Nesya baru saja keluar dari kafe De Late dengan perasaan sesak, mengingat hubungan bersama Elvan yang kandas karena sama-sama lelah. Dia iri pada pasangan yang baru saja ditemui demi membahas masalah dekorasi serta konsep pernikahan. Si perempuan terlihat bersemangat, antusias mengutarakan keinginan untuk pernikahan sekali seumur hidup, sedangkan calonnya sesekali memberi pendapat. Mereka terlihat serasi dan si laki-laki mendukung setiap keinginan calon istri. Bukankah harusnya begitu? Setiap perempuan menginginkan pernikahan sempurna?
Berkali-kali Nesya mengatakan dirinya baik-baik saja, tetap saja pekerjaan yang tak jauh-jauh dari persiapan pernikahan akan selalu jadi pengingat kegagalan hubungan sendiri. Mungkin Almira si mulut bawel benar, dia hanya jago mengurus pernikahan orang.
Pikiran Nesya sudah berkecamuk dan merasa butuh hiburan. Jalan-jalan sepertinya solusi terbaik sekadar melihat-lihat, lagi pula lidahnya rindu dimanjakan oleh kelezatan mie bertabur keju.
Nesya memilih mampir ke mal besar terdekat dari posisinya, dia siap memanjakan mata tidak peduli saldo yang kemarin membuat meringis. Melihat barang diskon yang seringkali diincar Almira, kalau dia, sih, asal suka tidak perlu menunggu diskon kecuali sekarang dompet sedang meronta-ronta.
"Ya ampun gini banget kalo ingat saldo." Nesya mengigit bibir bawahnya menatap heels yang menarik perhatian. "Tapi kemarin aku baru beli juga," gumamnya.
Setelah lelah jalan-jalan dengan mati-matian menahan khilaf, ia melesat ke lantai atas mencari makanan demi mengisi perut.
Nesya menghela napas, dia memesan spageti. Lagi-lagi semua tempat seolah menjadi pengingat kalau dia pernah melewati momen manis bersama Elvan. Menikmati sepiring mie bertabur keju sambil mengobrol antusias.
"Kenapa sih susah banget move on," gumamnya pelan.
Di sisi lain, Glean ada janji bertemu klien anehnya memilih lokasi di restoran mal cukup jauh dari kantor. Dia sedikit kesal, tapi harus bersikap profesional.
Saat mengalihkan pandangan ke seisi restoran, matanya menyipit melihat gadis yang duduk di sofa beludru paling pojok, berdekatan dengan tembok kaca sebagai pembatas restoran dan pusat perbelanjaan. Dia sendirian menggulung spageti dengan malas, mengabaikan suara riuh dari sekelompok anak remaja yang baru memasuki ruangan merah marun.
Restoran di mal daerah Jakarta Selatan terlihat ramai apalagi jam makan siang. Meja-meja terisi penuh dengan aroma makanan lezat menyapa indra penciuman. Namun, tatapan gadis yang semalam dinner dengannya terlihat sendu, seolah menyimpan beban pikiran. Mungkin sepiring spageti dengan taburan keju serta saus bolognese dipastikan tidak akan habis, karena Nesya tidak menyuapkan ke mulut sedikit pun.
Glen masih mengamati setiap pergerakan perempuan itu saat mendorong piring, merogoh tas hitam demi mencari sesuatu, lalu menggenggam ponsel dengan gelisah. Penghuni meja kayu di sebelah sudah beranjak, berganti sepasang muda mudi yang terlihat bersemangat, membicarakan masa depan. Glen tahu karena suaranya terlalu keras mengusik ketenangan pengunjung di meja-meja lain. Namun, Nesya masih bertahan di posisinya, tanpa menyentuh makanan hanya sesekali menyesap milkshake untuk membasahi kerongkongan.
Suara musik pop dari band ternama mengalun lembut memanjakan telinga selagi menikmati makan dengan aroma menggiurkan. Tapi, perhatian Glen beralih pada perempuan cantik dipulas make up tipis. Bahkan ia hanya menyimak sekilas kalimat klien di depannya.
Sepuluh menit berlalu, Glen terpaksa tidak bisa lama-lama mengabaikan kliennya, dia kembali menanggapi antusias.
Saat menoleh ke pojok, Nesya sudah menghilang membuat Glen refleks mengalihkan pandangan ke luar, melihat keramaian orang-orang yang baru saja berburu belanjaan atau sekadar jalan-jalan melepas penat. Namun, tidak ada jejak Nesya di sana. Gadis itu patah hati persis seperti sikapnya saat kehilangan Miranda.
"Ternyata benar kamu belum jauh," ujar Glen berdecak lega usai mencari Nesya di antara lautan manusia.
Nesya mengerjap. "Mas Glen kenapa di sini?"
Tidak mungkin belanja, kan?
"Saya baru saja ketemu klien," ujar Glean membuat Nesya mengerutkan kening. "Dia minta ke restoran di mal, mungkin ganti suasana," lanjut Glen membaca raut heran perempuan di depannya.
Nesya mengangguk-angguk, lalu terkejut saat Glen menggandeng tangannya. "Saya antar kamu pulang atau ke kantor?"
"E-enggak perlu, Mas."
"Saya tidak menerima penolakan, Nesya."
Kali ini Nesya hanya diam, energinya sudah habis tersedot efek patah hati. Jadinya ia menurut saat Glen menuntun memasuki lift menuju basement. Anggap saja berhemat tidak perlu bayar ongkos taksi.
"Saya tahu masalah kamu berat, tidak mudah melepaskan orang yang kita cintai. Tapi Bukan berarti boleh melamun di mana-mana," sindir Glen sesudah di mobil melihat Nesya terdiam menatap ke luar jendela.
Buru-buru Nesya menoleh, dia meringis merasa tidak enak mengabaikan pria yang berbaik hati mau mengantar. "Maaf."
"Kenapa minta maaf, saya hanya bilang kamu jangan melamun. Bahkan kamu tidak makan apa-apa siang ini, 'kan?"
Nesya mengerutkan kening menebak kalau Glen peramal.
"Saya tahu karena ada di restoran yang sama, tapi ada klien jadi tidak bisa menyapa." Lagi-lagi Gelan membaca raut Nesya.
Perempuan itu mengangguk-angguk, walaupun alhi memperpanjang durasi obrolan. Kali ini dia memilih hanya merespons secukupnya.
"Kamu masih larut dalam kesedihan memikirkan mantan?"
Nesya memasang ekspresi terkejut, ia perlu tidak menaruh nama Glen ke daftar orang-orang yang memahaminya tanpa perlu bicara.
"Enggak, kok, Mas. Aku hanya cape saja habis mengurus klien agak rewel." Nesya meringis, sesekali berbohong boleh, kan?
Glen hanya mengangguk, diam-diam mangamati gadis yang sepertinya berusaha terlihat kuat dan menyimpan masalah sendiri.
Namun, Glen tidak akan memaksanya jujur. Dia pernah berada di posisi Nesya merasakan sulitnya melenyapkan bayangan orang yang dicintai, bahkan sampai sekarang adegan pengkhianatan Miranda masih terekam jelas di memori.
"Makasih, ya, aku selalu merepotkan Mas," ujar Nesya selagi melepas seatbelt. Dia sudah tiba di kantornya melihat sosok perempuan dibalut blezer hitam sedang mengamati diri kejauhan. "Maaf lagi-lagi merepotkan."
Glan tersenyum samar. "Patah hati membuat kamu jadi gadis pemurung, ya. Tidak perlu terima kasih."
Lagi, Nesya terkejut oleh ucapan laki-laki yang sulit ditebak. "Iya, aku turun dulu, Mas."
"Sampai ketemu."
Nesya mengangguk sebelum keluar mobil, saat ketukan heelsnya sudah beradu lantai marmer, Almira langsung menyambut dengan tatapan curiga.
"Kamu ada hubungan apa sama mas Glen?" tuduh Almira dengan ekspresi tak suka, dia sudah bersedekap siap mengintrogasi. "Ingat hubungan kamu sedang ada masalah besar, bukannya diperbaiki malah jalan sama laki-laki lain, mantan pujaan hati lagi."
Nesya mengerutkan kening, kenapa, sih, orang-orang terdekatnya tidak belajar dari Glen cara memahami orang patah hati?
"Aku cape, please Nona biarkan aku masuk," sindir Nesya kalau-kalau sahabatnya lupa, dia baru saja tiba di depan kantor belum memasuki ruangan.
Almira berdecak. "Oke, enggak ada cerita galau lagi besok-besok. Kamu udah move on, tuh."
"Whatever," ujar Nesya malas selagi mengibas tangan ke udara seraya melangkah masuk, mengabaikan ocehan sahabatnya.