BAB 6: HARUS PATUH MENJADI ISTRI NDORO

1403 Words
SELAMAT MEMBACA *** Sekar tidak tau jam berapa, tapi silaunya matahari pagi berhasil mengusik tidurnya. Dengan perlahan Sekar membuka matanya. Dia langsung terkejut saat melihat seorang laki-laki yang duduk di sebelah ranjangnya. Siapa lagi kalau bukan Ndoro Karso laki-laki yang kemarin menikahinya. Dia duduk dengan santai di dalam kamar itu, entah sedang melakukan apa. Sekar langsung panik dan melihat pakaiannya yang masih lengkap. Semua yang dilakukan Sekar tidak luput sedikitpun dari tatapan mata Ndoro Karso. Laki-laki itu hanya meringis pelan melihat sikap impulsif dari Sekar. Apa gadis itu begitu takut padanya sampai sepanik itu. "Tidak usah panik saya tidak melakukan apapun padamu," ucap Ndoro Karso dengan tenang dan tetap terlihat sangat berwibawa. Meski tidak menyukainya, namun Sekar tidak mengelak jika suaminya itu sangat berwibawa dan penuh kharisma. Sekar hanya diam tidak tau harus bicara apa, lebih tepatnya dia tidak pernah menyangka jika orang yang akan dia lihat pertama kali saat membuka mata adalah Ndoro Karso. "Sudah siang, ayo sarapan." Ndoro Karso bangun dari duduknya dan berjalan kearah ranjang. Membuat Sekar semakin cemas. Apa yang ingin dilakukan laki-laki itu selalu membuat Sekar panik. "Tidak mau bangun? Masih mau tidur?" tanya Ndoro Karso saat Sekar tidak segera menyambut uluran tangannya. Gadis itu justru menatapnya dengan tajam. Seolah merasa sangat terancam. "Kamu itu menganggap saya apa Cah Ayu, kenapa setakut itu. Apa saya pernah berbuat jahat sama kamu. Apa saya terlihat sangat menakutkan di matamu? Saya ini manusia, bukan monster yang harus kamu takuti seperti itu." Ucap Ndoro Karso lagi masih dengan nada tenangnya pada Sekar. Sekar langsung menggeleng, dia tidak pernah menganggap Ndoro Karso sebagai monster atau apapun itu. Dia hanya takut saja, takut yang tidak bisa dia deskripsikan. Bagaimana dia mengatakannya. Laki-laki itu seolah memiliki aura kuat yang seolah selalu mengintimidasinya bahkan sekedar menatap saja Sekar sudah dibuat merinding dan ketakutan. "Ayo sarapan," ucap Ndoro Karso lagi. "Sa.. saya cuci muka dulu Ndoro," jawab Sekar dengan lirih. Ndoro Karso yang mendengar itu hanya mengangguk pelan dan mengisyaratkan Sekar untuk pergi kekamar mandi. Sekar yang melihat hal tersebut tentu saja langsung pergi kekamar mandi tanpa mau berlama-lama disana. *** Sekar dan Ndoro Karso datang ke meja makan bersama. Sekar berjalan dengan sedikit jauh dari Ndoro Karso. Rewang yang awalnya tengah menata makanan pun langsung menunduk dan undur diri ketika melihat Ndoro Karso datang. Mereka semua segan jika harus berada disana dan menganggu sang Ndoro. Sekar yang awalnya berfikir mereka akan sarapan bersama-sama, langsung dibuat heran ketika mendapati meja makan yang sepi. Bahkan hanya ada dirinya dan Ndoro Karso disana. Dimana yang lainnya, batin Sekar. "Cari apa Nduk?" tanya Ndoro Karso saat melihat Sekar yang celingukan seolah mencari seseorang. Namun, Sekar yang ditanya seperti itu oleh Ndoro Karso hanya menggeleng pelan. Jelas tidak mau menjawab pertanyaan Ndoro Karso. "Tidak ada orang lain di sini, hanya kita berdua yang sarapan." Ucap Ndoro Karso saat bisa menebak apa yang tengah dicari oleh istrinya itu. Sekar yang mendengar itu spontan saja menatap apa maksudnya hanya berdua. "Yang lain?" cicit Sekar pelan. Dia benar-benar tidak ingin menjawab sebenarnya, tapi rasa penasarannya tidak bisa dicegah. Mulutnya spontan bertanya seperti itu. Ndoro Karso yang mendengar itu hanya terkekeh pelan. Apa maksud dari yang lainnya, selama ini dia hanya sarapan sendiri. Dan sekarang ada istrinya, lalu orang lain siapa yang dicari oleh istrinya itu. "Yang lain siapa Nduk yang kamu cari itu. Ada siapa memangnya disini, bicara yang jelas?" tanya Ndoro Karso lagi. Namun, sayang Sekar lagi-lagi hanya menggeleng. Akhirnya merekapun sarapan bersama dalam keheningan. Tidak ada yang membuka suara, baik dari Ndoro Karso ataupun Sekar sendiri. Tiba-tiba Mbok Sugeng datang, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Ndoro Karso. "Ngapunten Ndoro, di depan ada tamu yang sedang menunggu." Jawab Mbok Sugeng sambil jempolnya menunjuk kearah depan. "Siapa yang datang pagi-pagi begini?" tanya Ndoro Karso. "Paklik sama buliknya Ndoro Putri," jawab Mbok Sugeng. Ndoro Karso langsung menoleh pada Sekar, namun gadis itu tidak bereaksi apapun. "Disuruh tunggu di pendopo depan Mbok, saya dan istri sedang sarapan. Nanti kami kesana," ucap Ndoro Karso lagi memerintah Mbok Sugeng. Mendengar perintah sang Ndoro, Mbok Sugeng lalu pamit dan langsung pergi untuk kembali menemui sang tamu di depan. Sedangkan Sekar yang sejak tadi mendengar jika bulik dan pakliknya datang merasa cukup heran. Mau apa mereka datang sepagi ini, ada urusan dengan Ndoro Karso atau ingin menemuinya. *** Setelah sarapan Ndoro Karso membawa Sekar untuk langsung menuju pendopo depan guna menemui sang tamu. Parmin dan Harti langsung berdiri ketika melihat Ndoro Karso datang. "Maaf kalau kami menganggu Ndoro, kami datang untuk berpamitan." Ucap Parmin langsung pada Ndoro Karso. Sekar yang medengar itu tentu saja merasa terkejut mau kemana bulik dan paklinya kenapa berpamitan. "Kalian mau kemana?" tanya Sekar langsung. "Kami akan kembali ke Jakarta Kar, tugas kami sudah selesai. Kami harus kembali." Jawab Harti dengan sayang sambil mengusap rambut keponakannya itu. Sebenarnya dia berat meninggalkan Sekar. Dia sudah merawat gadis itu sejak kecil, sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, dia yakin kehidupan Sekar setelahnya akan jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. "Terus aku gimana Bulik. Kenapa kalian harus kembali ke Jakarta. Bukannya katanya kalian mau tinggal di kampung?" tanya Sekar dengan paniknya. "Hei, kamu ini bagaimana. Sekarang sudah menikah, ikut dengan suami. Tinggal di sini, nurut sama Ndoro Karso. Kami belum bisa tinggal dikampung. Adik-adikmu butuh kami disana." Ucap Harti lagi mencoba memberi pengertian pada Sekar. Kedua anaknya memang masih ada di pondok, tapi tetap saja Harti lebih tenang jika tinggal dekat dengan kedua anaknya ketimbang berjauhan seperti ini. Mendengar itu, Sekar tentu saja langsung menangis. Tidak mau di tinggal sendirian disana. Ingin ikut bersama bulik dan pakliknya pulang ke Jakarta. Harti yang melihat itu tentu saja langsung memeluk Sekar, menenangkan gadis itu agar tidak histeris seperti itu. "Sesekali kami akan datang mengunjungi kamu Sekar. Nanti kalau adik-adikmu libur dari pondok kami ajak kesini." Parmin ikut menenangkan Sekar. "Tidak mau, tidak mau di tinggal. Mau ikut sama kalian, tolong bawa aku Paklik. Aku tidak mau disini, mau pulang sama kalian. Apa kalian sudah tidak mau merawat aku lagi sampai membuangku kesini. Apa aku merepotkan sampai kalian tidak mau membawaku lagi." Sekar semakin histeris. Benar-benar tidak mau di tinggal. Bagaimana setelah kepergian mereka, jika sesuatu yang buruk menimpanya. Dia harus apa, minta bantuan kemana. "Sekar dengarkan Bulik, hidup disini dengan tenang. Patuh sama Ndoro Karso. Hidupmu akan baik-baik saja. Ndoro bisa menjagamu lebih baik dari kami. Menjadi istri beliau kamu tidak perlu cemas apapun. Kamu tidak perlu menabung lama hanya untuk beli baju dan perawatan wajah yang mahal. Kamu tidak perlu fikirkan apapun kalau mau makan sesuatu yang enak. Disini hidupmu terjamin. Suatu saat kalau kamu sudah mengerti semua, kamu akan berterimakasih pada kami karena menikahkanmu kesini. Percaya sama Bulik, tanyakan saja apapun yang ingin kamu tau pada Ndoro Karso, maka kamu akan faham kenapa kami membawamu kemari. Mungkin sekarang kami terlihat kejam, tapi kedepannya kamu akan sadar kalau ini yang terbaik." Harti mengatakan semua itu dengan pelan berusaha memberi pengertian pada Sekar. Menikahkan Sekar memang bukan keinginan mereka tapi tanggung jawab mereka sejak lama. Dan yang harus Sekar tau sekarang, ini demi kebaikannya. Tidak ada keuntungan apapun yang keduanya terima dengan menikahkan Sekar dengan paksa seperti ini. Namun, Parmin dan Harti tidak bisa mengatakan semuanya. Biarkan Sekar mengetahuinya sendiri nanti lambat laun ketika gadis itu sudah bisa menerima keadaan dia sendiri pasti yang akan mencari tau. "Kami harus pergi Kar, kalau tidak nanti tidak akan dapat bus." Ucap Parmin lagi. Harti melepaskan pelukan Sekar dan menghapus air mata gadis itu. Dia lalu sedikit menjauh dari hadapan Sekar. "Ini semua barang-barangmu sudah Bulik kemas disini. Tidak ada yang ketinggalan." Harti menyerahkan dua koper yang tadi dia bawa pada Sekar. Yang ternyata berisi semua pakaian dan perlengkapan pribadi gadis itu. Meski masih dengan enggan, namun Sekar menerima koper pemberian buliknya. "Kalian biar diantar oleh Tejo ke terminal." Ucap Ndoro Karso lagi pada keduanya. "Terimakasih Ndoro, ngapunten kalau merepotkan." Ucap Parmin dengan sungkannya. "Tidak perlu sungkan seperti itu, kita ini semua keluarga." Jawab Ndoro Karso lagi. "Kami juga titip Sekar Nggih Ndoro. Ngapunten kalau nanti dia kurang sopan disini. Tolong dijaga dengan baik, kami percayakan Sekar pada Ndoro." Kali ini gantian Harti yang bersuara. "Tidak perlu begitu. Sekar ini istri saya sekarang, apa iya harus kalian ingatkan jika untuk menjaga istri sendiri. Kalian tenang saja, kalian bisa kembali nanti kalau senggang untuk melihat kondisinya." Parmin dan Harti mengangguk mengerti mendengar itu. Setelahnya mereka berdua benar-benar pamit karena harus segera berangkat. Takut jika semakin siang, bus yang harus mereka naiki sudah pergi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD