BAB 21

1815 Words
Andrew POV “Farale cepat kamu datang ke ruangan saya.” Aku tidak sabar mendengar kabar dari Farale. Apakah dia sudah dapat semua foto foto asli dari gosip-gosip itu. Sedangkan, untuk masalah foto foto yang ada di internet dihapus sih, itu perkara mudah. Sekarang yang aku butuhkan hanya foto asli dan menyakinkan bahwa foto itu sudah dihapus semua dari sumber utamanya. Agar aku bisa memberikan bukti kepada Ajeng, bahwa semua sudah dibereskan semua. Jika semua sudah beres, aku jadi bisa mulai berteman dengan Ajeng dari awal lagi. Kami bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Aku juga mau menyakinkan tentang perasaanku. Apakah yang sebenarnya aku rasakan terhadap dirinya. “Ya Bos, ada apa?” tanya Farale yang sudah berdiri di hadapanku. “Gimana penyelidikannya?” tanyaku penasaran. “Willy sedang pergi ke tempat orang yang menyebarkan foto itu Bos,” jawab Farale. “Kamu kasih tugas itu ke Willy lagi?” Aku bingung dengan cara berpikirnya Farale. Bukannya kemarin, Willy tidak becus dalam menyelesaikan masalah ini. “Dia yang paling bisa diandalkan masalah ini Bos.” Farale membela temannya itu. “Pokoknya kalau yang dia kerjakan sekarang tidak sampai selesai lagi. Saya akan benar benar memecat dia,” kataku dengan tegas. “Siap Bos.” “Trus kapan si Willy akan membawa hasilnya?” tanyaku tidak sabaran. “Siang ini saya suruh sudah ada,” kata Farale sangat percaya diri. “Bagus.” Aku sangat tidak sabar menanti pertemuanku dengan perempuan yang satu ini. Entah ada apa di dalam diri perempuan ini, sehingga aku tidak bisa melupakan dirinya. “Ya udah, kamu balik ke ruangan kamu,” perintahku kepada Farale. Tetapi, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. “Farale tunggu dulu,” kataku mencegah Farale untuk keluar dari ruangan. “Kamu nanti telepon perempuan itu ya?” suruhku dengan malu malu. “Perempuan mana?” tanya Farale bingung. “Itu… si Ajeng.” “Oooo… Ajeng,” katanya Farale dengan suara yang keras. “Stttt… jangan keras keras,” kataku. “Iya Bos, siap.” Farale memelankan suaranya. “Siap apa?” tanyaku. Aku saya belum selesai memberikan dia tugas. “Ya siap. Saya telepon dia, trus jemput dia, kemudian anterin dia ke rumah Tante Fie,” kata Farale dengan begitu percaya diri. Tumben ini anak pintar. Kalau masalah perempuan cepat banget tanggapnya. Dia bisa tahu banget, apa yang harus dia lakukan. “Oke kalau kamu sudah tahu,” kataku merasa sedikit tenang. “Baik Bos.” Farale pun keluar dari ruangan. Namun, tiba-tiba dia masuk lagi ke dalam. “Ada apa lagi?” tanyaku. “Mmmm… ntar jemput pakai mobil yang mana Bos?” tanya Farale. “Terserah.” “Pakai yang Ferrari boleh kan?” Dia meminta izin untuk menggunakan mobil yang jarang aku gunakan. Tetapi, jika mobil itu bisa membuat si Ajeng terpesona. Apa salahnya? “Ya, boleh.” Aku pun mengizinkan Farale menggunakan mobil itu. “Yes.” Farale terlihat sangat senang. Dia pun keluar dengan hati yang sangat senang. *** Siang ini, sesuai dengan yang Farale janjikan. Foto asli dari foto yang di-posting di internet sudah berada di atas mejaku. “Bos , Bos ini fotonya,” kata Farale menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat. Aku pun melihat isinya, ini memang foto yang sama dengan yang ada di internet. Hanya bedanya, wajah perempuannya terlihat dengan jelas. “Bos, saya juga kirim ke Bos video orang itu sedang menghapus fotonya,” kata Farale lagi. “Ternyata itu cuma foto amatiran Bos. Foto itu dia ambilnya dengan menggunakan kamera handpone aja Bos. Dia bilang, dia lakuin ini karena kepepet uang saat di Bandung. Dia enggak punya uang buat balik ke Jakarta. Trus ada yang nawarin kerjaan, ya kerjaannya beginian,” jelas Farale. “Trus, dia kasih tahu siapa yang nyuruh?” tanyaku. “Enggak Bos. Dia enggak mau bilang siapa orangnya. Dan dia bilang, dia baru sekali ketemu sama orang itu. Jadi dia enggak inget.” “Oke lah kalau begitu.” Farale pun kembali ke ruangannya. Dan lagi-lagi, aku menahan dia karena aku ingin tahu kabar tentang Ajeng. “Farale,” panggilku. “Ya Bos.” Dia langsung melihat ke arahku. “Kamu sudah jadi telepon Ajeng?” tanyaku. “Udah Bos. Tapi tadi enggak diangkat.” “Oh ya udah. Coba kamu hubungi dia lagi. Kalau kamu sudah bisa hubungi dia, langsung pesan tempat sama Tante Fie,” suruhku. “Siap Bos.” “Oh ya Bos, ada yang lupa saya sampaikan kepada Bos,” kata Farale. “Ada apa?” “Mmmm… kata Willy, masih ada satu orang perempuan lagi yang punya foto ini.” “Siapa? Kok kamu enggak bilang dari tadi?” Aku sangat marah, hal sepenting ini malah dia lupakan. “Maaf Bos. Saya tidak sampaikan, karena orang itu juga enggak kenal sama perempuan itu. Mereka cuma bekerjasama mencarikan perempuan untuk tidur di samping Bos. Habis itu difoto dan foto itu di ekspos ke media,” jelas Farale. Jadi masih ada sebuah foto yang berkeliaran entah di mana? Semoga saja, foto itu tidak menjadi masalah nantinya. “Mmmmm…” Farale seperti ingin menyampaikan sesuatu. “Ada apa?” tanyaku. “Gini Bos. Kata orang itu, perempuan yang punya foto satunya lagi bilang. Wajah perempuannya jangan sampai ketahuan. Dia hanya perlu foto itu ditunjukkan kepada satu orang. Tapi dia enggak mau foto temannya itu dilihat oleh orang banyak,” kata Farale. “Jadi maksud kamu, orang yang kerjasama dengan menjebak kami itu adalah teman Ajeng sendiri?” Aku terkejut mendengarnya. “Iya Bos,” kata Farale sangat yakin. Berarti orang yang menusuk Ajeng dari belakang adalah temannya sendiri. Tetapi, temannya yang mana? Aku jadi kasian dengan Ajeng. Karena dia punya musuh dalam selimut. Kalau aku sih, tidak terlalu memikirkan orang yang berbuat jahat kepada diriku. Karena aku akui, aku memang mempunyai banyak musuh. Hanya saja, aku tidak terima kalau orang yang menjahati Ajeng. “Kenapa aku jadi perhatian gini sama perempuan?” gumamku. “Kenapa Bos?” tanya Farale yang penasaran dengan yang aku ucapkan. “Kamu ya! Mau tahu aja urusan orang,” kataku. “Enggak Bos. Kirain saya, Bos nyuruh saya lagi.” “Enggak. Kamu boleh pergi,” kataku. *** Siang ini setelah mendapatkan kabar dari Farale, bahwa dia sudah bisa menghubungi Ajeng. Hatiku sangat senang. Tetapi, mengapa aku harus sesenang ini. Jika bertemu dengan dia, pasti ada saja kejadian yang tidak baiknya. Dia itu sebenarnya wanita yang menyebalkan. Tetapi, entah kenapa aku selalu membayangi dirinya. “Bos, saya berangkat sekarang buat jemput Nona Ajeng ya?” Farale meminta izin untuk pergi menjemputnya. “Oke.” “Oh ya, kamu udah pesan tempat sama Tante Fie?” tanyaku. “Rapih Bos.” “Udah pesan kamar hotel juga enggak?” tanyaku lagi. “Tentu saja sudah Bos,” kata Farale. “Tapi Bos mau ngapain di kamar hotel?” tanya Farale penasaran. “Kamu enggak boleh tahu. Itu rahasia,” kataku sambil senyum senyum sendiri. Aku sudah membayangkan kejadian yang mungkin terjadi antara aku dan Ajeng. Aku sudah membayangkan bibirnya yang seksi, tubuhnya yang indah, putih dan mulus. Malam ini, semua itu tidak lagi khayalan buat diriku. Tetapi, akan menjadi sebuah kenyataan. “Bos, kok senyum senyum sendiri,” kata Farale yang sedang memperhatikan diriku. “Kamu masih di sini?” tanyaku terkejut melihat dia masih ada di depanku. “Udah jalan jemput Ajeng sana!” perintahku. “Bos enggak bareng sama saya jemput Non Ajengnya?” tanya Farale. Ini orang, kadang pintar. Tapi, kadang lambat berpikirnya. “Kan tadi saya bilang, kalau kamu yang jemput,” kataku kesal. “Oh gitu Bos, trus Bos di mana?” tanyanya lagi. “Ya saya di kantor.” “Oh jadi, habis saya jemput Ajeng, trus saya jemput Bos?” tanyanya lagi. “Kamu mau kayak gitu?” Aku mulai tidak sabaran dengan sikap Farale. “Enggak mau, capek lah Bos.” “Ya trus?” aku balik bertanya. “Ya Bos tunggu aja di rumah Tante Fie, nanti saya anterin Nona Ajeng ke sana.” “Dari tadi juga saya bilang gitu. Kirain kamu udah paham!” kataku mulai kesal. “Ooooo… baik baik Bos. Saya jalan sekarang.” Farale langsung berlari. “Ingat, nanti kamu jangan ikut masuk.” Aku mengingatkan Farale kembali apa tugasnya. “Oh siap Bos,” katanya sebelum meninggalkan ruanganku. Suasana hatiku yang tadinya indah, mendadak berubah jadi kusut. Dasar si Farale ini, paling bisa merusak suasana orang. Ini sudah kesekian kali dia mengganggu kesenanganku. Sewaktu aku berada dalam pelukan Ajeng – Dalam mimpi – dia mengganggunya. Aku harap, sekarang saat aku dalam pelukan Ajeng yang asli, dia tidak akan mengganggu diriku. Semoga saja. *** Saat aku sampai di rumah Tante Fie, hari sudah menunjukkan jam delapan lewat. Tante Fie sudah menyiapkan sebuah kamar kosong buatku. Sebenarnya, jika aku janjian sama Ajeng di hotel, itu pasti lebih mudah. Tetapi, pasti dia langsung tidak mau jika diajak ke sana. Tetapi jika di sini, saat pertama kali dia masuk, pasti dia tidak akan menyangka ini adalah sebuah Bar. Dari luar, ini tidak terlihat seperti sebuah Bar. Tante Fie memang sangat pintar memanipulasi tempat. Orang-orang yang mencari kesenangan sesaat, pasti mengetahui tempat ini. “Malam Tuan Andrew,” sapa pelayan yang menjaga stand depan. “Malam,” jawabku singkat. “Tuan Andrew mala mini sendiri? Farale mana?” tanya dengan manja. “Hari ini saya sedang ingin sendiri,” kataku. “Berarti orang yang akan bersama Tuan Andrew malam ini pasti sangat beruntung,” katanya sambil memainkan rambutnya. “Mmmm… Tante Fie udah kasih nama ke tuan Andrew belum?” tanyanya lagi. “Belum.” “Mmmm… gimana kalau malam ini tuan sama saya aja?” Dia menawarkan dirinya untuk melayani diriku. “Tapi kan, kamu lagi kebagian tugas jaga depan,” kataku sambil melihat penampilannya malam ini. Aku melihat baju yang dia kenakan. Saat dia berada di belakang, baju yang dia kenakan tidak akan seperti ini. Penampilan dia saat ini, seperti pelayan toko yang normal. Dengan pakaian yang formal dan tertutup. Sedangkan, jika dia sedang bertugas di belakang, baju yang dia kenakan tidak ada bentuknya. Bahkan, bisa dibilang seperti tidak mengenakan baju. “Ya… aku enggak beruntung dong. Trus malam ini Tante Fie kasih nama siapa?” tanyanya penasaran. “Malam ini, saya lagi enggak mau ditemani siapa siapa,” kataku dengan santai. “Kok gitu sih!” Dia tidak percaya, jika aku ke sini bukan mencari kesenangan dari mereka. “Hari ini, saya ada janji sama seseorang.” “Oooo… gitu.” “Nanti kalau ada yang datang, tanya dia mau ketemu sama siapa. Kalau dia mau ketemu sama saya, anterin ya?” kataku dengan sedikit menggoda. “Oh siap tuan,” katanya sambil melemparkan ciuman nakalnya. Perempuan di sini memang perempuan penggoda. Namun, hanya satu orang yang berhasil menggoda hatiku. Itu adalah Ajeng seorang. Tetapi, aku belum yakin. Apakah perasaan ini yang dikatakan cinta? Ataukah aku hanya menginginkan cinta sesaat dengan Ajeng. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD