Semester baru, tahun ajaran baru tentu saja akan menjadi hari yang baru bagi Kayana dalam menyambut peserta didik baru. Kayana selalu penuh semangat menyambut mereka terlebih ia akan berhadapan mereka secara langsung.
Oh yeah. Ada yang ingin tahu seberapa hebat sekolah ini? Sekolah Swasta terbaik bertarap Internasional yang semua orang menginginkannya. Kita mulai dari sini.
Kayana memarkirkan kendaraannya, tepat di depan gerbang banyak mobil berjejer, silih berganti menurunkan anak-anak mereka. Dari mobil bermerek L, B dan keluaran terbaru seperti mobil bermerk H. Dari mulai anak konglomerat, turunan bangsawan hingga pejabat semua berkumpul di sini. Bahkan ia tidak jarang bertemu dengan orang-orang penting. Terlebih ini adalah tahun ajaran baru.
“Miss Kay.”
Kayana berbalik lalu tersenyum tipis. “Mr. Farrel.”
Lelaki itu—Farrel, salah satu guru pengampu pelajaran Bahasa Inggris. Farrel berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa beberapa paper bag, yang ia yakini sebagai bingkisan-bingkisan dari orangtua siswa.
“Bagaimana dengan hasil tesmu? Sudah keluar?”
Kayana mengangguk kecil. Hasil tes yang dimaksud adalah tes bahasa asing dan juga tes kompetensi yang selalu diadakan sekolah. Ya, selalu seperti itu setiap tahun, untuk memastikan kualitas pengajar di sekolah itu. Terlebih setiap tahunnya mereka selalu mendampingi siswa pertukaran pelajar, dan juga tour keluar negeri, dari mulai Singapura, Thailand, Hongkong, Jepang dan juga Korea.
Tes yang mereka jalani pun bukan tes sembarangan. Pihak sekolah setiap tahunnya selalu bekerja sama dengan universitas-universitas ternama di luar negeri. Salah satunya Universitas Y yang menguji tingkat bahasa Korea, dan Universitas K untuk menguji keilmuan Matematikanya. Ya, selalu Korea. Karena itu minat Kayana, beruntungnya pihak sekolah memberinya dukungan dan Kayana pun selalu di tunjuk sebagai perwakilan Guru yang mendampingi siswa ke negeri ginseng itu.
“Bagaimana hasil tesnya?”
“Tidak buruk Mr. Farrel, tapi tentu saja tidak akan sebaik Guru Bahasa Inggris sepertimu.”
“Bagaimana Bahasa Korea-mu?”
“Sudah cukup memenuhi standar untuk bisa mengambil pendidikan lagi di sana—.” Kayana tersenyum simpul. “—Jika ada kesempatan.”
Salah satu impian Kayana yang belum terpenuhi adalah melanjutkan pendidikan dengan gelar Ph.D di bidang Matematika di Universitas K, universitas terbaik di Korea dengan keilmuan matematikanya. Namun bertahun-tahun ia mengejar mimpi itu, masih tetap gagal. Terlebih ... ia terikat dengan sekolah ini. Akan sangat sulit pergi tanpa ada rekomendasi dari kepala sekolah dan yayasan.
“Mr. Farrel.”
Kayana menghentikan langkah saat seorang perempuan anggun melambaikan tangan pada Farrel, ia membungkuk kecil, memberi hormat pada perempuan itu lalu menyapanya. Setelah itu ia berpamitan untuk beranjak lebih dulu.
Kayana mendongak, menatap gerbang kedua sekolah itu. Ia tersenyum tipis melihat bangunan kokoh yang bertahun-tahun ia lihat itu.
“Hi Miss, selamat pagi.”
Kayana tersenyum. “Selamat pagi Adrian.”
“Miss sangat cantik dengan stelan berwarna kuning. Sangat cerah melebihi hari ini. Apalagi saat Miss tersenyum. Matahari pun pasti minder melihatnya.”
Kayana terkekeh kecil. “Terimakasih Adrian. Semester baru, semangat baru. Good luck boy.”
“Ugh ... Miss seharusnya Miss memanggilku Love? Darling atau baby? I’m not your boy.”
“Ah... baby? Apakah kamu baby berusia lima bulan?”
“Oh Miss sungguh tidak asik.”
Kayana terkekeh anggun.
“By the way, Miss ini hadiah dari ibuku. Terimakasih sudah membuat nilai Matematikaku melesat tanpa batas. Ibuku sangat bahagia dan jika berkenan, untuk semester ini ibuku ingin Miss menjadi mentorku lagi. Sebab bagaimana pun ujian akhir di depan mata, aku pun harus mendapat nilai baik agar bisa masuk universitas terbaik.”
Kayana mengangguk kecil. “Terimakasih, sampaikan juga rasa terimakasihku pada Bu Mentri. Jika memang ingin, Miss tidak akan keberatan Adrian. Tapi itu benar-benar kemauan Bu Mentri atau akal-akalanmu saja?”
“Miss! Bagaimana kamu tahu?” Kayana terkekeh kecil.
“Tentu saja, pasti kamu mengeluh tentang guru les baru bukan?”
“Guru les ku sangat menyebalkan, jangankan menyukai pelajarannya. Melihat wajahnya saja aku sudah malas. So please... say yes?”
“Oke. Kabari saja jadwalmu.”
“Yes! Finally she said yes!”
Kayana menggeleng kecil. “Miss tidak sedang menerima lamaranmu Adrian. Ada-ada saja.”
Adrian, murid itu tersenyum simpul. “Tidak masalah Miss, anggap saja simulasi. Oke?”
“Kalau begitu aku pergi Miss, aku harus kekelasku dulu. sampai jumpa di lapangan.”
Kayana mengangguk kecil lalu menggelengkan kepala. Setiap tahun, setiap angkatan selalu saja ada peserta didiknya yang seperti itu. Menggodanya, memberinya gombalan.
Kayana melirik paper bag di tangannya, sudah pasti jika bukan bergepok-gepok uang dalam benda itu, mereka akan memberikan tas bermerk, dari mulai merk G, C bahkan sampai tas kelas 1 bermerk H yang harganya beratus juta. Gila bukan?
Memang.
Awalnya Kayana enggan menerima itu. Akan tetapi pernah seorang orangtua siswa tersinggung karena ia menolak hadiah, berakhir dengan ia diberi peringatan oleh pemilik yayasan. So? Dengan sangat terpaksa ia selalu menerima hadiah apapun dari mereka. Dan karena itulah Kayana pun bersyukur. Setidaknya berkat hadiah-hadiah itu, kehidupannya banyak terbantu.
“Tidak ada yang berubah ya?”
Kayana terjengit, dengan gerakan cepat ia berbalik membuat tubuhnya limbung saat mendengar bisikan tepat ditelinganya itu. Beruntung lelaki itu menahan lengannya hingga ia tidak perlu terjatuh.
Kayana menepis tangan itu dengan cepat lalu mundur. Ia membasahi bibirnya sesaat lalu melirik ke kanan dan ke kiri.
“Tidak ada siapapun. Santai.”
“Kenapa kamu di sini Jaden? Aku rasa ini bukan tempatmu. Seharusnya kamu berada di kantor, mulai memimpin rapat.”
Jaden bukannya tersinggung, dia justru menyeringai. “Oh... kamu sudah tahu kalau sekarang aku memimpin perusahaan?”
Bola mata Kayana membesar.
“Kamu mencaritahu tentangku?”
Bola mata Kayana semakin membesar.
“Tidak, untuk apa? Seperti orang tidak ada kerjaan saja.”
Kayana meneguk ludahnya kasar, sebal seharusnya ia semalam tidak mencoba mencari nama Jaden di kolom pencarian.
“Aku datang mewakili orangtuaku, mereka tidak bisa hadir.”
Ah ya ... Kayana hampir lupa kalau orangtua Jaden sejak tahun lalu telah resmi menjadi pemilik yayasan. Tentu saja lelaki itu bisa datang kapanpun, terlebih saat ada acara besar seperti sekarang.
“Kalau begitu selamat menikmati acaranya, Mr. Jaden. Saya—.”
“Mr. Jaden, anda sudah sampai? Selamat datang kembali di sekolah.”
“Terimakasih banyak Mr. Adnan.”
“Kalau begitu mari saya ajak berkeliling dulu sebelum acara di mulai? Atau anda ingin beristirahat saja?”
“Saya pikir saya ingin berjalan-jalan saja Mr. Adnan.”
“Baik kalau begitu saya antar.”
“Tidak perlu. Saya ingin bersama Miss Kayana.”
Kayana mengerjapkan mata. Apa katanya?
“Tidak bisa Mr. Jaden. Saya memiliki beberapa pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya bertugas untuk mencatat kehadiran peserta didik baru dan memastikan kelas mereka sudah tepat.”
Jaden dengan menyebalkan menaikkan alisnya.
“Sibuk ya?”
“Ah tidak Mr. Jaden. Tidak. Miss Kayana tentu saja akan menemani anda. Tugas Miss Kayana bisa ditangani guru lain.”
Adnan, kepala sekolah di sana menyikut lengannya. “Sana temani Mr. Jaden.”
Kayana menahan napas sesaat, setelah itu tersenyum kaku. “Baiklah... mari Mr. Jaden.”
***
Jaden tersenyum penuh kemenangan seraya melirik Kayana yang tidak henti-hentinya mendengus dan menghembuskan napas kesal.
Kayana tampak sangat tertekan, tapi baginya ekspresi Kayana justru sangat menggemaskan. Satu ekspresi baru yang pertama kali ia lihat. Ya pertama, sebab dulu Kayana tidak pernah satu kali pun marah padanya, jangankan marah, kesal seperti ini saja tidak pernah sama sekali.
“Tidak bosan bertahun-tahun ada di sini?”
“Bosan pun aku tidak bisa pergi.”
Jaden tersenyum tipis mendengar jawaban tidak bersahabat itu. “Siswa mu masih saja ya ada yang menggoda. Aku tidak menduga ada yang sepertiku dulu. Apakah ada yang lebih buruk dariku dulu?”
“Kamu yang terburuk.”
“Baguslah.”
Kayana menghentikan langkah lalu menoleh ke arahnya, menatapnya dengan kening mengerut dan kedua tangan yang terlipat didada.
“Bagus?”
Jaden mengangguk. “Bagus, tidak ada yang bisa membuatmu berkesan melebihi yang kulakukan dulu.”
Kayana menarik ujung bibirnya. “Anda terlalu percaya diri Mr. Jaden. Saya tidak pernah mengatakan anda berkesan.”
“Kamu mengatakan aku terburuk. Itu berarti sikapku dulu berkesan untukmu.”
Jaden tersenyum kecil, melihat wajah Kayana yang semakin memerah, menahan marah.
“Kay... .” Jaden meraih tangannya.
“Apa sih? Lepas!”
Jaden justru semakin mengeratkan genggaman tangannya.
“Jaden aku beri peringatan sekali lagi. Lepas!”
“Tidak Kayana. Aku tidak akan melepaskanmu.”
“Jaden ini sekolah.”
“Itu berarti aku boleh melakukannya di luar sekolah?”
Mata Kayana membulat.
“Jaden.”
“Lepaskan.”
Jaden menoleh ke arah kanan. Tepat pada kedatangan seorang lelaki asing yang tidak Jaden kenali.
“Ini sekolah, tidak pantas sekali anda memegang tangan salah satu Guru kami.”
“Mr. Farrel, tidak... tidak apa-apa.”
“Lagipula anda siapa? Penyusup? Sebaiknya anda pergi dari tempat ini. Ayo Miss Kayana.”
Jaden menarik bibirnya saat melihat Kayana di tarik paksa lelaki itu.
“Kayana... beritahu dia. Siapa aku.”
Pertama Kayana melepaskan tangan dari cekalan lelaki itu. “Mr. Farrel dia ini Mr. Jaden. Anak dari Mr. Rajaswa. Mr. Jaden ini datang untuk mewakili Mr. Rajaswa yang tidak bisa hadir.”
Jaden tersenyum kecil setelah mendengar itu. Tapi sepertinya lelaki itu tidak gentar, dia justru menatapnya semakin berani.
“Jika memang anda benar-benar putra Mr. Rajaswa seharusnya anda lebih berpendidikan Mr. Jaden. Ini sekolah, seharusnya anda tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sini.”
Sebelah alis Jaden terangkat, mengamati gerak-gerik aneh dari lelaki di depannya itu. “Kenapa anda berkata seolah kami berbuat hal m***m? Ah... saya tahu, anda cemburu melihat Kayana bersama saya? Begitu?”
Jaden tersenyum tipis. “Sepertinya ada yang harus anda tahu Mr. Farrel. Dengar... baik-baik. Kami adalah pasangan. Kami ... hanya sedang berbicara sebagaimana mestinya pasangan. Jadi—.”
“Jaden!” geram Kayana.
Jaden bergeming dengan tatapan yang masih menatap tajam pada Farrel yang juga masih bergeming.
“Silahkan pergi. Tinggalkan kami. Selama saya masih memintanya baik-baik.”
“Mr. Farrel pergilah. Aku akan menemuimu nanti. Sekarang pergilah dulu...”
Lelaki itu mendengus kasar sebelum akhirnya beranjak pergi setelah mengelus pelan punggung tangan Kayana.
Pemandangan itu pun tidak lepas dari penglihatan Jaden. Hatinya bergemuruh, panas melihat bagaimana ibu jari lelaki itu mengelus tangan Kayana.
Jaden mendengus, lalu mengalihkan pandangan. Menahan amarah.
“Aku ingatkan Jaden. Kita bukan pasangan. Aku tidak pernah menerimamu dan kita tidak ada hubungan sedikitpun. Jadi jangan seenaknya mengatakan kita pasangan, atau sejenisnya. Karena kita tidak terlibat dalam hubungan itu dan sampai kapanpun tidak akan pernah.”
Jaden mengatupkan rahang, menahan napasnya seraya melangkah semakin mendekat ke arah Kayana.
“Ja—Jaden, ini sekolah, apa yang—.”
Jaden menarik lengan Kayana, menggenggamnya erat. Menahan Kayana untuk tidak mundur lebih jauh.
Jaden memejamkan mata, menahan hatinya yang sudah bergemuruh hebat, karena luapan emosi. Setelah itu menghembuskan napas perlahan, lalu menatap Kayana kemudian mendesis tajam.
“Jangan berpikir hanya karena di percobaan pertama kamu menolakku, lalu aku akan menyerah Kayana. Dibanding menyerah, aku akan semakin gencar mendekatimu. Aku akan pastikan aku bisa membalikkan hatimu, membuatmu mencintaiku hingga kamu tidak pernah bisa untuk berpikir pergi, meninggalkanku dan menjauh dariku.”