Mengagumi mu dari jauh

1089 Words
Prov Randy "Randy sudah bangun nak?" suara renta dengan garis wajah tua dan lelah. "Sudah Bu, aku belum telat kan" tanya lelaki muda dengan ototnya yang kekar dan berwajah tampan. "Belum, ke marilah maaf hanya ada teh tawar dan nasi untuk sahur" "Iya Bu tak apa jangan merasa bersalah aku niat berpuasa karena Alloh" Jawab pemuda itu menyenangkan hati ibunya. Ibu nya menatap anak itu dengan sayang, dia bersyukur di berikan anak yang jauh dari kata baik, entah apa jadinya jika tidak ada Randy dalam hidupnya. Randy Lah yang selalu memberikan senyum semangat untuk nya di kala lelah dari kecil randy sudah terbiasa membantu dirinya untuk mencukupi kebutuhan hidup, dan yang lebih membanggakan anak itu tidak pernah malu dengan kondisi ibunya, selalu juara kelas dan perlombaan lainnya. "Sudah cukup bu, ayo bu kita sholat subuh berjamaah, setelah itu kita semangat mencari rezeki" Selogan itu yang selalu dia ucapkan setiap hari untuk membuka rezeki kami. Sinar matahari mulai menerangi langit di pagi ini, waktu masih menunjukan pukul lima pagi tapi anak laki-laki ini telah siap dengan punggungnya yang kekar memanggul beban untuk di bawanya dari pasar ke dalam kendaraan. Dengan beralaskan sendal jepit, kaus oblong yangs udah lusuh dan celana kolor dia menjajakan jasanya untuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain. Walaupun kerja kerasnya hanya dibayar Rp 5.000 hingga Rp. 10.000 per sekali ada orang yang membutuhkan jasanya. "Mas tolong bawakan barang ibu ke bagasi mobil merah itu yah" seorang ibu muda dengan paras anggun meminta bantuannya. "Baik bu, barangnya yang mana saja yang saya bawa?" tanya Randy dengan sopan "Karung beras dan sayuran yang ada di sana, dan juga ini yah mas" Randy tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan perintah yang di berikan. "Lumayan juga yah ini pak buahnya" tanya Randy pada pedagang buah, saat mengangkat plastik yang berisi buah itu ke punggungnya. "Iya nak Randy, kayaknya orang kaya hampir semua buah terbaik yang ada di toko di borong oleh nyonya itu" jawab pak kodir pemilik toko buah itu. "Dek tolong bantu mama sini" keluarlah gadis cantik berkulit putih dengan rambut lurus sepunggung yang di beri bando. "Berat yah dek, maaf yah belanjaan ibu banyak mau ada syukuran di rumah" kata Bu Desi "Iya bu tidak apa-apa, sudah biasa" "Ih ma becek tau, nyipratkan ke kaki dhena, mana bau lagi" ucap gadis cantik itu dengan nada kesal. "Dek jagan banyak bicara cepat kerjakan" Gadis itu tanpa membantah langsung mengerjakan apa yang di perintahkan ibunya, walaupun masih tampak terpaksa. Saat tak sengaja lengan Randi menyentuh lengan Dhena. "Iih.." ucap Dhena. "Maaf.." balas Randy. "Ih sengaja yah kamu, sana jangan deket-dekat, kotor deh" Dhena dengan jijik mengusap-usap lengannya. "Kenapa dek?" tanya ibunya (Desi). "Ngak papa mah, udah mah dena mau masuk yah mau cuci tangan dulu geli mah!" ucap gadis itu sambil menatap jijik pada pria di sampingnya. "Aduh maaf yah mas, kalau ucapan anak saya menyinggung tadi, dia memang biasa di manja" ucap ibu merasa bersalah. "Oh iya bu tidak masalah bu, sudah biasa" Randy menjawab, sejujurnya dia sakit hati dengan perkataan gadis itu tapi mungkin memang benar apa yang di katakan gadis kaya itu kalau dirinya begitu bau dan menjijikan. "Ini upahnya mas, makasih yah kamu anak hebat semoga kelak masa depan mu jauh lebih baik" tapi doa ibu tadi sedikit bisa menghiburnya. "Aminn, terima kasih bu" Randy menatap kepergian mereka. Namaku Randy Angkasa aku siswa kelas XII di sekolah negeri favorit di kota ini, untuk masuk ke sekolah ini memang bukan lah hal yang mudah dan murah, aku bisa masuk kesini melewati jalur prestasi karena nilai rapot ku yang bisa di katakan baik dan juga beberapa prestasi ku di bidang bela diri akhirnya dengan mudah aku mendapat beasiswa untuk bersekolah di SMA ini. Awalnya agak minder karena rata-rata teman sekolahku berasal dari keluarga yang ekonominya menengah keatas, mereka semua membawa kendara roda dua atau pun roda empat dan aku masih menggunakan angkutan umum dari rumah sampai ke sekolah, kadang berjalan kaki dari pasar ke sekolah. Karena terkadang aku menjajakan jasa ku sebagai kuli panggul pada pagi hari untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Aku tinggal dengan ibu ku, ayah ku telah lama meninggal saat aku SD dan semenjak saat itu, aku selalu membantu ibu berjualan sayur di pasar. Uang yang aku dan ibu hasilkan tidak seberapa, kami harus sisihkan untuk membayar kontrakan, listrik, dan makan sehari-hari belum lagi kebutuhan sekolah ku makanya aku mencari lebihan dengan menjadi kuli panggul di pasar setiap pagi. "Padahal sedarah, sama-sama cantik tapi kok sifatnya jauh berbeda" Randy berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum, tidak dapat dia pungkiri pesona dari gadis muda yang dilihatnya tadi pagi masih terbayang dalam ingatannya. "Ran, kenapa lo ngomong sendiri" tanya Andre teman sekelas ku. "Ah, emang iya yah" aku mengelak. "Jangan bilang mulai stres yah lo di tinggalin Clara" dahi ku berkerut saat Andre mengatakan itu. "Pacaran aja ngak, gimana putus Dre" jawab ku santai, karena memang aku tidak pernah ada hubungan dengan Clara, dia adik kelas ku tapi dengan terang-terangan dia mendekati ku dan itu membuatku risih dengan keberadaanya. "Wah bulsit tuh cewek dia bilang Lo ngak mau sama dia karena dia pernah jadi mantan Leo" lanjut Andre bercerita "Cewek kayak gitu masih aja Lo dengerin, biarin aja kalo emang iya sorry dia bukan tipe gw" aku hanya tertawa. "Tipe Lo kayak gw yah Randy" tiba-tiba Sinta, menghampiri meja mereka. "Denger aja lagi nih cewek alay" timpal Andre "Gw ngak tanya sama lo yah dre" ucap Sinta sewot. "Gw balik duluan yah sampai ketemu besok" Randy menarik tas dari bangkunya dan pergi meninggalkan mereka. "Randy pertanyaan kita belum Lo jawab" Sinta berteriak. "Eh, nenek sihir cantik boleh tapi Randy lebih suka yang tertutup auratnya Hahaha" ujar Andre. "Stinky reseh Lo yah" Tukas Sinta dengan tatapan tajam. Dalam perjalan pulang di dalam bus yang dia naiki, dia melihat gadis yang pernah dia temui di pasar dari kaca tempat duduk bus yang dia naiki, dia melihat gadis cantik itu sedang mengobrol dengan dua teman nya yang berseragam sekolah yang sama. Ternyata gadis itu bersekolah di sekolah swasta ini, memang tak mungkin bisa mengenal atau lebih dekat dengannya. Randy hanya memandang kagum pada kecantikan gadis itu, kulitnya putih, bibirnya merah alami, dan tawa gadis itu membuat debaran lain di hatinya. 'Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? ya Alloh aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Aku hanya berharap akan sering melihatnya melihat wajahnya, matanya dan senyumnya, aku tau cinta ini akan bertepuk sebelah tangan, tapi biarlah aku bisa terus mengaguminya dalam diam karena saat ini, rasa itu sudah cukup membuat hati ku bahagia' Randy Juni 2008
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD