BAB 5

1619 Words
Kami kembali ke Jakarta tanpa mendengar desas desus apa pun. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya. Aku sudah kembali bekerja sebagai dosen seni rupa di sebuah universitas seni yang ada di Jakarta. Aku juga diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah, menjadi guru tari di sebuah sanggar tari di Jakarta Selatan.  Aku biasa membawa mobil sendiri. Jadi semua aktifitasku, ayah tidak pernah mengetahuinya. Ayah tahunya, aku hanya seorang dosen. Jika Ayah mengetahui aku juga mengajar tari, Ayah pasti akan sangat marah besar. Ayah tidak pernah menyetujui hobbi ku yang satu ini. “Kamu enggak boleh menari!” Ayah marah besar saat pertama kali Ayah melihat aku menari di atas pentas. Itu pertama kalinya aku ikut serta mengisi acara kegiatan sekolah. Walau pun itu hanya sebuah event yang sederhana, aku sangat senang mengikutinya. Dengan menari, seperti ada kepuasan sendiri di dalam diriku. Badanku juga merasa lebih ringan karena mengikuti gerakan gerakan tari tersebut. Sebenarnya, sama seperti kita sedang berolah raga. Semua otot tubuh ikut bergerak, walau dalam tempo irama yang sedang. “Tapi Yah, aku benar benar jadi diriku sendiri saat aku menari, Yah.”  Aku mencoba menjelaskan perasaan yang aku rasakan saat sedang menari. Walau semua mata melihat ke arah kita, tetapi aku tidak merasakan sorotan mata yang mengintimidasi. Aku hanya merasakan alunan lagu yang mengalun dengan indah menyesuaikan gerakan yang aku lakukan. “Ayah enggak mau kamu jadi seperti Bunda kamu,” kata Ayah. Terlihat kesedihan di wajah Ayah. Mungkin itu juga salah satu penyebab aku sangat menyukai tari. Bundaku juga merupakan salah satu penari yang sangat terkenal. Sebelum Bunda sakit, dia selalu mengisi berbagai event event besar. Kadang bunda menari sendiri di atas panggung. Namun, kadang Bunda menari bersama kelompok tarinya. Saat aku kecil, aku selalu pergi menonton Bunda yang menari di atas panggung. Ayah juga selalu ikut memberikan semangat buat Bunda. Sampai sesuatu terjadi, sehingga bunda jatuh sakit. Bahkan sejak kejadian itu, Bunda tidak lagi bisa berdiri. Saat itu aku masih sangat kecil, aku tidak ingat kejadian yang terjadi. Yang aku ingat bunda mengalami suatu kecelakaan yang membuat kaki bunda harus diamputasi. Dan ternyata, setelah diamputasi bukannya membaik. Tetapi, kondisi badan bunda semakin parah. Karena itu lah, aku dioper oleh Ayah untuk tinggal bersama Paman dan Bibi di Bandung. Kenangan aku tentang bunda, lebih banyak tentang indahnya bunda yang sedang menari di atas panggung. Aku tidak mengingat kejadian yang malang yang menimpa bunda saat itu. Sampai saat Bunda sakit parah, aku juga tidak ada di sampingnya. Beberapa bulan pertama, saat aku tinggal di Bandung, aku selalu menangis dan mengingat Bunda yang lagi sakit di rumah. Sampai, Bibi pun menenangkan aku. “Ajeng, kalau Ajeng sayang sama Bunda. Ajeng harus jadi anak yang baik di sini. Dan Ajeng selalu doain Bunda, biar bunda cepat sembuh.” Itu kata kata Bibi yang selalu aku ingat sampai sekarang. Sejak saat itu, aku tidak mau memikirkan tentang Bunda yang sedang sakit. Aku selalu berpikiran positif, bahwa bunda pasti akan sembuh dan akan kembali lagi bermain dengan aku. Bertahun tahun, aku menahan rasa rindu dan sedih, agar membuktikan aku bukanlah anak manja yang hanya menyusahkan Bunda.  Namun biar pun begitu, seminggu sekali Ayah pasti menelepon aku dengan menggunakan panggilan video. Itu juga salah satu pengobat rasa rindu aku ke Ayah dan yang lain. Terkadang saat sedang menelepon, Ayah juga memperlihatkan wajah Bunda yang terbaring di tempat tidur. Dan Ayah selalu memberitahukan, bahwa kondisi Bunda semakin membaik. Ayah juga selalu memintaku untuk terus bersabar tinggal di Bandung dan terus mendoakan Bunda.  Bertahun tahun aku merasakan kehidupan seperti itu. Aku menjadi seorang anak yang duduk di sekolah dasar, tetapi dengan pemikiran yang harus dewasa. Kalau kata orang mah, dewasa belum waktunya. Tetapi, bukan berarti aku sudah punya pacar saat itu ya. “Pokoknya Ayah tidak akan suka kamu jadi penari seperti Bunda,” kata Ayah menegaskan kembali. “Tapi, Yah.” “Enggak ada tapi tapi. Sekali enggak ya tetap enggak.” Aku hanya diam tidak bisa membantah ucapan Ayah. Dia juga sadar, aku kecewa dengan keputusan yang Ayah buat. “Lagian, kalau nari kamu bakalan memperlihatkan aurat kamu. Itu enggak boleh,” kata Ayah memberikan alasan yang lain untuk melarang aku. “Tapi Bunda boleh,” gumamku pelan. “Itu dulu. Ayah belum tahu,” kata Ayah mencari alasan. “Aku kan enggak niat buat memperlihatkan aurat, Yah.” Aku mencoba sekali lagi keberuntunganku. Siapa tahu Ayah bisa berubah pikiran. “Trus niat kamu apa?” “Kalau Ajeng menari, badan Ajeng jadi sehat aja. Seperti olah raga,” kataku. “Dan lagi, kalau Ajeng menari, Ajeng merasa Bunda itu ada didekat Ajeng. Ajeng kangen rasa kehangatan bersama Bunda. Dan itu bisa Ajeng dapatkan saat Ajeng menari,” lanjutku. Urat wajah Ayah yang tadinya tegang, mulai memudar dari wajahnya. Dan sepertinya, aku berhasil membujuk Ayah untuk membiarkan aku untuk terus menari. Hatiku sudah sangat berbunga bunga, saat melihat perubahan wajah Ayah. Formulir sanggar tari yang ada di tanganku, pasti aku segera aku isi. Dan ayah pasti mengizinkannya. “Yes, aku berhasil membujuk Ayah.” Hatiku bersorak dengan senangnya. “Tidak.” Tiba-tiba suara yang keluar dari mulut Ayah berbeda dengan yang aku harapkan. “Tidak. Ayah tetap tidak setuju kamu menari,” katanya. Belum sempat aku membalas ucapan Ayah. Dan memberikan alasan yang mungkin bisa meluluhkan hati Ayah. Tiba-tiba Ayah pergi meninggalkan aku dengan perasaan yang masih menggebu-gebu untuk ikut latihan di sanggar tari ini. Akhirnya, dengan berat hati aku pun menyimpan formulir itu dan tidak jadi untuk mengisinya. Namun, saat aku duduk di kelas dua sekolah menengah keatas, aku diam diam mendaftarkan diri ke sanggar itu lagi. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal itu. Saat akan masuk SMA, aku sengaja memilih sekolah yang lokasinya sangat dekat dengan sanggar ini. Dan ditambah lagi, aku juga sudah dibolehkan untuk naik motor sendiri. Kebetulan, semua orang tidak ada yang bisa menjadi antar jemput saat itu. Termasuk Ayah yang masih sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Dan saat aku akan lulus kuliah, barulah Ayah pensiun dan sibuk dengan kegiatan pengajian di rumah. Ayah dan Kakak juga membuat beberapa kontrakan untuk tambahan hari tua Ayah. Jadi sekarang, Ayah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sebenarnya, banyak waktu untuk Ayah menyelidiki tentang kegiatan aku. Tetapi, ayah mencoba mempercayai anak perempuannya. Dan aku juga berjanji sama Ayah, agar aku selalu menjadi anak kebanggaan Ayah. Sampai beberapa hari yang lalu pun, janji itu masih bisa aku tepati. Sampai kejadian yang hotel yang sangat ingin aku lupakan, namun tidak pernah bisa pergi dari ingatanku. Bahkan, bayangan tubuh seksi laki laki itu suka terlintas di benakku. Kejadian kejadian yang harusnya dilupakan, malah terus terbayang di kepalaku. “Aku harus cepat cepat bersihkan otak ku ini,” gumamku sambil memijat mijat pelan jidat ku. “Kenapa otaknya harus dibersihin?” Ayah tiba-tiba muncul di belakangku, kemudian dia duduk di kursi kosong yang ada di sebelahku. “Ah enggak, Yah. Ini, biar otaknya enggak mikirin kerjaan mulu. Makanya harus dibersihin,” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Udah sampai rumah masih kepikiran kerjaan juga?” tanyanya. “Iya, Yah. Lagi banyak pekerjaan, jadi kepikiran terus.” “Atau ada salah satu mahasiswa yang ganggu anak Ayah, makanya kamu jadi rungsing begini,” goda Ayah. “Ah Ayah,” kataku malu. Ayah mengingatkan aku kejadian saat pertama kali menjadi seorang dosen di kampus Daya Timur Jakarta. Aku jadi ingat kejadian tahun pertama di sana. Saat itu, memang ada seorang mahasiswa yang sedikit aneh. Bisa bisanya dia bersikap seperti itu kepada dosennya.    Aku masih sangat mengenal nama mahasiswa itu, Diki namanya. Sekilas anak ini sama seperti mahasiswa biasa. Bahkan, dia bisa dibilang pendiam. Tidak seperti Raka temannya, dia orangnya sangat suka membuat ruang kelas heboh. Raka juga bermulut manis dan gampang merayu mahasiswi dari fakultas yang berbeda. Namun, si Diki hanya jadi bulan bulanannya si Raka. Bisa dibilang juga tamengnya si Raka, jika Raka akan mengajak kencan salah satu gadis yang ada di kampus dan tidak diizinin orang tuanya. Lalu si perempuan itu disuruh bawa teman perempuan yang lain, dan Diki lah yang menjadi pasangan buat perempuan yang diajak oleh gebetannya Raka. Walau aku hanya seorang dosen. Aku bisa mengetahui kebiasaan mahasiswaku. Bukannya sombong, mungkin karena aku jomblo dan sering jalan sendiri ke swalayan. Aku jadi sering menemukan peristiwa peristiwa seperti itu. Swalayan itu lah yang biasa dijadikan tempat janjian para mahasiswa, karena tempatnya yang tidak jauh dari kampus. Aku sering melihat Diki yang ditinggal oleh Raka dengan seorang perempuan yang berbeda. Mereka tidak berbuat apa apa. Keseringan mereka paling pergi ke tempat karoke atau tempat game. Aku tidak pernah melihat Diki melakukan hal yang macam macam. Tetapi, aku tidak pernah tahu dengan Raka. Setelah dia meninggalkan Diki bersama seorang perempuan, Raka selalu menghilang entah kemana. Sampai suatu hari, Diki datang ke rumah aku membawakan aku bunga dan juga coklat. Kebetulan tanggal itu tanggal empat belas februari. Aku sebenarnya tidak pernah ikut ikutan seperti anak anak muda yang merayakan valentine. Ini kali pertamanya, seorang laki laki datang membawakan aku sesuatu di hari valentine. Dan itu adalah mahasiswa aku. “Tuh kan, lagi mikirin si dia.” Ayah membuat wajahku merona. Aku tidak aku ingat tentang hari itu, jika Ayah tidak mengingatkannya. “Udah, cepetan nikah. Biar mahasiswanya enggak gangguin kamu terus,” goda Ayah. “Kalau ada jodohnya juga, Ajeng nikah Yah.” “Mau Ayah jodohin?” tanya Ayah. “Ah Ayah. Sekarang emang masih zaman dijodoh-jodohin.” “Dari pada jadi perawan tua,” kata Ayah dengan santai. “Ayah! Enggak boleh ngomong gitu. Omongan doa loh,” kataku kesal dengan yang Ayah ucapkan. “Astagfirullah.” Ayah langsung menyebut mengingat nama Allah. “Makanya Ayah doain Ajeng. Biar Ajeng dapat jodoh yang baik,” kataku. “Aamiin.”  Ayah mengaminkan doa yang aku harapkan. Dan semoga saja, Allah akan segera memperlihatkan jodoh yang baik untukku.                                                                                                                                                                                                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD