Alia

1002 Words
Aku hanya bisa duduk di depan cermin sembari menyisiri rambut panjangku yang indah . Aku tidak menyangka akan memberikan keperawananku kepada laki-laki yang tidak kucintai sama sekali. Padahal aku berharap memberi keperawananku kepada Arka setelah kami menikah. Sayangnya Arka meninggalku dan lebih memilih mengejar karirnya ke Amerika. "Hai, Alia. Apakah kamu sudah siap?" tanyanya dengan memelukku dari belakang. "Terserah kamu, mau lakukan apa terhadapku." Ucapku. Aku hanya bisa pasrah dan menangis meratapi nasibku untuk memberi keperawanan ku kepada laki-laki yang tidak kucintai tetapi sudah sepantasnya dia mendapatkan itu karena dia adalah suamiku. "Aku tahu kamu belum siap . Aku akan memberikan waktu kepada kamu sampai benar-benar siap." Ucap Zafran, suamiku. Aku merasa lega karena Zafran memberi waktu sampai aku benar-benar siap. Aku berharap secepatnya bisa melupakan Arka mantan pacarku dan bisa belajar mencintai Zafran suamiku. "Makasih, atas pengertiannya, Mas." Aku berdiri dan memegang kedua tangan Zulfan. "Sama-sama, mendingan sekarang kamu tidur." Zafran melepaskan tanganku. Aku merasa senang saat Zafran memberi waktu diriku sampai benar-benar siap tetapi aku juga merasa bersalah kepada Zafran karena belum menjadi istri yang baik untuknya. "Aku belum mau tidur, Mas. Aku ingin menaruh baju-bajuku kelemari terlebih dulu" Aku menata baju-bajuku kelemari. "Aku bantuin,ya." Zafran membantuku menata baju-bajuku." Aku tidak menyangka Zafran sebaik ini kepadaku. Aku berfikir kalau Zafran itu orangnya egois dan seenaknya, ternyata pikiranku ini salah. "Kenapa kamu mau sama aku?" tanyaku kepada Zafran. "Saat pertama aku melihat kamu, aku sudah jatuh hati kepada kamu. Kamu perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta." Ucap Zafran sembari menatap mataku. Aku sangat gugup ketika Zafran memandang diriku seperti itu. Tatapan matanya seperti waktu itu Arka memandangku tetapi aku juga takut jika Zafran akan meninggalkanku seperti Arka meninggalkanku waktu itu. "Kamu bisa aja, Mas." Ucapku "Alia, aku ingin memberikan hadiah untuk kamu." Zafran memberikan sebuah bingkisan kado untuk diriku. "Makasih, Mas. Aku membuka bingkisan kado yang diberikan Zafran kepadaku. Aku sangat terkejut ketika Zafran memberikanku sebuah dress dan kalung yang indah untukku. "Sebenarnya, aku siapkan ini untuk malam pertama kita. Aku ingin kamu memakai dres itu!" perintah Zafran kepadaku. Aku tidak mungkin menolak perintah Zafran kepadaku, dengan terpaksa aku memakai dress yang diberikan Zafran walaupun aku tidak menyukainya sama sekali. "Ya udah, aku akan pakai baju ini." Ucapku. "Kamu sangat cantik memakai dress itu," ujar Zafran kepadaku dengan tersenyum. "Kamu bisa aja." Ucapku "Aku pakaikan kalungnya, ya." Zafran memakaikan kalung tersebut keleherku. Jantungku berdetak kencang saat Zafran memakaikan kalung untukku. Aku baru pertama kali menggunakan kalung semewah ini. "Kalungnya bagus banget. Pasti harganya sangat mahal." Aku memegang kalung tersebut. "Kamu jangan mikirin harga. Kamu suka tidak dengan kalung itu?"tanya Zulfan kepadaku. "Suka banget. Seumur hidup, aku baru pakai kalung semahal ini." Alia memandangi kalungnya yang indah. "Aku berjanji akan membelikan kalung yang lebih mahal dari ini. Mendingan sekarang kamu tidur." "Iya, aku akan tidur." Ucapku "Kamu gak tidur juga?" tanyaku. "Aku belum mau tidur, aku ingin memesan tiket untuk kita berlibur terlebih dulu." Ucap Zafran. Aku segera pergi ke tempat tidur untuk tidur, sementara Zafran sibuk untuk mencari tiket untuk kita berlibur. Saat aku lagi enak-enak tidur Zafran membangunkanku. "Alia, bangun." Zafran membangunkan aku yang sedang tertidur. "Aku pengen istirahat, Mas. Aku capek." Aku kesal terhadap Zafran karena membangunkanku tengah malam. "Ada telpon untuk kamu." Zafran memberikan telponnya kepadaku. Aku terkejut ternyata yang menelponku adalah Andi temanku sejak SD. "Siapa yang menelepon kamu malam-malam gini?" tanya Zafran kepadaku. 'Ini, teman dekatku. Palingan dia mau marah sama aku karena aku tidak mengundangnya ke acara pernikahan kita." "Dia laki-laki atau perempuan? aku gak mau kamu punya teman dekat cowok." Zafran memegang tanganku "Ini Andi temanku dari SD, kamu gak usah cemburu." Ucapku. "Aku suami kamu, Alia. Aku gak mau kamu dekat dengan pria lain selain aku." Zafran membanting handphoneku hingga rusak. Aku sangat kesal dan Zafran kepada Zafran karena membanting handphoneku hingga rusak. "Mas, kamu cemburuan banget. Kamu itu kayak anak kecil." Aky mengambil handphonenku yang rusak. Zafran ingin menampar wajahku, tetapi dia mengurungkan niatnya untuk menampar diriku. 'Tampar aja, Maa. Biar kamu puas sekalian." Ucapku. "Maafkan aku, Alia. Aku gak mau kehilangan kamu." Zafran memohon maaf kepadaku dengan cara berputut di depanku. "Iya, aku maafkan kamu." Ucapku. Sebenarnya aku masih sangat kesal kepada Zafran tetapi aku tidak mau bertengkar dengan Zafran. "Aku gak akan melarang kamu untuk berteman dengan sesama perempuan, tetapi aku gak mau kamu punya teman cowok." Zulfan mengusap-usap rambutku "Iya, aku gak akan berteman dengan Andi lagi. Lagian aku gak akan mungkin suka sama dia." Ucapku. "Ya udah, mendingan kita segera tidur." Ucap Zafran. Sebenarnya aku merasa bersalah kepada Andi karena tidak mengangkat telponnya, tetapi aku tidak mungkin menelpon balik dia karena hanphonku dirusak oleh Zafran suamiku. Aku berharap suatu hari nanti Zafran bisa berteman dengan Andi, supaya dia tidak cemburuan. *** "Bangun, Sayang. Waktunya kita shalat subuh." Zafran membangunkanku yang sedang tertidur. "Iya, Zafran." Aku terbangun dari tempat tidurku Aku tidak menyangka bahwa Zafran ternyata rajin shalat juga, dulu aku berfikir bahwa Zafran hanya sibuk dengan pekerjaannya tetapi dugaan aku salah. Aku dan Zafran melaksanakan shalat subuh berjamaah. Aku bertekad untuk mencoba menjadi istri yang baik untuk Zafran. "Sayang, nanti siang kita akan pergi ke Bali," ujar Zafran dengan tersenyum. "Jadi kita akan liburan ke Bali?" tanyaku. "Iya, kita akan liburan ke Bali." Jawab Zafran dengan menatap mataku. "Ya udah, aku mau masak buat kamu dulu, Mas." Aku pergi ke dapur untuk masak. Aku ingin menjadi istri yang baik untuk Zafran, walaupun aku belum memberikan haknya sebagai suamiku. "Mas, ayo kita Sarapan." Ucapku. "Enak banget, Sayang." Ucap Zafran. "Makasih, pujiannya Zafran." Ucapku dengan tersenyum. Aku merasa sangat senang setelah mendapat pujian dari Zafran. Jantungku berdetak kencang saat melihat Zafran "Habis makan. Kita siap-siap untuk pergi ke Bali." Ucap Zafran. "Iya, emang kita pergi berapa hari di sana?" tanyaku kepada Zafran "Sekitar satu minggu. Aku ingin menikmati kebersamaan bersama kamu." Zafran mengelus rambutku. "Ya udah. Aku akan siapkan keperluan kita untuk pergi ke Bali." Ucap Zafran. "Aku bantuin ya, Mas." Ucapku. Aku berharap saat kita berada di Bali, aku bisa belajar mencintai Zafran dan menjadi istri yang baik untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD