih suka memainkan emosi.” Dan saat itu juga tangannya bergerak pelan—jari-jarinya menyentuh punggung tangan Raya yang memegang gelas. Bukan sekadar sentuhan. Tapi penegasan. Terasa seperti panas listrik mengalir ke kulitnya. Raya menahan nafas. Ia bisa menarik tangannya kapan saja. Tapi ia tidak melakukannya. “Kenapa aku?” bisiknya. Dion mendekat, begitu dekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. “Karena kamu terlihat seperti seseorang yang butuh dikendalikan… dan aku suka memiliki apa yang tak bisa dimiliki orang lain.” “Dan kamu pikir aku bisa dikendalikan?” Senyumnya tipis. “Tidak. Tapi kamu ingin dicoba.” Raya memejamkan mata sesaat, mendengar kalimat itu berdengung di kepalanya. Ada rasa takut. Tapi lebih dari itu—ada rasa ingin tahu. Rasa berbahaya yang membuat tubuhnya seolah bergerak sendiri. Ketika dia membuka mata, Dion sudah berdiri. "Besok malam. Skybar di lantai 40." Lalu dia menunduk, membisikkan sesuatu ke telinganya. “Kalau kamu datang, kamu milikku.” Dan begitu saja, pria itu menghilang di balik bayangan, meninggalkan Raya sendiri… dengan detak jantung yang tak karuan dan satu pertanyaan membara di pikirannya: Apakah dia akan datang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD