Chapter 20

2406 Words
"Kendatinya jika hal itu sudah menjadi keputusan kalian berdua maka Abi hanya bisa mendoakan kalian berdua" - Abi soraya - Aku dan Dani telah bertekad untuk mengatakan kejujuran tentang keputusan kami berdua. Bagi kami berdua ini memang keputusan yang sulit untuk diambil. Apalagi kami telah mengeluarkan biaya yang banyak untuk persiapan pernikahan kami berdua. Tapi apa daya kami yang harus membuat keputusan ini. Kami berdua telah bersepakat untuk mengumpulkan kedua belah anggota keluarga kami berdua. Keluargaku dan Dani berkumpul menjadi satu di rumahku. Mereka saling bertemu dengan senyum sumringah. Sedangkan aku semakin was-was dan merasa tak enak hati. Aku terus melihat kedua keluarga kami dari arah depan pintu. Ku liat mereka yang sedang asyik bercanda ria. Aku terus menunggu kedatangan mas Dani. Mas Dani tak datang bersama keluarganya karena ia masih harus mengurus visa. Mas Dani juga berjanji padaku untuk datang secepatnya ke rumah. Dengan hati was-was aku menunggunya. Pug! Ku rasakan tangan seseorang yang menepuk bahuku. Ku menoleh belakang dan ku liat sosok mas Dani memakai baju batik dengan pesona yang berbeda. Ia telah datang. "Assalamualaikum soraya." Salam Mas Dani kepadaku, menyunggingkan senyumnya "Waalaikumsalam mas Dani, akhirnya mas Dani datang juga." Ucapku menghela nafas lega karena mas Dani telah datang "Semua sudah datang Soraya?" Tanya mas Dani sambil menengok ke ruang tamu Ku anggukan kepalaku, "Iya mas Dani, semua sudah datang dari tadi. Aku dari tadi menunggu mas Dani. Mas Dani kemana aja sih?" "Segitu kangennya kamu sama aku kah?" Goda Dani sambil mentoel dagu soraya "Mas Dani ada keluarga jangan macem-macem deh!" Peringat Soraya dengan wajah yang malu-malu. Dani memundurkan langkahnya saat, ia meraih tangan soraya "Ya sudah ayo kita masuk ke dalam." "Mas Dani aku gugup dan takut mereka kecewa dengan keputusan kita." Ucapku menampilkan ekspresi takutku Mas Dani menyentuh kedua bahuku, "Soraya kita lakukan bersama-sama ya? Dan tenangkan dirimu. Aku akan mencoba seterbaik mungkin untuk kita. Percaya deh sama aku kalo kita bisa mengatasi semuanya bersama-sama." Apa yang Mas Dani katakan memang benar. Jika ada mas Dani yang menjelaskan mungkin semua akan lebih mudah. Aku yakin mas Dani bisa berbicara dengan baik pada mereka semua. Dan aku akan membantu mas Dani jika dia kesulitan. "Baik Mas.." Tangan Mas Dani terulur di depanku, "Ayo kita masuk sekarang." "Iya mas." Aku dan Mas Dani masuk ke dalam rumahku bersama-sama. Dalam hati aku terus melafalkan basmalah dan sholawat. Berharap semua bisa kami katakan dengan sebaik mungkin. Berharap mereka akan menerima keputusan kita berdua dengan baik. "Wah Dani soraya akhirnya kalian masuk juga." Ucap Abiku menyambut kami berdua. Aku dan Mas Dani mendekati kedua orang tua masing-masing. Bersalaman dan bertukar sapa. Setelah itu, Aku duduk di samping mas Dani. Di hadapan para anggota keluarga, mas Dani mulai mengucapkan salam. "Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktu.." Mas Dani mengucapkan salam di hadapan kami semua. Seluruh keluarga membalas salam mas Dani. "Abah, Abi, Umi, Ibuk beserta seluruh keluarga. Disini saya mengumpulkan kalian semua karena ada hal yang ingin kami katakan. Dan sebelumnya kami berdua minta maaf kepada kalian semua." Mas Dani memulai pembicaraan dengan kata-kata yang sopan dan halus. Aku senang mendengarnya tutur katanya yang sangat lembut. "Dani Le ada apa?" Tanya Abiku "Apa ada sesuatu yang tidak kami ketahui Le?" Tanya Ibu mas Dani menimpali "Semua akan Dani jawab dan jelaskan. Pertama-tama kami berdua minta maaf jika apa yang saya sampaikan membuat kalian semua kecewa." Mas Dani melanjutkan penuturannya dengan berhati-hati "Cepat katakanlah Le." Pinta Abah Mas Dani yang tak sabar mendengarnya "Baik Abah, Kami mengerti jika tanggal pernikahan kami akan sangat dekat. Kedua keluarga pasti merasa tak sabar menunggunya." Mas Dani masih berteka-teki pada kedua belah keluarga. Ia masih belum mengatakan pada intinya dan hal itu membuat abiku bertanya lagi. "Dani katakanlah pada intinya. Kami ingin segera mendengarnya." Pinta Abiku yang ikut tak sabar "Baik Abi, Aku dan soraya telah sepakat untuk memundurkan pernikahan kami berdua." Tutur Mas Dani secara to the point ''APA!?'' Mereka serempak memberi respon yang sama Ku liat raut wajah kedua orang tuaku dan kedua orang tua mas Dani berubah seketika. Raut wajah mereka seperti terkejut. "Dani apa yang kamu katakan Le? Kamu tak sungguhan kan?" Tanya Abah mas Dani memastikan "Le kamu jangan main-main mengatakan hal ini. Pikirkan semuanya Le." Ibu Mas Dani ikut mendesak penjelasan mas Dani. Abah dan Umikku hanya diam tanpa mendesak mas Dani "Abah.. ibuk.., Semua sudah dani fikirkan dengan matang-matang begitu juga dengan soraya. Hal ini juga sudah menjadi keputusan kami berdua." Jawab Mas Dani dengan tegas Setelah Mas Dani menjawab suasana di ruang tamu menjadi diam menegang. Tak ada seorangpun yang bertanya pada mas Dani lagi. Aku mengerti jika mereka masih mencoba menerka pada perkataan mas Dani. Mungkin saja hati mereka masih bertanya-tanya alasan di balik keputusan yang kami buat. Oleh karena itu kami masih menunggu respon dari mereka semua. "Tapi apa alasanmu Le yang ingin menunda pernikahan kalian berdua?" Abiku mulai mengajukan pertanyaan. Abi bertanya pada mas Dani dengan tenang menampilkan raut wajah masamnya. "Karena Dani ingin mengejar impian Dani. Kemaren Dani mendapatkan informasi terkait beasiswa S2 di universitas impian Dani Abi." Mas Dani mulai memberikan penjelasan pada Abiku. Namun belum selesai menjelaskannya Abah Mas Dani sudah menyelanya. "Dani kamu bisa melakukannya setelah kamu akad. Kamu juga bisa membawa soraya kesana. Hal itu lebih baik daripada kalian harus menundanya Le!" Sela Abah Mas Dani dengan suara yang menggelar. Aku sudah mengira jika Abah Mas Dani akan berfikiran seperti ini. Sebenarnya semua sudah kami kira-kira dari kejauhan hari. Abah Mas Dani sosok yang memiliki sikap yang keras dan Mas Dani tak akan sanggup untuk menjawab pertanyaan Abahnya. Hanya akulah yang harus menanganinya. Mas Dani menoleh padaku. Memberikan kode untukku menjelaskannya. Aku mengerti jika sudah saatnya untukku memberi penjelasan pada Abah mas Dani. Dan sudah waktunya untukku membantu mas Dani dalam berkata. Setelah mengangguk aku mulai menatap mata Abah Dani yang marah. Menguatkan hatiku untuk mengatakannya, "Abah, Kami tak mungkin melakukannya." "Kenapa tak mungkin kalian berdua lakukan nduk?" Abah Mas Dani langsung menanggapinya dengan cepat "Abah, Soraya masih ada kontrak ngajar di pondok pesantren. Soraya tak bisa resign sampai masa kontrak soraya mengajar habis. Maka dari itu kami tak bisa melakukannya. soraya tak bisa ikut dengan Mas Dani." Tuturku sembari berharap abah mas Dani bisa menerima penjelasanku "Soraya mengerti dengan saran dari abah sangat baik untuk kami berdua tapi maaf banget abah, kami sudah memilih keputusan ini. Impian mas Dani adalah hal yang sama pentingnya untukku, Apapun impian mas Dani Soraya akan mendukungnya. Soraya juga ingin melihat mas Dani bahagia mengejar impiannya." "Soraya akan selalu mendukung penuh mas Dani pada impiannya. Maka dari itu kita memutuskan hal ini. Ini keputusan terbaik untuk kami berdua. Soraya akan siap menunggu mas Dani sampai dia pulang. Maaf Abah jika tutur kata soraya membuat Abah dan seluruh keluarga kecewa." Ku akhiri penjelasanku dengan kata maaf. Ku menghela nafas lega setelah berhasil memberi penjelasan yang terbaik untuk kedua orang tua mas dani dan kedua keluarga kami berdua. Aku berharap mereka bisa memahami penjelasanku. "Baiklah nduk kalo itu adalah keputusan yang terbaik untuk kalian berdua. Kami tak bisa melakukan apapun selain mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." Sahut Abiku memberikan respon atas penjelasanku. "Tapi Pak Jauhar apa anda yakin pada keputusan mereka berdua? Pernikahan mereka tinggal menghitung hari tak mungkin kita tunda begitu saja." Sahut Abah Mas Dani yang masih tak terima dengan keputusan kami berdua "Abah Anam percayalah pada keputusan anak-anak kita berdua. Saya yakin jika mereka sudah memutuskannya dan memikirkan matang-matang. Mereka sudah dewasa apa kita tak bisa memberikan kepercayaan pada mereka berdua? Ingat abah Anam takdir itu ada di tangan yang maha kuasa. Saya tau jika abah anam masih khawatir tapi tenang abah anam jika tuhan tau jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Jadi cobalah untuk Abah Anam pahami hal itu." Abi menjawabnya dengan bijak. Aku tau jika Abi adalah sosok yang tenang dan bijak dalam menjawab. Dan aku merasa beruntung memiliki Abi. Abah Mas Dani menghela nafas dengan kasar, "Baiklah jika hal itu sudah menjadi keputusan kalian berdua. Abah Umik dan semuanya akan memahami keputusan kalian berdua. Doa kami tak akan putus untuk kalian berdua Le Nduk." "Masha Allah Alhamdulillah Abah hatur nuwun sanget atas pengertian abah pada keputusan kami berdua." Setelah pembicaraan telah selesai aku dan mas Dani saling mendekati kedua orang tua kami. Berterima kasih pada mereka semua yang telah mengerti kondisi kita. Suasana tegang telah mencair dan canda tawa bergaung di sudut rumahku. Bagiku keluarga adalah rumah ternyaman untukku dan mas Dani. Sebuah kasih sayang keluarga tak akan dapat tergantikan oleh apapun. Alhamdulillah atas takdir tuhan, kami bisa melewati hari ini. Dan semoga kedepannya kami bisa melewati semuanya sama-sama. **** 12 Mei adalah hari untuk mas Dani pergi mengejar impiannya. Hari ini aku akan mengantar mas Dani ke bandara. Atas izin Allah, Mas Dani telah melakukan persiapan sebaik mungkin. Aku membantu mas Dani untuk bersiap mulai dari menyiapkan pakaian dan mengantarnya mengurusi berkas yang harus dibawa. Dan tepat hari ini aku akan mengantarkannya untuk pergi. Aku pergi mengendarai mobil bersama kedua orang tuaku. Sedangkan Mas Dani di mobil kedua orang tuanya. Kami sampai di bandara pukul 1 siang. Penberangkatan mas Dani pada pukul 2 siang. Kami memilih untuk berangkat 1 jam lebih awal. Di bandara mas Dani masih diam-diam menggenggam dan menggandeng tanganku. Sejujurnya aku merasa sangat malu dan takut akan diliat oleh kedua keluarga kami berdua. Pasalnya kami berdua masih belum mahrom untuk berpegangan. Tapi apa dayaku yang tak bisa menolak permintaannya. Hari ini adalah hari terakhir aku bisa melihatnya sebelum berpisah. Aku tak bisa memberikan hal apapun selain doa. Mas Dani juga diam-diam melihatku sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Menutupi wajah memerahku agar tak diliat oleh Mas Dani. Jika mas Dani melihatku maka sudah ku pastikan dia akan meledekiku. Keluargaku dan keluarga mas Dani telah berjalan terlebih dahulu. Sedangkan aku dan mas Dani berjalan di belakang mereka. Mas Dani masih menggandengan tanganku. Memasukkannya di dalam saku jaketnya. Dia sempat bertanya padaku ''Dingin gak?'' Aku hanya menggeleng malu, tak bisa menjawabnya. ''Sekarang sudah hangat seperti kepiting rebus di wajahmu humairoku.'' Goda Mas Dani yang tak pernah berhenti ''Mas!'' Pekikku pelan, memperingatinya agar tak menggodaku lagi Mas Dani hanya terkekeh sembari menyembunyikan tawanya. ''Le.. Nduk..'' Suara Abah mas Dani dan Abiku memanggil kami berdua Sontak aku mengeluarkan tanganku dari saku jaket mas Dani. Menjauh dari mas Dani dan berdiri tegak. ''Iya Abi?'' ''Nduk Le kami tunggu di mobil ya? Bundamu ga kuat sama udara disini.'' Ujar abahku menjelaskan kondisi Bunda yang tak kuat suhu di bandara. ''Njeh Abi tak apa. Hatur nuwun sangat sudah mengantarkan Dani.'' Jawab Mas Dani menghampiri abiku dan bersalaman. Setelah itu Abi dan bundaku pergi dari hadapanku. Mas Dani mendekatkan dirinya kepadaku. Aku sontak menjauh, ''Mas mau ngapain?'' ''Sini tanganmu..'' Ia memintaku untuk menjulurkan tanganku ''Mau ngapain lagi hm!?'' Ku tampilkan ekspresi curigaku terhadap permintaannya ''Menggandeng tanganmu lah soraya, mau apalagi coba?'' Jawabnya dengan cepat ''Enggak mau.'' Tolakku ''Kenapa gak mau?'' ''Karena nanti kalo orang tua mas Dani liat gimana? Tadi aja hampir diliat abiku.'' Seruku melotot ke mas atas ketidakenggananku Mas Dani menekukkan wajanya. Tanda bahwa dirinya tengah merajuk padaku. ''Baik mas Dani bisa menggandeng tanganku.'' Ucapku lirih, menyetujui permintaannya Raut wajah mas Dani berubah dari murung menjadi periang. Ia menggandeng tangan kemudian menoleh kepadaku ''Ayo kita jalan.'' ''Iya ayo mas..'' Kami melangkah bersama. Mas Dani tak berhenti tersenyum riang padaku. Aku merasa lega jika mas Dani menjadi riang kembali. Menuruti permintaannya setidaknya bisa membuatnya bahagia sebelum waktu memisahkan kita berdua. Kami sampai bersama. Keluarga mas Dani juga menyambutku. Jam sudah menunjukkan pukul 2.40, waktu untuk mas Dani berpamitan pada kami semua. Dia melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. Menghampiri abah dan umiknya. Bersalaman dan berpelukan. Semua orang sudah mas Dani pamiti, sekarang ia berjalan ke arahku. Di hadapanku, tangannya merogoh pada saku jaketnya. Mengelurkan sebuah kotak beludru berwarna biru muda. Ia membukanya, aku terkesima melihat sebuah kalung emas putih berlian dengan namaku. ''Soraya ini buat kamu. Aku pakaikan ya?'' Ucap mas Dani meminta izin padaku ''Ini buatku mas?'' Tanyaku dibalas olehnya sebuah anggukan ''Iya.'' ''Untuk apa mas?'' Tanyaku yang masih merasa tertegun ''Untuk kenangan dariku. Aku ingin kau mengingatku soraya jadi kau mau menerimanya?'' Tanyanya ''Udah nduk terima saja. Dani sudah mempersiapkannya dari kemaren jadi jangan kau tolak.'' sahut abah ''Njeh abah..'' ''Aku pasangkan kepadamu ya.'' Izinnya kepadaku ''Iya mas..'' Mas Dani mendekat, Ia mengeluarkan kalung dari kotak tersebut. Tepat di hadapanku ia mulai memasangkan kalung ke leherku. Setelah itu ia menundurkan langkahnya. "Sangat cantik dan cocok sekali untukmu soraya. Kamu keliatan cantik sekali setelah memakainya." Pujinya yang membuatku merasa malu Dari kejauhan Abah Mas Dani berteriak mengingatkannya "Dani cepat naik jangan bicara lama-lama! Nanti kamu ketinggalan lho!" "Ish Abah ganggu aja atuh!" Keluh Mas Dani yang merasa terganggu pada peringatan dari abahnya "Diingetin malah gitu! Dasar kamu Le!" "Wis abah sama ibukmu tak keluar sek. Kamu hati-hati di jalan ya Le." Pamit Abah Mas Dani. Mas Dani mencium tangan abah dan ibunya. "Nduk ibuk tunggu di mobil ya." Tutur Ibu mas Dani "Njeh buk.." Setelah itu kedua orang tua mas Dani pergi meninggalkan kita berdua. Kini Aku dan Mas Dani berduaan. Aku semakin merasa kikuk. Ku tundukkan pandanganku tanpa berani menatap mata mas Dani. Sret! Mas Dani mengambil kedua tanganku, "Tatap aku soraya.." Ku dongakkan wajahku menatap mata mas Dani. Hatiku bergetar saat mas Dani menyunggingkan senyumnya kepadaku. "Soraya apapun hal yang terjadi tetaplah menungguku. Tunggu aku hingga waktu yang tiba untuk cinta kita bersatu. Kamu percaya padaku kan soraya?" Tutur Mas Dani Ku anggukkan kepalaku "Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk sabar menunggu mas Dani. Dan aku juga akan selalu mempercayai mas Dani. Apapun keadaannya jika mas Dani adalah jodoh untukku maka kita akan bersatu di waktu yang tepat. Sekarang mas Dani cukup fokus pada impian mas Dani. Raihlah cita-cita yang mas Dani inginkan, aku disini akan selalu mendoakan mas Dani." Gyut! Mas Dani menarik tubuhku ke dalam pelukannya, Aku mencoba meronta akan tetapi mas Dani berucap lirih padaku "Biarkan aku memelukmu sebentar saja.." Aku tertunduk tak berdaya dengan keinginan mas Dani. Mas Dani merengkuh tubuhku semakin dalam. Ia tak berhenti memujiku "Aku sangat bersyukur bertemu dan memilikimu soraya.. " "Aku juga mas.." Waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Waktu untuk mas Dani masuk ke dalam. 5 menit kemudian mas Dani melepaskan pelukannya. Ia mulai berjalan menjauh dariku. Aku hanya bisa melambaikan tangan padanya. Mengucapkan salam perpisahan kepadanya dengan lirih. "Selamat jalan mas Dani, Semoga engkau menjadi jawaban dari teka-teki jodohku..'' "Aku akan selalu setia menunggumu disini.." Aku yakin jika mas Dani jodohku kita akan dipersatukan kembali. Sebaik-baiknya manusia hanya bisa berusaha, berdoa, dan bertawakal. Sisanya hanya Tuhan yang mengaturnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD