Kaylila selesai mandi. Dinginnya air telah menyegarkan tubuh dan pikiran Kaylila. Namun kemudian Kaylila sadar bahwa dia tidak memiliki pakaian untuk mengganti pakaian yang dipakainya saat ini. Kaylila masih membalut tubuhnya menggunakan piyama.
Kaylila mondar mandir didalam kamar dengan menggunakan piyama mandi saja. Kaylila menggigit jari tangannya, menyadari kekonyolannya. Kaylila tidak membawa apapun lagi selain kunci rumah yang berada didalam kantong pakaiannya.
Sekali lagi Kaylila menyesali kecerobohannya pagi ini. Semua gara-gara Genta. Dalam kebingungannya, terdengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian, Si Mbok masuk membawa tas belanjaan.
"Mbak Kaylila sudah mandi? Ini pakaian ganti untuk Mbak Kaylila. Mudah-mudahan cukup." Ucap si Mbok. Kaylila menerima tas tersebut. "Terima kasih bu, tapi ini punyanya siapa? Saya tidak membawa apapun kecuali kunci rumah saya." Ucap Kaylila.
"Oh, Mbak tidak perlu khawatir. Ini pakaiannya Mbak Nicken, adik bungsunya Mas Nosa. Mas Nosa tadi yang menghubungi Mbak Nicken langsung untuk meminta pakaian untuk gantinya Mbak Kaylila. Tadi sewaktu mbak sedang mandi, Pak Budi yang mengambilkannya. Mudah-mudahan pas di badannya Mbak." Ucap Si Mbok sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak ya bu. Maaf merepotkan." Jawab Kaylila sambil tersenyum. "Ucapan terima kasihnya langsung sama Mas Nosa saja, Mbak. Oh ya, panggil saya Si Mbok aja, Mbak." Ucap si Mbok. "Iya, Mbok. Terima kasih sekali lagi, karena sudah merepotkan si Mbok." Ucap Kaylila lagi.
"Mbak Kaylila mau sarapan sama apa? Tadi Mas Nosa pesan, kalau mbak Kaylila sarapannya tidak habis. Jadi, saya disuruh menyiapkan sarapan lagi untuk mbak." Kata si mbok.
"Tidak perlu repot-repot, Mbok. Saya masih kenyang. Saya sudah merepotkan Si Mbok dari tadi." Jawab Kaylila.
"Ya sudah kalau begitu. Si mbok tinggal dulu ya, Mbak. Mbak ganti pakaian dulu." Ucap si mbok kemudian berjalan keluar dari kamar dan menutup pintunya..
***
Saat Kaylila membersihkan diri di kamar tamu, Nosa memasuki kamarnya di lantai dua. Nosa berpesan pada si mbok untuk mempersiapkan keperluan Kaylila. Begitu pula dengan Pak Budi yang diberikan perintah untuk mengambil pakaian di rumah adik bungsunya Nicken untuk dipakai oleh Kaylila.
Nicken yang notabene mengetahui bahwa Nosa berkencan dengan seorang model, terkejut saat Nosa menghubunginya untuk menyiapkan pakaian muslimah satu set. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar bagi Nicken.
"Untuk siapa bajunya, Mas? Gladis kan tidak berjilbab? Mas punya pacar baru, ya?" Tanya Nicken spontan. "Ngomong apa sih kamu? Jangan banyak tanya, segera siapkan." Jawab Nosa segera.
"Idih… Mas sekarang pake rahasia-rahasiaan. Kenalin dong, Mas. Mama sama Papa pasti senang mendengar berita ini." Kata Nicken.
"Sudah, jangan macam-macam. Sekarang yang penting pakaian itu harus segera ada. Pak Budi sedang dalam perjalanan kesitu. Cepat, Ya. Mas tunggu. Assalamualaikum." Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Nosa. Tidak ingin melayani rasa ingin tahu adik bungsunya itu.
Nosa segera membersihkan diri. Keringat yang menempel di tubuhnya membuatnya gerah. Selesai mandi dan berganti pakaian, Nosa mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" Tanya Nosa kepada seseorang yang dihubunginya. "Oke. Segera beri kabar. Terima kasih." Nosa menutup panggilan teleponnya. Nosa menghembuskan nafas. Nosa tampak gusar.
***
Di kamar tamu, Kaylila telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawakan si mbok, titipan dari Nosa. Gamis sederhana berwarna hijau lumut lengkap dengan jilbab syar'I itu membalut tubuh Kaylila. Ukurannya pas.
Itu berarti bahwa ukuran tubuh Nicken sama dengan ukuran tubuh Kaylila. Kaylila mematutkan diri di depan cermin besar di kamar itu. Kaylila tersenyum. Sedetik kemudian senyum itu menghilang. Kaylila kembali mengingat tragedy lamaran dadakan Nosa kepada mamanya.
Kaylila menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, tersanjung dan entah perasaan apa namanya yang sedang dirasakan Kaylila. Keinginan yang sudah lama sekali tak kunjung terealisasi dan tiba-tiba dalam sekejap kata-kata lamaran itu dapat didengarnya secara langsung.
"Sombong, angkuh, menjengkelkan, menyebalkan, cuek, dingin, tidak bersahabat, sarkasme. Itu kelebihan yang dia miliki. Meskipun baru dua hari mengenalnya, tapi sudah bisa aku menilainya. Tapi, dia keren sekali…." Bisik Kaylila memukulkan kedua tangannya ke wajahnya.
"Aku ingin sekali menelpon mama. Mama pasti terkejut, mungkin juga senang karena pada akhirnya ada yang akan segera melamarku. Tapi, kenapa hari ini sial sekali. Genta yang membuatku malu, menjadikanku tontonan warga. Masa bodoh ah dengan Genta. Dia perlu diberi pelajaran. Sampai kapan dia akan menggantung hubungan yang tidak jelas juntrungan ini. Bikin kesal saja. Belum lagi aku juga tidak membawa ponsel. Mama pasti menelponku." Kata Kaylila sambil memonyongkan bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Kaylila kembali menatap wajahnya di cermin.
"Tapi, kenapa harus Nosa? Bukan Genta?" gumam Kaylila. "Apa sebenarnya tujuan Nosa sehingga dengan tegas dan berani melamarku dalam waktu sesingkat ini. Baru juga dua hari bertemu. Apakah hanya keinginan untuk segera mendapatkan istri yang menjadi tujuannya? Ataukah ada tujuan lainnya? Aku harus mencari tahu. Ada misi apa sebenarnya dia." Gumam Kaylila lagi.
Kaylila segera bergerak menuju pintu kamar, ingin mencari Nosa. Diruang tamu yang begitu besar dan mewah itu, Kaylila mencari-cari dimana Nosa berada. Pada bagian kiri tepat disebelah kamar yang digunakan Kaylila, terdapat ruang keluarga. Kemudian terdapat tangga menuju ke lantai dua.
"Tadi dia sempat mengatakan akan ke kamarnya diatas. Pasti melewati tangga ini." Bisik Kaylila.
Tiba-tiba dari arah belakang, si mbok muncul menyapa Kaylila.
"Lho, mbak Kaylila sudah selesai berganti pakaian? Alhamdulillah pas dipakai mbak. Sayang sekali mas Nosa tidak bisa melihat mbak dengan pakaian ini." Ucap si mbok sambil tersenyum kagum.
"Terima kasih, mbok. Tapi, pergi kemana Mas Nosa?" Tanya Kaylila penuh selidik.
"Waktu mbak sedang berganti pakaian, Mas Nosa terburu-buru pergi setelah menerima telepon. Tidak bilang mau kemana sih. Tapi Mas Nosa pesan, Mbak Kaylila biar disini dulu saja. Nanti Mas Nosa segera kembali setelah urusannya selesai. Begitu katanya." Jawab si mbok.
"Yah. Lama ga mbok. Saya harus sampai kapan disini. Ga enak aja rasanya." Ucap Kaylila kecewa.
"Kalau berpesan begitu, biasanya ga lama kok mbak. Mbak disini saja, saya temani. Mas Nosa juga berpesan supaya mbak bisa santai saja. Anggap dirumah sendiri." Jawab si mbok sambil tersenyum.
Kaylila hanya diam saja, masih kecewa dengan sikap Nosa yang pergi meninggalkannya dirumah sebesar ini tanpa mengatakan apapun.
"Ayo, mbak. Saya antar ke kebun belakang rumah. Saya perlihatkan tanaman koleksinya Mas Nosa." Ajak si mbok. Kaylila kemudian mengikuti si mbok ke belakang.
Tiba di belakang, Kaylila dihadapkan pemandangan taman dengan beraneka macam bentuk tanaman. Yang paling banyak adalah tanaman bonsai. Bermacam-macam tanaman bonsai yang sudah dibentuk di pajang di taman belakang ini.
Kaylila berdecak kagum. "Pria ini memiliki nilai plus, hobby mengoleksi tanaman bonsai. Tapi, kalau cuma membeli apa bagusnya. Dia kan punya banyak uang. Kalau kepengen, tinggal tunjuk." Batin Kaylila sambil mengamati tanaman bonsai milik Nosa di taman itu.
"Tanaman ini Mas Nosa sendiri yang menanam dan membentuknya mbak." Kata si mbok. Kaylila terkejut, seolah-olah si mbok bisa membaca pikirannya. "Kalau sedang tidak ada pekerjaan atau sedang susah hati, biasanya Mas Nosa bakal menghabiskan waktu disini. Sendirian. Kalau sudah begitu, kami tidak ada yang berani mendekati. Karena Mas Nosa tidak suka didekati kalau sudah begitu." Kata si mbok bercerita tentang majikannya. Tampak sekali si mbok begitu menyayangi dan perhatian pada Nosa.
"Mas Nosa sejak kecil saya yang mengasuhnya. Dia anak yang mandiri. Tidak suka dengan keramaian. Mas Nosa lebih percaya dan yakin kalau semua pekerjaan di handle nya sendiri. Susah sekali pokoknya mendapatkan teman yang cocok untuk mas Nosa ini. Selain saya, Pak Budi yang menjemput Mas Nosa dan Mbak Kaylia tadi, ada Mas Haris yang menjadi asisten Mas Nosa. Tapi Mas Haris baru sekitar lima tahun ini menjadi asistennya Mas Nosa. Sebelumnya dikerjakan sendiri, karena mas Nosa itu ga percayaan dengan orang lain. Susah betul pokoknya." Ucap si mbok sambil tersenyum.
"Mas Nosa itu kalau sama orang yang baru dikenal memang begitu, Mbak Kaylila. Tapi kalau sudah lama kenal, kita baru tahu kalau dia itu sebenarnya baikkkkkkkk banget. Perhatian. Oh ya mbak, selama saya kenal Mas Nosa. Mbak Kaylila adalah wanita pertama yang diajak pulang kerumah. Saya senang sekali waktu pertama kali melihat mbak Kaylila datang tadi. Saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya Mbak Kaylila ini. Maaf ya mbak Kaylila. Saya ikut senang kalau mas Nosa akhirnya menemukan tambatan hatinya. Usianya sudah 34 tahun. Kapan lagi mas Nosa akan berumah tangga kemudian punya anak." Si mbok tersenyum sambil menatap Kaylila. Kaylila hanya bisa menundukkan kepala sambil tersenyum mendengar penuturan si mbok.
***