BAB 1 DESIR ANGIN DI DESA HENING

717 Words
Pagi di Desa Hening selalu datang perlahan, seolah waktu enggan beranjak dari malam. Embun masih menggantung di ujung dedaunan saat Ayla membuka jendela rumah kayunya yang sederhana. Udara pegunungan menyapa dengan dingin yang bersih, membawa aroma pinus dan tanah basah. Di kejauhan, matahari mulai naik dari balik bukit, menebarkan cahaya keemasan ke atap-atap rumah penduduk desa yang berjajar rapi. Ayla berdiri sejenak di ambang jendela, membiarkan matanya menyapu hamparan hijau dan kabut tipis yang melayang. Ia mendesah pelan, lalu mengambil keranjang rotan miliknya. Hari ini, seperti biasa, ia akan pergi ke hutan untuk mencari ramuan obat. Di desa itu, Ayla dikenal sebagai penyembuh muda. Ia mewarisi bakat dari ibunya yang telah lama tiada. Bakat yang membuatnya disukai sekaligus ditakuti. Beberapa warga menyebutnya “anak hutan”, sebab ia sering menghilang berjam-jam, bahkan berhari-hari di tengah pepohonan lebat. Tapi Ayla tidak peduli. Hutan adalah tempat di mana ia merasa hidup—jauh dari tatapan curiga, dari gosip, dari batas-batas desa yang sempit. Pagi itu, ia menyusuri jalan setapak yang biasa dilaluinya, kaki telanjangnya menyentuh tanah dingin dan lembut. Burung-burung berkicau dari atas dahan, dan suara gemericik sungai terdengar di kejauhan. Ayla memetik daun sirna dan bunga kashira dengan cekatan, memasukkannya ke dalam keranjang. Tapi tak lama kemudian, ia mendengar suara lain—seperti rintihan. Suara itu datang dari balik semak belukar, dalam area hutan yang jarang ia datangi. Ayla berhenti, tubuhnya menegang. Tapi rasa takut kalah oleh rasa penasaran. Dengan hati-hati, ia menyibak semak dan menemukan sosok tubuh tergeletak di antara akar pohon besar. Itu adalah seorang pria. Tapi bukan pria biasa. Tubuhnya tinggi dan berotot, meski kini tampak lemah tak berdaya. Di dahinya tumbuh dua tanduk patah, dan dari punggungnya menjuntai sayap hitam robek, berlumuran darah. Pakaiannya compang-camping, dan kulitnya lebih pucat daripada manusia biasa. Ayla menahan napas. Makhluk ini… bukan manusia. Ia tahu itu. Mungkin ini iblis, seperti dalam cerita-cerita tua yang sering diceritakan penduduk desa. Namun, saat matanya bertemu dengan mata si makhluk—mata merah yang tampak penuh rasa sakit—Ayla tidak bisa bergerak. Bukan karena takut, tapi karena iba. Tanpa banyak berpikir, ia merobek ujung roknya dan menekan luka di perut pria itu untuk menghentikan pendarahan. Ia tidak tahu siapa dia, dari mana datangnya, atau apa tujuannya berada di sini. Tapi satu hal yang ia tahu: makhluk ini sedang sekarat. Dan Ayla tidak bisa membiarkannya mati. Dengan susah payah, ia menyeret tubuh besar itu ke atas sehelai kain dan menariknya kembali ke desa. Ia melewati jalur belakang agar tak terlihat, lalu membawanya ke ruang bawah tanah di rumahnya—tempat ia biasa menyimpan herba kering. Di sanalah, dengan cahaya lentera dan aroma ramuan, ia mulai merawat luka-luka makhluk itu. Beberapa hari berlalu. Pria itu belum sepenuhnya sadar, tapi napasnya kini teratur. Ayla membersihkan lukanya setiap pagi dan malam, mengganti perban, dan menyuapinya air madu. Ia tetap bungkam kepada penduduk desa. Bahkan kepada Lian, tetangga terdekatnya. Saat malam ketiga, suara serak terdengar dari sudut ruangan. “Kenapa kau menolongku?” Ayla, yang sedang mencampur ramuan di sudut ruangan, menoleh perlahan. Mata pria itu terbuka, memandang langsung ke arahnya. “Kau butuh bantuan,” jawab Ayla tenang. “Dan kau masih hidup.” “Kau tahu aku bukan manusia…” “Aku tahu,” bisiknya. “Tapi luka adalah luka. Entah milik manusia… atau bukan.” Pria itu terdiam sejenak. Lalu, dengan suara rendah, ia berkata, “Namaku Kael.” Ayla tersenyum tipis. “Aku Ayla.” Mereka tidak bicara lagi malam itu, tapi perkenalan itu menjadi awal dari sesuatu yang aneh dan tak terduga. Hari-hari berikutnya, Kael mulai bisa duduk dan membantu dirinya sendiri. Meski tubuhnya sembuh perlahan, sorot matanya tetap menyimpan luka lama. Ayla bisa melihatnya—kesepian, kelelahan, dan rasa bersalah yang dalam. Kael tidak pernah menceritakan masa lalunya, tapi Ayla tahu bahwa ia bukan sekadar makhluk buangan. Ia bukan monster seperti yang diceritakan dalam legenda. Ia adalah jiwa yang tersesat, yang memikul beban yang tidak bisa dijelaskan. Dan meski Ayla tahu keberadaannya berbahaya, hatinya tetap memilih untuk percaya. Karena di balik tatapan Kael, ia melihat seseorang yang hancur, bukan karena kejahatan, tapi karena kehilangan. Di desa yang tenang itu, dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi dari dunia, sesuatu mulai tumbuh. Bukan hanya kepercayaan, tapi sesuatu yang lebih hangat, lebih dalam. Dan Ayla tahu, hidupnya takkan pernah sama lagi. Bersambung......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD