Sekali lagi Ayu menatap sekitarnya, memastikan tidak ada orang yang melihatnya berjalan menuju mobil Alvin yang sudah terparkir di dekat halte bus.
Sesampainya di mobil itu, Ayu langsung masuk ke dalam. Namun, tanpa Ayu sadari, saat ia masuk ke dalam mobil suaminya itu, sosok Sarah yang tengah mengendarai mobilnya tanpa sengaja melihat Ayu yang baru saja masuk ke dalam mobil hitam itu.
Sarah mengernyitkan keningnya heran. Kemudian saat dia melewati mobil yang ia ketahui milik Alvin itu, Sarah dengan sangat jelas melihat sosok Ayu memang berada di dalam mobil tersebut.
Dari kaca spion mobilnya, Sarah bisa melihat Ayu tengah memasang sabuk pengamannya, sedangkan Alvin diam menatap lurus ke depan.
“Mereka berdua ... enggak, enggak mungkin,” lirih Sarah. “Mereka berdua pasti lagi ada urusan, makanya pulang bareng,” cakapnya pada diri sendiri.
Sarah menghela napasnya pelan, kemudian ia menginjak gasnya hingga membuat mobil yang dikendarainya itu melaju kencang, menembus jalanan malam yang semakin sunyi dan sepi.
***
Dalam perjalanan pulang, Ayu dan Alvin hanya saling diam, tidak ada satu pun di antara mereka yang mau berinisiatif untuk membuka obrolan.
Namun, diamnya Alvin berbeda dari biasanya, Ayu merasa kalau Alvin seperti sengaja mendiamkannya, pria itu seolah diam membisu karena tengah marah pada Ayu.
Ayu yang tidak mau Alvin marah pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka obrolan. Ayu menatap ke arah Alvin, memandang lekat suaminya itu.
Alvin sebenarnya sadar kalau Ayu tengah memandanginya, ia bahkan juga merasa risih karena tatapan polos Ayu itu tampak sangat menggemaskan.
“Pak Alvin marah ya sama saya?” tanya Ayu.
Alvin tak menanggapi, pria itu sengaja berpura-pura tidak mendengar apa yang barusan Ayu tanyakan padanya.
“Pak Alvin?” panggil Ayu, mendesak Alvin untuk menjawab. “Pak Alvin marah ya sama saya?” ulangnya.
Alvin menatap ke arah Ayu sekilas, lalu kembali fokus pada jalanannya lagi.
“Siapa yang marah sama kamu,” jawab Alvin. “Kamu enggak lihat saya lagi nyetir? Saya enggak biasa ngobrol pas lagi nyetir” tukasnya.
“Oh, maaf, Pak,” cicit Ayu.
Alvin tak lagi menanggapi, dia benar-benar mengunci mulutnya dan tidak ingin berbicara banyak dengan Ayu. Karena sebenarnya, Alvin memang sedang kesal pada Ayu. Tapi, jika ditanya ia kesal karena apa, Alvin tak dapat menjelaskannya secara logis.
Pada intinya, Alvin sangat tidak suka melihat Ayu yang belakangan ini terlihat sangat dekat dengan pria yang ia tahu bernama Reza. Alvin selalu merasa kesal setiap kali ia melihat Ayu bersama pria itu.
Alvin tidak tahu kenapa, ia hanya merasa jantungnya seperti dipacu oleh emosinya, hingga membuat pria itu merasa sangat kesal.
***
Keheningan yang terjadi antara Ayu dan Alvin terus berlanjut sampai mereka tiba di rumah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alvin langsung keluar dari dalam mobilnya itu. Dia benar-benar mengabaikan Ayu, yang seolah tidak pernah ada dalam pandangannya.
Ayu yang melihat gelagat suaminya itu hanya bisa diam dan pasrah. Perempuan itu kemudian segera keluar dari dalam mobil tersebut, sebelum keyless entry yang dibawa oleh Alvin mengunci mobil itu secara otomatis.
Di dalam rumah, Alvin langsung masuk ke dalam kamar, pria itu benar-benar bergerak tanpa suara. Ayu bahkan merasa lebih baik jika dia dimarahi oleh Alvin daripada didiamkan seperti sekarang ini.
Ayu menghela napasnya berat. Ia sudah tidak tahan lagi jika terus didiamkan seperti ini.
“Pak Alvin,” panggil Ayu, menatap Alvin yang sedang menyiapkan baju gantinya sendiri. Padahal biasanya pria itu selalu memerintah Ayu untuk menyiapkan segala keperluannya.
“Pak Alvin marah ‘kan sama saya?” tanya Ayu.
Alvin berhenti bergerak, kemudian helaan napas berat terdengar dari diri pria itu.
“Enggak,” jawab Alvin singkat, kemudian menutup lemarinya dan bersiap untuk pergi mandi.
“Pak Alvin jangan bohong,” desak Ayu. “Saya tahu Pak Alvin marah sama saya,” lanjutnya.
Alvin kembali mengembuskan napas beratnya, lalu menatap Ayu yang tampak frustrasi melihat suaminya itu bungkam seribu bahasa.
“Saya enggak bohong,” kata Alvin, nada suaranya benar-benar terdengar sangat tenang. Sungguh berbeda dengan sosok Alvin yang biasanya.
Kemudian, Alvin kembali melangkah menuju kamar mandi yang ada di pojok kamar, tetapi Ayu dengan cepat menghentikan langkah Alvin, ia sengaja menghalangi langkah suaminya itu.
“Minggir,” suruh Alvin.
Ayu menggelengkan kepalanya. “Saya minta maaf,” ujar Ayu kemudian.
“Untuk apa kamu minta maaf?” tanya Alvin, ekspresi wajahnya terlihat sangat datar.
“Saya salah,” jawab Ayu.
Alvin menghela napasnya pelan, lalu menatap istrinya itu lekat.
“Kamu tahu apa kesalahan kamu?” Alvin kembali bertanya.
Ayu mengangguk. “Iya, saya tau,” jawabnya.
“Apa?” tanya Alvin, lagi.
“Saya dan Reza—”
Ehem.
Alvin tiba-tiba berdehem keras “Saya belum pernah kasih tahu kamu, ya?” sela Alvin. “Saya paling enggak suka denger pasangan saya sebut nama cowok lain di depan saya. Apalagi cowok yang kamu sebut itu lagi deket sama kamu,” tukasnya.
Ayu diam, ia tampak bingung, sampai kemudian Ayu kembali bersuara.
“Tapi kemaren malem Pak Alvin bilang saya bebas mau deket sama cowok mana saja,” cakap Ayu, membuat Alvin teringat dengan perkataannya semalam.
Alvin pun seketika menyesal karena sudah berceloteh tanpa memikirkan kerugiannya di masa depan.
Namun, Alvin adalah seseorang yang pandai berkilah lidah, apalagi yang dihadapinya adalah sosok Ayu yang baginya hanya seekor marmut kecil. Alvin tentu akan mampu memutar balik fakta sesuka hatinya.
“Tapi saya enggak ada bilang sama kamu kalau saya suka denger kamu sebut nama cowok lain di depan saya, ‘kan?” pungkasnya.
“I-iya sih.”
“Jadi mulai sekarang, kamu harus inget itu. Jangan sebut nama cowok lain yang lagi deket sama kamu di depan saya,” timpal Alvin, menatap Ayu tajam. “Paham kamu?” tanyanya, tegas.
“Pa-paham, Pak,” jawab Ayu.
“Mas,” ujar Alvin. “Berapa kali saya harus ingetin kamu? Panggil sama ‘Mas’ kecuali pas kita lagi kerja,” suruhnya.
“I-iya, Mas,” cicit Ayu, yang masih merasa kaku memanggil Alvin dengan panggilan seperti itu.
Alvin tampak merasa puas. Kemudian, pria itu menggeser tubuhnya dari hadapan Ayu, menggunakan jalan lain untuk segera pergi ke kamar mandi.
“Mas enggak marah lagi sama saya, ‘kan?” tanya Ayu, menatap punggung suaminya yang hampir masuk ke dalam kamar mandi.
Alvin tampak mematung di ambang pintu kamar mandi. Cukup lama. Sampai beberapa saat berlalu, dan Alvin baru menolehkan wajahnya ke arah Ayu.
“Tergantung sikap kamu ke depannya. Kalau kamu bisa bersikap baik dan nurut sama saya, saya enggak akan marah lagi sama kamu,” cakap Alvin. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu rapat.
Ayu mengembuskan napasnya lega. Akhirnya perang dingin yang sempat Alvin kobarkan telah mereda. Setidaknya Ayu sudah merasa tenang dan tidak bingung lagi dengan sikap Alvin yang membisu seperti tadi.