Barly memperhatikan setiap buket bunga yang berada di ruangan Zia, hatinya merasa sedikit terganggu. Tapi apa boleh buat, toh dirinya dan juga Zia tidak ada hubungan apa-apa. Tangannya meraih secarik memo yang menyelip diantara buket, ia membacanya dalam hati hanya senyum sinisnya yang terukir dari sudut bibirnya. "Mukanya kok gitu? kenapa? gak suka lihat para pria itu mengirim aku hadiah?" tanya Zia dengan polosnya. "Bukan apa-apa, hanya saja pekerjaan OB kali ini bertambah yaitu membuang bunga yang banyak ini kalau-kalau nantinya sudah layu." "Oh!" Barly mengangguk, ia mengunci tatapan Zia begitu lama. "Besok aku ada urusan di Bali, mungkin dua atau tiga hari. Kamu yakin bisa menghandlenya sendiri?" "Urusan? urusan apa?" tanya Zia menyelidik. "Ada temanku yang baru pulang dari luar

