Bangun dari pingsannya, Rabella tidak lagi bertanya-tanya di dalam hati tentang apa yang terjadi dan di mana dia sekarang. Yang dipikirkan oleh Rabella hanya satu. Yaitu, sudah berapa kali dalam seminggu ini dia pingsan karena menjadi korban kejahatan Alva. Rabella hanya menghela napas panjang dan merubah posisinya menjadi miring, ingin kembali tertidur dan bangun esok lagi. Kalau bisa, dia tidur untuk selama-lamanya. Pergerakan Rabella terhenti saat merasakan sengatan sakit di punggung tangannya. Ketika ia mengangkat tangannya, darah sudah mengucur dari tempat di mana infus menusuk punggung tangannya. “Kali ini diinfus. Apa besok aku akan ke rumah sakit?” “Kuharap tidak.” “KYAAAA KAGET!” Rabella berteriak kencang saat suara asing itu mengisi kamarnya. Rabella melotot melihat ada orang

