10

1428 Words
Mati aku! batin Lynne berteriak frustrasi saat melihat Gabriel ada di sana dengan kedua matanya yang terbuka lebar. "E—eh, a—aku ... aku," ucap Lynne terbata-bata. Ia gugup dan takut, persis seperti pencuri yang tepergok oleh massa. "Aku hanya mengganti bajumu." "Baju? Kau baru saja mau menarik celanaku, Ms. Dawn." Gabriel mengoreksi perkataan Lynne. Ia hendak berdiri, tetapi sakit kepala itu masih terasa hingga ia kembali bersandar. "Itu karena bajumu basah, Mr. Wallance," elak Lynne sembari berjalan mendekati Gabriel. Ia mengulurkan tangan dengan berani, menyentuh dahi Gabriel yang masih terasa hangat. "Masih panas, tapi tak separah tadi. Apa harus kuukur lagi dengan termometer?" "Tidak perlu. Terima kasih." Gabriel kembali menolak. "Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Lebih baik kau pulang karena nanti malam kita tetap pergi ke pesta." Lynne mencebikkan mulut karena Gabriel terus-menerus menolak bantuannya di saat lelaki itu tak mampu berdiri sendiri. Dengan pemaksaan, Lynne memasang termometer pada tubuh Gabriel. "Sepertinya kau senang melawan perintahku," desis Gabriel sedikit sinis karena Lynne tetap mengukur suhu tubuhnya. "Maaf untuk itu," jawab Lynne tak acuh. Jika ia dipecat hanya karena memeriksa tubuh Gabriel, maka Lynne akan memastikan ia menuntut ganti rugi yang besar pada perusahaan Wallance. "Aku memang keras kepala." "Betul sekali." Gabriel menyetujui ucapan Lynne. "Tapi terima kasih karena sudah merawatku. Meskipun kau ... melihat hal yang tidak seharusnya kau lihat." Lynne merasa pipinya bersemu merah karena perkataan Gabriel. Lelaki itu jelas-jelas tengah menyindirnya karena membuka baju Gabriel tanpa izin. "Celanamu basah, apa kau tidak mau menggantinya, Mr. Wallance?" tanya Lynne. "Aku akan keluar dan membawakanmu bubur serta alat kompres.” "Ya, aku akan menggantinya." Gabriel mengambil boxer yang terletak di sebelahnya dengan susah payah. Sebenarnya Lynne ragu Gabriel bisa memakai celana itu sendiri. "Apa kau benar-benar penasaran dengan sesuatu di balik celana jeans-ku ini, Ms. Dawn?" tanya Gabriel heran karena Lynne masih bergeming di saat Gabriel hendak melepas celana. "Eh? Oh." Lynne membulatkan matanya terkejut dan segera keluar dari kamar Gabriel. Ia merasa pipinya memanas lagi. Lynne mengambil ponsel dan mencari resep untuk membuat bubur yang enak. Setelah mendapatkan resep yang simpel, Lynne celingak-celinguk mencari pembantu di apartement Gabriel. Tidak ada orang. Lynne mencari hampir ke setiap ruangan di tempat tinggal yang besar ini, tetapi Lynne sama sekali tidak bisa menemukan siapa pun.  Ia baru ingat bahwa Gabriel tidak suka berinteraksi dengan orang asing. Mungkinkah karena itu dia tidak memiliki pembantu?  Tapi tempat ini kelewat besar untuk ditinggali sendirian. Gabriel pasti merasa kesepian. Lynne kembali lagi ke dapur setelah selesai berkeliling. Tanpa menggunakan celemek, ia membuka kulkas yang tampak mahal dengan dua pintu yang besar mirip lemari. Tangannya menarik salah satu pintu pendingin lemari itu hingga terbuka. Lalu, mata Lynne membeliak saat mendapati bahwa kulkas itu kosong. Lynne memasukan kepalanya ke kulkas dan memeriksa seluruh bagian dari lemari besar itu. Tapi mau sampai kapan pun ia mencari, Lynne tidak bisa menemukan apa-apa di sana. "Selama ini dia makan apa?" gumam Lynne pelan. Menurutnya, apartemen Gabriel ini lebih mirip dengan tempat singgah dibandingkan dengan rumah. Lynne meringis kasihan pada Gabriel. Ternyata menjadi kaya tidak akan menjamin kalau kau akan hidup selayaknya manusia. Ia tidak tahu ke mana uang-uang Gabriel mengalir di saat bahan makanan saja ia tak punya. "Mr. Wallance, aku harus keluar dan membeli bahan makanan dulu." Lynne masuk ke dalam kamar Gabriel lalu menatap lelaki yang sudah tertidur pulas setelah menggunakan celana boxer-nya. Dengan langkah ringan, Lynne berjalan mendekati Gabriel, duduk di pinggir ranjang sembari mengulurkan tangan. Lynne ingin menyentuh wajah Gabriel. Lelaki itu tampak begitu damai dan tenang ketika  tertidur dan Lynne ingin sekali menciumnya. Astaga, Lynne. Kendalikan dirimu! batin Lynne kembali berteriak saat otaknya mulai memikirkan hal-hal kotor. Sepertinya ia memang benar-benar teracuni oleh film-film dewasa. "Selamat tidur. Aku akan segera kembali," gumam Lynne sambil tersenyum lembut.   ******   "Brokoli, wortel, kubis." Lynne bergumam sembari menatap catatan di tangannya. Ia mendorong troli dan celingak-celinguk, mencari bahan makanan yang mungkin ia perlukan untuk Gabriel. "Ah ini dia," ucap Lynne seraya meletakkan wortel yang ia temukan ke dalam troli. Ia membeli banyak sekali sayur, berharap bahwa Gabriel bisa cepat sembuh setelah semua tumbuhan ini masuk ke dalam tubuh lelaki itu. Lynne terus berkeliling supermarket dengan mata yang tertuju pada catatan agar tidak ada satu pun yang terlupa. Lalu, dia menabrak sesuatu karena tidak melihat dengan benar. Lynne terkesiap saat mendapati troli belanjaannya membentur troli belanjaan milik seorang wanita yang begitu elegan. "M—maaf, saya tidak melihat." Lynne menunduk, penuh penyesalan. Ia merasa terintimidasi dengan mata biru wanita itu. Meski demikian, Lynne juga merasa kalau wanita ini familier. "Tidak apa." Wanita itu tersenyum manis. Ia memperhatikan Lynne dari atas sampai ke bawah dengan tatapan penuh selidik. "Tunggu dulu. Kau … kau Lynne Dawn, ‘kan?" Mata Lynne membelalak saat mendapati kalau wanita di depannya ini mengenalnya. "Ya, aku Lynne. Kau siapa?" tanya Lynne bingung. Semua nada formalnya sudah terbang entah ke mana. "Aku Angeline. Dokter Judith setahun yang lalu. Apa kau lupa?" "Ah, iya!" ucap Lynne terkejut, nyaris berteriak. Pantas saja wanita ini tampak sangat familier. Sejak Judith koma tiga tahun yang lalu, ia menetap di rumah sakit di mana Angeline bekerja. Setahun yang lalu, Angeline bertugas untuk merawat Judith, tetapi hanya sebentar karena Angel sibuk dengan pekerjaan di luar negeri hingga harus meninggalkan New York. Umur Lynne dan Angel yang tidak terpaut jauh membuat kedua wanita itu akrab. Lynne senang bercerita dengan Angel, tetapi menurut Lynne, Angel bukanlah sosok yang terbuka. Meski mereka sering berbagi cerita bersama, tetapi Angel lebih sering bertindak sebagai pendengar. "Jadi, apa kabarmu?" tanya Angel dengan senyum yang menawan. Lynne bisa tebak, bahwa Angel adalah keturunan orang kaya. Dari gaya berpakaian hingga tersenyum, ia terlihat berkelas. "Aku baik-baik saja." Lynne menjawab dengan senyuman. "Apa kau akan menetap di New York setelah ini? Atau kembali lagi ke Inggris?" "Aku harus menetap sementara waktu karena permintaan kedua orang tuaku," balas Angel. "Kau ... vegetarian?" tanya Angel sembari melirik troli Lynne yang penuh dengan sayur mayur. Lynne menepuk dahinya keras sembari melirik ke arloji yang melingkar di tangan. Ia lupa dengan Gabriel karena keasyikkan membeli sayur. "Astaga! Aku minta maaf, Dokter Angeline, tapi aku harus pergi sekarang." Lynne memutar troli dan berlari seperti orang gila. Angel tertawa melihat tingkah Lynne yang tidak pernah berubah sejak dulu. Wanita itu sangat ekspresif dan gampang panik. Lucu sekali.   ******   Lynne selesai memasak setelah mengikuti intruksi di internet. Sebenarnya ia tidak pandai memasak atau bisa dibilang tidak bisa memasak. Lynne hanya bisa membuat kopi. Memasak adalah tugas Margo dan Lynne tidak pernah ambil andil di dalamnya. "Mr. Wallance, kau harus makan." Lynne membangunkan Gabriel saat ia sudah sampai di dalam kamar. Tak lupa, Lynne juga memeriksa suhu tubuh Gabriel. "Panasmu menurun. Masih ada waktu empat jam lagi sampai pestanya di mulai." Gabriel bangun dengan terpaksa setelah Lynne mengungkit mengenai pesta. Ia masih harus mengerjakan banyak hal, tetapi sakit ini membuatnya kesulitan. "Aku membuatkanmu bubur," ucap Lynne sembari menunjukkan mangkoknya pada Gabriel. "Kau mau memberikanku makanan kambing, Ms. Dawn?" tanya Gabriel dengan alis yang tertaut saat melihat bubur Lynne penuh dengan dedaunan hijau. "Apa?" Lynne mengerutkan kening, tak mengerti perkataan Gabriel. "Wajahmu tidak mirip kambing, Mr. Wallance." "Bukan itu maksudku." Gabriel menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari menghela napas. "Baiklah, aku coba dulu." Lynne mengangguk dan menyuapi Gabriel sesendok. Sebenarnya, Lynne tidak terlalu bisa membedakan sayur sehingga ia memasukan hampir seluruh tanaman yang dibeli. "Masakanmu ...." Gabriel menggantungkan kalimatnya. Lalu ia mengambil air putih yang berada di samping meja dan meminumnya hingga tandas. "Aku rasa kau membenciku." "Heh?" Lynne kembali mengerutkan kening. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Mr. Wallance. Yang pasti, kau harus menghabiskan bubur ini karena setelah ini kau harus minum obat." "Hmm," balas Gabriel terpaksa. Ia ragu bisa menghabiskan bubur yang Lynne buat di saat wortel yang ia masukan saja tidak masak sepenuhnya. "Kau tidak pernah memasak sebelumnya?" tanya Gabriel. "Aku?" Lynne menunjuk dirinya sendiri, dijawab anggukan oleh Gabriel. "Tidak. Tidak sama sekali." "Pantas saja," gumam Gabriel pelan. Ia tidak bertanya lagi setelahnya, dan Lynne juga tidak bersuara. Gabriel menghabiskan seluruh bubur yang Lynne buat dengan perjalanan panjang. Yah, setidaknya ia menghargai usaha sekretarisnya ini. "Terima kasih," balas Gabriel seraya tersenyum tipis. Keadaannya jauh lebih baik dibandingkan tadi. "Mr. Wallance, tolong jangan tersenyum seperti itu," ucap Lynne dengan wajah yang merah padam. Ia terpesona lagi. Sial. "Kenapa?" tanya Gabriel bingung. "Apa senyumku bisa membunuh seseorang?" "Tidak. Bukan begitu," tukas wanita itu sambil menggeleng. “Hanya saja, senyummu tidak baik untuk jantungku," sambung Lynne sembari berdiri. Ia keluar dari kamar Gabriel dan berjalan ke dapur. Sedangkan Gabriel terbengong di tempatnya. Tidak mengerti apa maksud Lynne.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD