chapter 03

1031 Words
Dari mulai pangeran mo huang chang, pangeran huang zi, nyonya Qu, mentri Qu, Qu xia Mei, Qu xiao zhang, yue jie, dan para pelayan lainnya bingung, Kenapa setelah bangun Qu jia li menjadi orang yang ganas seperti ini, berani menentang semuanya, bahkan sudah berani berbicara dengan nada tinggi. "Hah, obat? Apa kamu tidak salah bicara tabib? " Tanya lily "Ttidak nona" Jawab tabib terbata-bata Lily tersenyum mendengar jawabannya, lily mengambil wadah bekas obat tersebut,dan masih ada sisanya. Lily memberikan isyarat kepada yue jie untuk memanggil kan tabib lain. Tak cukup lama, yue jie kembali dengan tabib kepercayaan keluarga istana. Memang keluarga istana cukup baik kepada mentri Qu karena ke dua putri nya akan menjadi istri para pangeran, di Kerajaan tersebut. Lily memberikan wadah tersebut, tabib istana itu menganalisa wadah tersebut, dan benar jika itu racun bukan obat. "Yang dibilang nona Jia li benar, ini racun bukan obat" Ucap tabib itu dengan lantang Setelah itu tabib itu pamit undur diri, "hahahah, bagimana tabib?" Tanya lily dengan tawa jahat. Tabib itu terjatuh lemas meminta ampun kepada mentri Qu"ampun tuan, aku hanya menjalan kan tugas, "ucap tabib itu " Dasar penghianat, kamu ingin membunuh putri ku,"marah mentri Qu "Siapa yang menyuruh mu melakukan itu,?" Tanya nyonya Qu Tapi sebelum tabib itu memberitahu ada sebuah panah, panah itu memang sudah di tujukan untuk tabib tersebut, agar orang yang menyuruh tabib itu, tidak di ketahui oleh siapapun, Semua pengawal di kerahkan untuk mencari orang itu,jasad tabib itu di bawa pergi dari kediaman jia Li. kini hanya tinggal Qu Jia li, yue jie, Qu xiao zhang, mo huang chang yang berada di kediaman Qu jia li, Lily tersenyum melihat semua itu, Qu xiao zhang heran kenapa bisa adiknya tidak takut melihat hal tadi, padahal dulu adiknya sangat takut jika ada darah di sekitarnya. "Aku dengar nona Jia li sangat takut dengan darah, tapi itu hanya isu belakang ternyata" Ucap pangeran mo huang chang "Adik ku memang takut dengan darah pangeran" Balas Qu xiao zhang "Hahaha,, aku? Takut darah? Hahahah, bagimana bisa kalian mengira aku takut darah, aneh-aneh saja" Ucap lily dengan tertawa Qu xiao zhang mencengkram lengan lily dan berkata"adik sadar, kamu kenapa? Kenapa bisa berubah seperti ini? " "Hey, kakak, yang berubah itu xia Mei, coba kakak lebih perhatian sedikit dengan nya, mungkin dia akan baik kembali" Lily melepas paksa cengkraman xiao zhang dengan kasar. Dan berjalan pergi menuju taman bunga. "Hm, jika aku terus begini aku bisa gila, hidup di antar orang yang tak dikenal, dan terus teracam begini, ahk, ini akan membuat ku setres"pikir lily "Aaahhhkkk,, kenapa, kenapa harus aku,kenapa" Teriak lily "Kenapa nona, apa kepala nona sakit lagi? " Tanya yue Jie "Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir" Jawab lily dengan senyuman manis "Aku sudah bilang kepada mentri Qu jika kamu akan ikut aku kembali ke istana" Ucap pangeran huang zi "Aku tak mengenal diri mu, kenapa aku harus ikut dengan mu, apa kamu juga ingin membunuh ku? " Ucap lily Pangeran huang zi menarik lily kedalam pelukannya, lily meronta-ronta, tapi semakin kuat pelukan itu. "Apa kamu tidak ingat, jika kita sudah bertunangan? " Tanya pangeran huang zi Mendengar itu lily mendorong pangeran huang zi hingga jatuh, "apa kamu sudah hilang akal, aku saja baru tahu tempat ini, dan kamu sudah mengatakan jika kita bertunangan" ucap lily dengan mata melotot ke arah pangeran huang zi "Tidak nak, pangeran huang zi memang benar, kalian sudah bertunangan beberapa hari yang lalu, sebelum kamu melompat ke danau" Ucap mentri Qu "Hey, pak tua, apa kamu juga sama seperti dia, hilang akal,pikir lah dengan logika, untuk apa aku melompat ke danau, jika aku akan membina sebuah hubungan baru" ketus lily "Nona dia adalah ayah mu, tolong bersikap sopan" Ucap yue jie "Kamu bukan adik ku, adik ku tak mungkin bersikap seperti ini" Sela xiao zhang "Zhang, dia kehilangan ingatannya, dia tetap putri kedua ku, jia li kita," Ucap mentri Qu Lily bertepuk tangan, semua orang yang melihat itu heran kenapa bisa separah ini, "drama yang bagus, aku pergi, aku tak mau tinggal disini lagi" Lily berjalan menuju pintu keluar. Tapi tangan nya di genggam erat oleh seseorang, lily pun berbalik dan melihat wajah yang banyak keriput tapi masih terlihat cantik, "Hilang ingatan hanya sementara, tapi rasa kehilangan seorang anak bersifat selamanya, kehampaan dihati seorang ibu, apa kamu ingin ibu ini mati perlahan karena kepergian putrinya" Ucap wanita paruh baya itu dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Perkataan itu membuat lily mengingat tentang ibunya, yang melarang dirinya untuk menjadi polisi, mungkin sekarang ibunya sedang menangis kepergiannya. "Ibu" Ucap lily dengan air mata yang mengalir deras seperti air terjun. "Iya nak, aku ibu mu, " Ucap wanita paruh baya itu Lily memeluk erat nyonya Qu, lily menganggap jika nyonya Qu sebagi ibunya, ibu kandung nya, yang perintah nya selalu di tolak. "Berjanji lah kepada ibu mu ini, jika bukan kereta pengantin yang menjemput mu, kamu tidak akan pergi dari sini, apapun itu alasan nya" Pinta nyonya Qu Lily tersenyum, dan mengangguk, "maafkan jia li, jika selama ini selalu membuat ibu menangis" Ucap lily Ya, lily terlah pasrah jika harus tinggal disini, mungkin takdir nya disini bersama mereka,"tidak apa nak"ucap nyonya Qu, mengusap perlahan air mata di pipi lily Mentri Qu dan juga xiao zhang melihat itu pun berjalan ke arah mereka dan perlukan, semua orang senang akan hal itu, hanya xia Mei yang menderita melihat hal itu. "Hati ku sakit, kenapa takdir ku seperti ini, kenapa mereka lebih sayang kepada Qu jia li ketimbang aku, aku juga anak mereka, aku juga adik nya, bahkan wajah kami juga sama, kenapa, kenapa" Qu xia mei memang sangat mirip dengan Qu jia li, tapi sedari kecil, xia Mei selalu berusaha melukai jia li, dan merenggut semua yang dimiliki jia li. Mentri Qu dan nyonya Qu sudah berusaha bersikap adil, tapi bagi Qu xia Mei, itu belum cukup jika, xia Mei belum memiliki pangeran huang zi, karena hanya itu yang belum bisa xia Mei rebut dari jia li. begitu juga Qu jia li, ia selalu mengalah kepada kakak nya itu, Qu xia Mei, ia selalu memberikan apa yang ia punya, tapi karena kebaikan dan kepolosan Qu jia li, membuat nya terbunuh di tangan kakaknya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD