Cold Wedding 3 : Menjijikkan

1615 Words
Rabella menggeliat. Dan seketika, kakinya terantuk oleh sesuatu dan membuatnya terbangun dari tidurnya. "Aw!" Rabella mengaduh saat kakinya yang masih terluka karena pecahan kaca, kini terkena oleh bangku di depannya. Membuat lukanya makin terasa sakit. Rabella mengerjapkan matanya. Tunggu. Apa tadi? Bangku? Rabella tersentak. Dia menatap ke sekeliling dan mendapati semua yang ada di hadapannya adalah bangku yang berjejer. Bangku yang tak lain adalah bangku dari bus yang dinaiki oleh Rabella. Sialan! Rabella tertidur dan sekarang dia tidak tahu ada di mana! Napas Rabella seketika tersendat panik. Dia berdiri di dalam bus yang gelap itu. "Di mana aku?" Bisiknya, bertanya pada diri sendiri. Rabella maju ke kursi paling depan. Dia menyentuh kaca besar di mobil bagian depan dan mengetuknya. "Tolong!! Ada orang di dalam bus sini!! Tolong!!" "Rabella..." Rabella tersentak. Dia berbalik, memeluk dirinya sendiri saat tidak mendapati siapapun di sana. Hanya bangku-bangku yang tidak ada orang. Dan entah kenapa, terlihat sangat menakutkan sekarang. "Siapa?" Tanyanya, entah pada siapa. "Tolong aku, Rabella..." "Siapa?!" Jerit Rabella, tidak dapat menahan diri untuk menangisi keadaannya. Sendirian. Di dalam bus yang gelap. Dan di tempat yang Rabella tidak ketahui. Kenapa juga Rabella harus tertidur di dalam bus?! "Rabella..." "Berhenti!!" Rabella menjerit. Dia berjongkok di tempatnya. Menutup telinganya dengan erat. Rabella tahu, itu suaranya. Namun Rabella tetap takut pada bisikan itu. "Maafkan aku, Rabella..." "DIAM! KUMOHON!!" Jerit Rabella, menangis dan makin beringsut di tempatnya. Rabella ketakutan. Ketakutan dengan bisikan yang tiba-tiba muncul dari pikirannya itu. Ketakutan dengan suaranya yang seolah di duplikat. "Rabella..." "Diam! Kumohon!" Isak Rabella, makin menutup telinganya namun suara itu tak kunjung hilang. "Rabella..." "Kumohon..." Rabella menutup matanya erat. "Rabella..." "Rabella..." "Rabella..." "Rabella!" "Rabella!" Rabella membuka matanya kali ini. Dua panggilan yang terakhir, entah kenapa terasa teredam dan jauh. Dan lagi, itu suara pria! "Rabella!!" Kali ini teriakannya terdengar jelas. Rabella berdiri dengan segera. Dia kembali memukul-mukul kaca di depannya. "Alva!! Aku di sini!! Alva!!" "Rabella?! Di mana kau?!" Teriak Alva lagi. Kali ini terdengar lebih tenang. Tidak terburu-buru seperti sebelumnya. "Di sini, Alva!! Di dalam bus!!" Rabella kembali memukul-mukul jendela. "Aku sedang memukul-mukul jendela!! Ikuti suaranya!!" Teriak Rabella sambil memukul jendela kembali. Suara Alva tidak lagi terdengar. Rabella memukul jendela lebih kuat. "Alva!! Kau mendengarnya?! Alva!!" Namun tidak terdengar suara lagi. Apa Rabella hanya berhalusinasi? Halusinasi seperti sebelumnya. Halusinasi seperti saat ada yang memanggilnya dan meminta maaf pada Rabella. Rabella menangis kembali. Dia memukul jendela lebih kuat. "Alva!!" Teriaknya putus asa, namun tidak ada suara lagi yang menjawab. Tangan Rabella sudah sangat sakit, dan Rabella masih sendirian di dalam bus ini. Rabella menghentikan pukulannya. Dia memejamkan matanya erat. Menangis kembali. Tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan sekaligus kedinginan. Rabella ingin pulang. Rabella ingin kembali ke rumah Alva. Walaupun di sana juga dingin, tapi Rabella lebih menyukai kedinginan di sana daripada kedinginan di sini. Rabella kembali memeluk dirinya sendiri. Menangis. Menatap jalanan sepi yang menakutinya. Namun hal itu lebih baik daripada bangku-bangku kosong di belakangnya yang membuatnya merinding. DUG! Rabella tersentak. Dia menoleh ke samping, dan mendapati Alva sedang mengetuk-ngetuk pintu bus. Rabella buru-buru berjalan ke sana, terjatuh karena tangga di sana, namun Rabella tidak peduli. Dia kembali berdiri, berjalan ke arah Alva yang masih di luar. "Alva! Tolong aku!" Teriaknya, kembali menangis. Alva menunjuk-nunjuk ke arah pintu. "Tarik benda yang seperti tombol di sana! Itu adalah kunci untuk membuka pintu!" "Hah? Di mana?" Tanya Rabella sambil menghapus air matanya, mencoba menenangkan diri. "Di pintu ini! Dekat jendela! Menunduklah!" "Hah?" Rabella menunduk, namun yang dilihatnya bukanlah tombol yang seperti Alva katakan. Melainkan wanita yang berlumuran darah. Rabella berteriak kencang. Dia memundurkan tubuhnya, dan terjatuh ke belakang. Rabella memejamkan matanya erat. Teriakannya tidak berhenti. Rabella hanya menangis kencang sambil menutup telinganya. Rabella mengabaikan teriakan Alva dan juga Alva yang sedang mengetuk pintu. Rabella tetap menutup matanya. Dia tidak mau melihat hantu lagi. Hantu menyeramkan yang berlumuran darah dengan baju pengantin yang dikenakannya. Dan yang lebih menakutkan adalah, hantu itu berwajah seperti Rabella. "Rabella! Rabella!" Rabella berteriak ketika merasakan sentuhan tangan dingin di bahunya. Dia makin memundurkan tubuhnya, namun tangan dingin itu menahannya. "Hey! Hey! Ini aku! Alva!!" Ucap orang yang memanggil Rabella. Rabella membuka matanya, dia mendapati Alva sudah berada di hadapannya. "A-Alva..." Alva terlihat lega walaupun ekspresinya tetap sama. "Iya, ini aku." Rabella bukannya menghentikan tangisnya. Dia malah menangis makin kencang. Tidak peduli bahwa yang di hadapannya adalah lelaki yang dibencinya, Rabella dengan refleks segera memeluk Alva dan menangis kencang di telinga Alva. Dia tidak peduli Alva akan mendorongnya dan mengumpat padanya. Rabella hanya ingin ketenangan. "Aku sangat takut..." Isaknya kencang, mengeratkan pelukannya di bahu Alva. Tanpa di duga-duga, Alva membalas pelukan Rabella. Lebih tepatnya, Alva mengangkat tubuh Rabella dan keluar dari bus itu dengan Rabella yang ada di gendongannya. Alva berjalan dengan hati-hati keluar dari bus. Dia menutup pintu bus dan dapat Rabella lihat, kaca pintu bus itu sudah rusak dan berserakan di tanah. Entah bagaimana Alva memecahkannya, Rabella tidak ingin tahu. Dia hanya ingin menangis. Rabella akhirnya didudukkan di kursi mobil. Alva mencoba melepaskan tangan Rabella dari tubuhnya, namun Rabella tidak mau. Dia malah makin mengeratkan pelukannya. "Tadi ada hantu di sana..." Isaknya, merengek pada Alva. Alva membuang napas panjang. "Tidak ada hantu di dunia ini." "Kau bilang begitu karena kau tidak mengalami apa yang kualami!" Isak Rabella, makin kencang. "Hantunya berdarah-darah. Aku takut sekali..." Akhirnya Alva mengalah. Dia diam sementara Rabella tetap menangis di dalam pelukan Alva. Sesegukan seperti anak kecil. Rabella ternyata sangat cengeng. Bahkan, Rabella sendiri terkejut dengan sifatnya yang satu ini. Walaupun Rabella hilang ingatan, tapi tubuhnya tidak kehilangan ingatan. Sifat cengengnya masih tetap ada. Beberapa menit kemudian, Rabella mulai tenang. Dia mendusel-duselkan hidungnya pada pakaian Alva, menyetorkan ingusnya yang keluar. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Alva, karena kepalanya berada di bahu Rabella, Alva tidak tahu apa yang Rabella lakukan. Rabella yang masih tersisa sesegukannya saja, hanya menjawab, "Apa maksudmu?" Tanyanya, pura-pura tidak tahu. Alva hanya mendengus. "Sudah. Lepaskan pelukanmu." Rabella menurut. Dia melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Alva. Dan mata Rabella seketika membuka lebar ketika mendapati punggung tangan Alva yang terluka. "Tanganmu!" Rabella mencoba meraih tangan Alva, namun Alva malah menjauhkan tangannya dari Rabella. "Bukan apa-apa." "Bukan apa-apa apanya?!" Rabella berteriak marah. Dengan keras kepala, dia meraih tangan Alva dan menatap luka-luka di sana. Dan ada beberapa pecahan kaca yang masih tertusuk di punggung tangan Alva. "Ini parah! Kau memecahkan kaca dengan kepalan tanganmu?! Memangnya, aku Spiderman huh?" Alva menarik tangannya dengan kasar. "Ini gara-gara kau! Kenapa harus berteriak-teriak tidak jelas seperti itu?!" "Tidak jelas?! Sudah kukatakan kalau aku melihat hantu!" "Sudah kubilang tidak ada hantu di dunia ini!" "Itu karena kau belum melihatnya saja!" Alva membuang napasnya, mencoba untuk bersabar pada Rabella. "Sudahlah. Ini bukan urusanmu." Ucapnya, dan menjauh. Menutup pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil dari pintu yang lain. Rabella menatap Alva sesekali. Ingin sekali dia meminta maaf tapi rasanya sangat gengsi. Rabella akhirnya hanya dapat memilin tangannya sendiri sedangkan Alva mulai menjalankan mobilnya pergi dari sini. Rabella menelan ludahnya dengan susah payah. "Berarti kita sudah impas." Alva hanya melirik Rabella sejenak. "Apanya?" Tanyanya dengan alis mengernyit. "Lukanya," kata Rabella. "Kau melukaiku," tunjuknya pada kakinya yang di plester di beberapa sisi. "Dan kau yang terluka karenaku." Tunjuknya pada punggung tangan Alva. Alva hanya mendelik sinis dan menjalankan mobil dalam diam. "Dan terima kasih," kata Rabella. Lebih sudi mengucapkan terima kasih daripada meminta maaf pada pria yang punya banyak salah padanya. "Karena sudah menolongku ke sini." Alva hanya membuang napas. "Kenapa juga kau bisa sampai nyasar ke sini? Untung saja kau ada di sini. Bagaimana jika kau turun di suatu tempat yang tidak kutahu?" Rabella menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku..." Rabella menghentikan ucapannya sejenak. Dia menelan ludah. Lebih tepatnya, menelan rasa malu. "A-aku ketiduran." Alva mengerem mendadak. Dia menatap Rabella dengan pandangan tidak percaya. "Apa katamu?!" Rabella menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku ketiduran." Cicitnya, mengulang. Alva tertawa hambar. Tawa tidak percaya ucapan Rabella adalah asli. "Kau ketiduran?" "Um." "Di dalam bus?" "Um." "Kapan kau bangun?" Rabella kembali menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "T-tadi. Beberapa menit sebelum kau datang." Alva mendengus. Dengusan tidak percaya dengan ucapan Rabella. "Apa kau sadar berapa jam perjalanan untukku sampai ke sini?!" Rabella melirik Alva yang terlihat marah, kemudian menggeleng. "Tidak." "DUA JAM!" Teriak Alva kencang, membuat Rabella tersentak. "Dan tadi, apa kau bilang? Baru bangun beberapa menit yang lalu?! Aku bahkan tidak sempat tidur!" Rabella menelan ludahnya dengan susah payah. Ingin sekali dia meminta maaf. Tapi tidak mau. Alva kan berengsek. Dia tidak mau meminta maaf pada orang yang tidak meminta maaf pada Rabella. Alva akhirnya menghembuskan napas panjang. Dia kembali menjalankan mobilnya. "Jika saja keluargamu tidak akan datang besok, aku tidak akan mau menjemputmu malam-malam begini." Kali ini, Rabella mengangkat kepalanya, tidak percaya dengan ucapan yang dikeluarkan Alva. Jadi, pria ini menjemput Rabella dengan terpaksa? Pria ini bukannya mengkhawatirkan Rabella, tapi tidak ingin image nya jelek di mata orangtua Rabella? Rabella menatap jam yang terdapat di dashboard. Dan mendapati bahwa sekarang sudah pukul 1. Kalau perjalanan Alva ke sini adalah 2 jam, berarti, Alva memiliki 2 jam lagi waktu sesudah pulang kantor. Dari pakaian yang dikenakan Alva dan wangi segar yang menguar dari tubuh Alva, itu menyatakan bahwa Alva menyempatkan diri untuk mandi. Dan pria ini, pulang kerja bukannya mencari Rabella, malah mandi dan bersantai lebih dulu?! Rabella menatap jalanan dengan pandangan kosong. Betapa takutnya dirinya tadi, Alva mungkin tidak akan mengerti. Rabella merasa jijik pada diri sendiri, sekarang. Mengetahui bahwa dirinya sempat memeluk Alva, membuat Rabella muak pada dirinya sendiri. Alva yang tadi berciuman dengan wanita lain, dan belum 24 jam, Rabella sudah memeluknya. Menjijikkan sekali. Rabella dan juga Alva, menjijikkan sekali. Rabella sangat ingin mengakhiri pernikahan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD