Pemuda itu berdiri pada balkon kamarnya dengan rokook yang menyala di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Tatapannya menyendu saat hembusan angin menerpa wajah tampannya. Helaan napasnya entah sudah berapa kali terdengar sampai ia lelah sendiri. Rokoknya perlahan habis karena dibiarkan menyela tanpa disentuh, pikirannya masih melangnangbuana dengan perasaannya yang benar-benar tidak enak kini. Bagai disambar petir, ia membeku kaget saat mendengar Syaqila akan dilamar. Ingin rasanya ia ke sana dan menghancurkan acara lamaran itu agar Syaqila tidak dimiliki oleh siapapun. Bukannya egois, hanya saja ia merasa sudah terlalu nyaman dengan gadis berkerudung itu. Apalagi mengingat gadis itu memberanikan diri mendekat dan menenangkannya saat penyakitnya kambuh. Cowok yang tidak lain adalah

