Bagian 2

766 Words
Tipe apartemenku berbentuk studio. Ada beberapa ruang dengan fungsi yang berbeda. Ruang bersantai atau bisa digunakan sebagai ruang keluarga dan berdekatan dengan dapur yang lengkap dengan kitchen sett modern. Berikutnya terdapat kamar mandi, serta sebuah ruang mungil yang menyatu dengan kamar tidur. Ruang mungil tempat biasa menuangkan seluruh ide tulisanku. Didepannya persis terdapat balkon yang sengaja beralih menjadi tempat jemuran. Sekaligus berguna untuk menghabiskan waktu memandang hiruk pikuk suasana ibu kota. Warna dasar yang melapisi dinding secara menyeluruh sudah berubah dengan wallpaper putih, sesuai selera sendiri. Sebagian besar perabot kristal menghias di tiap sudut. Mungkin itu juga alasan mengapa aku di beri nama, Kristalia. Karena memang aku hobi mengoleksi pernak-pernik kristal. Selain itu ahli menempatkan barang-barang serasi pada tempatnya. Berbanding terbalik dengan suamiku yang acuh tak acuh. Keseluruhan yang ada di dalam apartemen, paling aku utamakan adalah kebersihan. Jika sampai ada setitik noda di lantai, maka secepatnya aku bersihkan hingga tak berbekas. Genap menyelesaikan langkahku memasuki apartemen mungilku. Terbesit keinginan untuk menyesap secangkir cokelat hangat. Sungguh terasa nikmat untuk membangkitkan semangat yang kendur. Terlebih malam ini aku harus terjaga untuk menyelesaikan daftar pertanyaan untuk pertemuan dengan narasumberku. Rasa-rasanya tepat kalau nanti bertanya seputar; latar belakang keluarga, pendidikan serta riwayat pekerjaannya. Mengenai kisah percintaan atau pertanyaan lainnya, itu semua bisa diatur ke pertemuan berikutnya. Baru selesai paragraf pertama aku menulis, tiba-tiba suara ketukan memanggil dari arah luar pintu. Aku tinggalkan sejenak aktifitas di dapur untuk memenuhi panggilan. Irama ketukannya makin cepat dari sebelumnya. "Siapa! Tunggu!" kuintip lewat celah doorviewer yang tertanam di badan pintu. Tak seorang pun berdiri diluar. Rasa penasaran membuncah, mengumpulkan segenap keberanian untuk lekas membukanya. "Selamat malam nona cantik! Kenalkan saya, Id. Tetangga yang baru tadi siang pindah kemari," tandas lelaki muda berwajah oriental dengan t-shirt merah marun. Kehadirannya membuatku terperangah, seolah tak percaya. Ia berikan telapak tangan, mengajak salaman dengannya. Aku justru menjulurkan setengah badan ke luar pintu, mencari tahu dari arah mana datangnya lelaki tersebut. Sungguh mengejutkan, tak ada pintu lain yang terbuka kecuali pintu apartemenku. "Id? Hmm. Nama yang aneh," kataku dalam hati, seraya memicingkan mata, mencurigai setiap gerak-geriknya. "Siapa nama nona?" "Saya Kristalia Calysta. Panggil Kristal." jawabku datar, tanpa ekspresi. "Wow, nama yang indah sekali. Seindah wajah nona!" "Sory, siapa tadi nama kamu?" "Id, hanya dua huruf, I dan D. Singkat, padat dan mudah di ingat bukan?" candanya menyembul, dan segera menggodaku lewat kerlingan matanya. "Apa kamu terbiasa berkenalan dengan cara seperti itu? Menebar pesona dengan tatapan matamu?" "Tergantung dengan siapa saya bertemu. Biar aku tebak, dalam satu bulan terahkir, aku yakin kamu hanya bisa tersenyum ketika melihat tayangan kartun? Benar bukan?" "Sekarang aku tidak hanya berhadapan dengan seorang pemuda gombal, tapi juga peramal yang menyebalkan! Baiklah, akan kuselesaikan tebakanmu. Melihat dari tingkah lakumu seperti ini, aku punya kesimpulan kalau kamu adalah seorang lelaki kesepian yang sering ditolak cintanya. Lebih tepat tebakanku bukan? Kalau itu benar, sebaiknya kembali masuk ke dalam apartemenmu dan jangan pernah berani datang kemari lagi!" perkataannya membuatku tersulut emosi. Badan pintu yang tadinya setengah terbuka, lekas aku kunci rapat-rapat. Membiarkannya sendirian. "Tunggu sebentar! Maafkan kalau saya menyakiti hati nona!" "Di maafkan! Panggil saja Kristal! Bukan nona! Apa lagi yang bisa saya bantu?" "Saya mau bertanya, dimana tempat laundry di gedung ini?" "Tanyakan pada sekuriti di lantai bawah sana!" tanpa panjang lebar bicara, badan pintu aku tutup dan segera melangkah ke arah dapur. Melihat fisik serta paras di wajahnya, aku akui dia memang ada potongan lelaki penggoda. Tapi hampir sebagian besar perempuan tidak tergoda dengan cara murahan seperti itu. Percuma kemasannya bagus, kalau punya hobi suka tebar pesona ke mana-mana. Aku yakin, dia adalah tipe lelaki suka selingkuh. Sifat yang sangat kubenci, melebihi kebencianku pada ketinggian. "Kristal! Ayolah! Saya tahu kamu masih disana! Tak bisakah kamu sopan sedikit dengan tetangga barumu ini?" "What? Sopan? Kalau aku tetap diam, lelaki menjengkelkan itu akan terus menerus mengganggu." dengan cepat aku sambar pintu tersebut, "Id! Laundry itu ada di lantai.," belum selesai bicara, aku tertegun melihatnya tak lagi berdiri di ambang pintu, "Dimana kamu, Id!" aku bergumam, menatap koridor yang sunyi. Bersamaan dengan kepergiannya, suara pesan masuk dari telepon selular mengalihkan perhatianku. Aku meraihnya dari atas meja kecil yang mudah terjangkau. "Malam Kristal. Saya Gatot Purba, besok jam tiga sore bisa kita bertemu? Kalau bisa kita bertemu di Grandmall, restoran Odysseia." "Besok saya bisa, Pak." "Oke. Sampai ketemu besok." Di akhir pesan balasan, aku hela nafas panjang. "Untunglah kalau begitu. Semakin cepat selesai buku itu, makin aku bisa kembali ke rutinitas semula. It's time to write, Kristal!" Tak perlu lama berpikir darimana datangnya lelaki menyebalkan itu, aku segera meluncur ke ruang kerja. Tenggelam, terbuai dalam seluruh rangkaian kata demi kata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD