Eps 1. Berangkat Kerja

1358 Words

Klik tanda lovenya dulu, yees!!!

**

“Ta, maaf … kita sudahi saja hubungan ini. Kurasa kita tak lagi memiliki kecocokan.”

Kedua mata bulat gadis cantik yang bernama Tata ini melebar dengan mulut yang mengaga. Buku majalah yang berisi macam-macam model kebaya itu pun lolos dari genggaman tangan Tata. “Gimana maksudnya, Mas?” tanyanya yang tentu tak percaya dengan apa yang tadi dikatakan oleh kekasihnya.

Rian, lelaki bertubuh atletis dengan rambut lurus yang sedikit panjang. Terlihat sangat gagah dengan seragam warna khaki khas seorang aparatur sipil negara. Dia terlihat menghela nafas panjang. Tatapan tak tega sangat jelas dikedua mata itu.

“Maaf ….”ucapnya lagi, lalu membuka tas yang melingkar di tubuh. Menarik lembaran kertas dari sana. “Satu bulan lagi, aku akan menikah.” Lanjutnya sembari mengulurkan kertas undangan berwarna merah maroon yang terlapisi plastik bening.

Wajah cantik Tata terlihat linglung dan cengo. Diam saja ketika Rian meraih tangannya dan memaksanya untuk menerima kertas undangan itu. Bahkan kedua mata bulatnya sampai tak berkedip karna belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang sedang dia alami sekarang.

“Aku nggak nyuruh kamu datang, Ta. Tapi setidaknya aku berbaik hati untuk tidak meninggalkanmu tanpa sebab. Aku nggak khianati kamu. Aku tetap setia selama tujuh tahun ini. Hanya saja … kurasa kecocokan kita tak lagi sama. Jadi … maafkan aku, Ta.” Rian menepuk bahu Tata pelan untuk mengucapkan perpisahan sebelum akhirnya dia kembali menaiki motor. Lalu melajukan motor itu, meninggalkan Tata yang masih mematung di samping gedung kantor Rian bekerja.

**

Arsita Yuliana, wanita berusia 25 tahun yang masih berstatus single, dia biasa dipanggil dengan nama Tata. Wajahnya berbentuk oval dan baby face, bahkan badannya yang ramping masih sangat cocok menggunakan seragan SMA. Patah hati ditinggalkan kekasih saat rasa sayang dan cintanya sedang mekar, sakitnya itu luar biasa. Seperti luka gores yang dengan sengaja ditaburi micin; perih dan mengharuskan mulut berteriak untuk bisa melampiaskan rasanya. Tata masih menyendiri dan begitu menjaga jarak dari lelaki semenjak dua tahun terakhir.

Hari ini adalah hari sabtu. Tata seorang buruh pabrik yang masuk selama enam hari kerja, jadi pagi ini dia sudah rapi dengan seragam batiknya. Menutup kotak makan yang sudah terisi penuh dengan nasi dan lauk, lalu memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

“Bu, aku berangkat ya,” teriaknya, karena sang ibu sedang ada di belakang rumah; menjahit baju.

“Iya, hati-hati. Nggak usah ngebut. Jangan lupa nanti pulangnya beliin benang warna pink!” balas Bu Ratih dengan berteriak juga.

Tak menjawab, Tata hanya mengangguk saja. Segera keluar rumah dan naik ke atas motor. Memasang helm dan sarung tangan untuk perlindungan diri sendiri. Lalu melajukan motor pelan meninggalkan halaman rumah.

Sampai di pertigaan gang, Tata melambatkan laju motor. Karena di depannya ada mobil pick up yang membawa sayur-sayuran. Jalan yang tidak terlalu lebar, membuatnya harus pelan dan mencari celah untuk menyalip. Tak sengaja kedua mata menatap pada rumah yang tepat ada di samping kanan jalan. Rumah besar yang memang terlihat paling mewah di kampung Durja. Rumah milik pak Juwiro pensiunan PNS dan pemilik toko bangunan satu-satunya di kecamatan tempat tinggal Tata.

Namun, bukan itu yang membuat kedua mata Tata langsung memanas dan memicing. Melainkan dua sejoli yang sedang duduk di teras rumah sedang pamer kemesraan. Ya, dia adalah Rian dan Wulan; wanita yang sudah sah menjadi istri mantan kekasih Tata dua tahun yang lalu.

“Eh, kok kalian berdua masih duduk santai? Enggak kerja?” suara Bu Heni; ibu Rian. Wanita berbadan gemuk itu melirik ke arah Tata yang masih dalam kemacetan. Dari arah yang berlawanan sana, ada mobil pribadi entah milik siapa yang macet. Jadilah agak lama jalannya.

“Kita kan sabtu dan minggu libur, Bu,” jawab Wulan, sok polos.

“Eh iya, ya. Kalian berdua ini kan udah ASN. Ya beda kalau sama buruh pabrik. Pekerja kasar ya sabtu tetap masuk.” celetuk bu Heni lagi.

“Bu, jangan begitu.” Tegur Rian, merasa tak enak, karena sejak tadi dia sudah memerhatikan Tata.

“Lho, kan benar, Yan. Untung lho, kamu nikahnya sama Wulan. Sama-sama ASN, jadi liburnya juga barengan. Coba kamu jadi nikah sama buruh, berangkat masih ada embun, pulangnya pun udah ada bintang. Mirip banget sama kalong.”

“Buk!” tegur Rian lagi, melirik ke arah ibunya. Meminta untuk diam.

Wulan justru malah tertawa, menutup mulut dengan satu tangan. “Kalong itu apa, Bu?”

Tata sudah melesat, tak lagi dengar obrolan pagi yang begitu menyakitkan. Sudah sangat sering keluarga Rian menyindirnya karena dia yang hanya seorang tamatan SMA dan pekerja pabrik. Bukan berpangkat seperti Rian dan Wulan yang juga sama-sama ASN. Pantas saja waktu itu Rian langsung memutuskan Tata dan memilih dengan Wulan, ternyata memang lelaki itu memandang status.

Tata membelokkan motor ke pom bensin, lalu ikut antri dengan beberapa pengendara. Kedua mata melebar saat melihat adiknya yang membonceng motor temannya. Sengaja Tata tak menyapa, karena Dika bersama dengan banyak teman. Takut ngenganggu moment asik mereka aja.

“Kurang enam ribu, mas.” Ucap petugas pom bensin.

Teman Dika yang memiliki motor menoleh, menatap Dika. “Lo ada enam rebu nggak? Genepin dulu deh,” pinta cowok yang memakai seragam sama seperti Dika; putih abu-abu.

“Bentar.” Santai Dika menepuk-nepuk saku celana bagian belakang, tapi kosong. Lalu melepas tas ransel dan membuka tas itu. “Lah, dompet gue ketinggalan.”

“Cckk, lagu lama lo, Dik!” temannya itu mentonyor kepala Dika.

“Beneran ketinggalan, elah, kagak percaya.” kekeh Dika membenarkan diri.

Tata mendesah kasar, mengangkat tangan dan menatap jam yang melingkar di lengan kirinya. “Nanti gabungin sama saya aja, mbak. Biar saya yang bayar.” Putusnya, karena dia sudah hampir terlambat. Malah akan benar-benar terlambat kalau menunggu mereka berdua selesai nyari duit enam ribu.

Mendekar kalimat panjang dari arah belakang, Dika dan si pemilik motor itu menoleh. Melihat ada kakaknya di sana, Dika langsung tersenyum lega.

“Eh, bidadari barhati malaikat,” seru cowok yang ada di depan Dika.

Dika menabok punggung temannya ini. “Embak gue, Gal!”

Cowok berkulit putih dan memiliki senyuman manis. Giginya rapi dan ada bulu halus yang melingkari bibir atasnya. Untuk sesaat dia sampai tak kedip melihat Tata yang mulai membuka jok motor dan menoleh padanya. Lalu ngomelin Dika yang meminta uang jajan karena duitnya tersimpan di dompet yang tertinggal di rumah.

“Makasih, embakku sayang ….” Dika nyengir, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.

Tata hanya berdecak, menoleh, menatap heran pada cowok yang duduk di depan Dika. Karna sejak tadi ternyata telah memerhatikannya. “Eh, kamu ngapain liatin sampe begitu?” tegurnya, risih.

Cowok seumuran adiknya itu nyengir, mengelap telapak tangannya lebih dulu, lalu mengulurkan ke Tata. “Kenalan, mbak. Gue Galan,” ucapnya dengan masih tersenyum.

Tata beralih tatap, menatap Dika yang terlihat cuek karena sibuk menyimpan uang ke saku celana. Tak membalas uluran tangan itu, hanya menepuk telapak tangan Galan selayaknya tos. Tersenyum tipis dan melajukan motor meninggalkan pom.

Galan langsung menepuk tangki motornya. “Eh, gila. Cantik banget, asli.”

**

Minggu pagi.

Hari ini adalah hari yang paling merdeka untuk Tata, gadis itu selalu bangun siang disetiap hari minggu. Begitu juga dengan Dika yang baru pulang beberapa menit sebelum jago berkokok.

Bu Ratih membuka pintu kamar Tata, menggeleng melihat anak gadisnya yang masih meringkuk di bawah selimut. “Tata,” panggilnya.

“Hhhmm,” sahut Tata tanpa membuka mata atau pun beringsut dari posisinya.

“Ibuk mau ke pasar. Kamu mau sarapan pakai apa? Nanti ibuk beli lauk di pasar saja.” tawar Bu Ratih.

“Aku pengen mangut lele, Buk!” yang menjawab justru yang ada di kamar sebelah; kamarnya Dika.

Tata menghela nafas, mulai merentangkan tangannya. “Pengen lotek aja, buk.”

“Yaudah, ibuk tinggal ya.” Lalu melangkah pergi tanpa kembali menutup pintu.

Bukan memanjakan anak, tetapi bu Ratih tau jika anaknya butuh kebebasan. Selalu bangun sebelum subuh membantunya menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat kerja, pasti juga lelah. Belum lagi Tata yang sering pulang larut karena di pabrik ada banyak kerjaan. Tidur selalu malam dan bisa dibilang jika kurang tidur.

Tok! Tok! Tok!

“Ta! Tata! Tata! Ibukmu kecemplung selokan!”

Suara dari depan rumah membuat Tata dan Dika yang masih ada di atas ranjang langsung bangun. Keduanya sama-sama berlari keluar kamar menuju ke pintu depan.

 

 

 

 

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd