Bab 35

1671 Words
Wajah Adrian sangat serius. Penuh dengan tekanan dan tuntutan. Hal ini membuat Keyla menerka-nerka sendiri, apa yang akan Adrian katakan padanya. Hal penting apa sampai wajah Adrian begitu serius. Keyla sibuk menilik wajah Adrian yang sedang menyetir dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan ramai ibu kota. Biasanya di jam-jam segini, jalanan ramai akan tetapi selalu lancar terkecuali pada saat lampu merah, kendaraan bisa mengantre sekitar kurang lebih sekitar lima belas meter lamanya. “Ka-kamu mau ngomong apaan sih, Adrian? Buat aku deg-degan aja. Cepet nih, keburu pengen pipis. Kamu tuh mirip sama dosen killer tau enggak si.” Runtuk Keyla kesal. Saking takutnya dia ubah menjadi kesal dan marah. Lebih baik seperti itu daripada menahan ketakutan yang akan berakhir dijadikan bahan ejekan oleh Adrian. Pria itu menoleh sekilas ke arah Keyla. “Gini ya, Key. Mimpi itu datang lagi dan lagi, kamu tau kan aku stres mikirin mimpi itu. Aku takut kamu pergi, padahal kamu enggak akan pergi. Kamu udah ada di samping aku. Cincin ini.” Tangan Adrian merambat, menggenggam tangan kiri Keyla. “Cincin ini bukti kalau kamu itu milik aku, milik Adrian Permana. Satu pun orang enggak akan bisa rebut apapun yang udah jadi milik aku.” Deg! Satu pun? Tanpa diketahui Adrian, seseorang telah menyalip dari belakang. Sebentar lagi Keyla resmi menjadi istri orang lain, milik orang lain bukan milik Adrian. Dia bersyukur sekali, untungnya pikiran buruk tidak menjadi kenyataan. Dia sempat berpikir Adrian sudah mengetahui tentang pernikahan lantaran kabar itu mungkin akan sampai ke telinga Adrian. Mimpi itu .... Mimpi yang akan menjadi kenyataan. Mimpi itu adalah pertanda dari Tuhan bahwa orang yang dicintai Adrian akan pergi demi membalas budi. Sudah lelah dia menangis dan meruntukki nasib, tetapi dia tahu apa yang sedang menghadang kehidupannya itu ulahnya sendiri. Andai sejak awal dia menolak secara baik-baik, berbicara jujur mengenai hubungannya dengan Adrian mungkin kejadiannya tidak akan jadi seperti ini. “Ralat, kamu belum jadi milik aku sepenuhnya. Setelah menikah nanti, kamu akan menjadi milik aku sepenuhnya,” koreksi Adrian tersenyum manis. Keyla bisa mengetahui kejadian ke depannya. Senyuman itu akan berubah menjadi lekukan kemarahan. Anggap saja ini senyum terakhir Adrian. Nanti, Keyla bukan lagi menjadi alasan utama Adrian bahagia tapi Keyla akan menjadi alasan utama, mengapa Adrian menderita dan juga bersedih. “Kamu belum coba ngomong ke mama kamu?” Adrian bertanya, dibalas gelengan oleh Keyla. “It’s okay, kamu bisa mencobanya nanti. Batas waktu kamu seminggu, lebih cepat lebih baik. Sebelum itu, coba kamu katakan apa lagi yang lagi kamu pengen.” Keyla menggeleng. “Cukup Adrian, ini aja udah cukup. Aku enggak mau minta apa pun lagi, kamu fokus aja nabung buat masa depan.” Kening Adrian berkerut. “No, Key. Uang aku sudah lebih dari cukup. Kamu mau apa? Oh ini aja, honeymoon mau pergi ke negara mana aja? Korea? Prancis? Atau mau kunjungi daerah-daerah dalam negeri, banyak lho yang bagus. Kamu sebutin aja nanti aku list dan persiapin semuanya. Sesuatu gitu, sesuatu yang lagi kamu pengen? Album Korea itu? Aku bisa dapatin plus ttd-nya atau kamu mau video call sama aktor kesukaan kamu? Aku bisa.” “Adrian,” panggil Keyla lemah. Semakin Adrian seperti ini, semakin pula dirinya merasa bersalah. Dia tidak kuat menahan semua ini. Semua kebahagiaan yang akan menjadi fana. Adrian orang yang sangat baik, pria itu harus mendapatkan wanita paling baik juga. Tentunya, tidak cocok disandingkan dengan orang plin-plan sepertinya. “Oh iya, ini! Aku tahu, Key. Kamu mau aku buatin rumah pohon? Aku lihat diary kamu waktu kecil, kamu suka banget kan sama rumah pohon?” Lagi, Adrian menawarkan. Diam sejenak, berpikir. “Kamu mau acara nikahannya di alam terbuka? Atau di gedung paling besar? Ka—“ “Adrian!” bentak Keyla, sontak saja Adrian terkejut. Matanya memanas, ingin menangis dan meluapkan semua emosinya tapi tidak di depan Adrian. Terus saja Adrian menawarkan berbagai hal seolah dirinya akan menjadi istri pria itu. Pada kenyataannya dia tidak mungkin bisa menjadi istri Adrian. “Kamu bentak aku, Key?” “Maaf aku enggak sengaja. Aku sedikit pusing, dan susah respon ucapan kamu yang panjangnya kayak rel kereta api,” jawab Keyla merasa sangat bersalah. Dia pusing bagaimana caranya mengobati luka Adrian nanti. Kekecewaan dari Adrian bahkan sudah terlihat sekarang. “Sekali lagi maaf, maaf Adrian. Kamu udah buat banyak ke aku, bagaimana cara aku membalas semuanya? Kamu nawarin aku ini dan itu, tapi kamu kan belum tahu aku itu benar-benar jodoh kamu atau bu—“ “Key!” teriak Adrian membuat Keyla terdiam. Mencengkeram kemudi kuat-kuat, memperlihatkan urat-urat di tangan. “Kenapa kamu selalu ngomong begini?! Kamu itu jodoh aku, Keyla! Sekalipun Tuhan enggak restuin hubungan kita, aku akan tetap menjadi suami kamu. Bahkan kamu gila pun, aku akan tetap menikahimu.” Bicara seperti ini saja sudah bisa memancing kemarahan Adrian, apalagi sampai menikah? Semoga saja Adrian bisa mengerti dan mau mengikhlaskan dirinya. Sayang sekali, presentase Adrian akan baik-baik saja setelah mendengar kabar ini minus. “Aku Cuma berandai-andai, karena kamu bukan Tuhan yang ngatur takdir.” “Sekali lagi kamu ngomong begini, Keyla, aku enggak akan lepasin kamu. Aku akan langsung menikahimu dan membawamu ke rumah kita!” tekan Adrian, “apa jangan-jangan kamu yang mau pergi dari aku ya Key? Kamu sebenarnya enggak mau nikah kan sama aku?” Keyla menggeleng cepat. “Demi Tuhan aku cinta sama kamu, Adrian. Aku Cuma buat permisalan doang, tapi kenapa kamu jadi marah gini?” “Sorry, aku emosi.” Adrian memijat pelipisnya. “Mimpi itu datang berkali-kali jadi aku stress. Kalau kamu memang benar ingin sekali menikah denganku, syukurlah. Soalnya kalau kamu enggak cinta sama aku, kamu tetap akan jadi istri aku. Terpaksa aku harus pakai cara kasar.” Glek! Bagaimana ini? “Ya Tuhan bagaimana? Aku ingin menikah dengan Adrian tapi engkau menunjukkan jalan lain yaitu menikah dengan Gelano,” batin Keyla sesak. *** “Daddy. Kita mau pindah?” tanya Meira saat melihat ayahnya membenahi koper. Memasukkan beberapa pakaian Meira ke dalam koper. “Kita pindah beberapa hari. Nanti kalau Daddy udah nikah sama Tante Keyla nanti kamu balik lagi ke sini. Ayo sini, Daddy gendong.” Gelano menaikkan tubuh Meira ke atas tempat tidur lalu menggendongnya. Pergi sambil menggeret koper. Sesuai perintah dari Permata, Gelano akan pergi meninggalkan rumah ini dalam beberapa hari. Menghindari anggapan buruk dari orang-orang sekalian pingitan. Permata melarang Meira ikut bersama tapi Gelano bersikukuh, tetap mengajak Meira ikut bersamanya. Soal nanti, setelah pulang sekolah Meira bisa datang ke kantor atau bermain bersama Lily. “Pindah ke apaltemen Daddy?” “Iya apartemen Daddy.” Gelano menuruni satu persatu anak tangga, tentunya dengan sangat hati-hati karena Meira berada di gendongannya. Di bawah sana sudah ada Permata, menunggu. Wanita paruh baya itu bergerak gelisah ke sana dan ke mari sesekali menatapnya. “Kamu seriusan mau ajak Meira? Kamu kan kerja Gelano, kamu sibuk dan pastinya jarang ada waktu. Terus kamu mau biarin Meira di apartemen sendirian?” tanya Permata. Diceramahi bagaimana pun Gelano tidak akan mendengarnya. Pernikahan Gelano sebentar lagi, tapi pria itu tetap sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi sekarang, ingin membawa Meira juga ke apartemen. “Serius, Ma. Lano mau ngajak Meira ke apartemen. Lagian kan ada Lily, setelah pulang belajar Meira bisa datang ke kantor. Cuma beberapa hari, Lano enggak mau pisah dari Meira,” jelas Gelano. Permata mengusap pipi Meira. “Kamu mau tinggal sama Daddy kamu, sayang? Kalau kamu enggak mau, kamu bisa tinggal di sini sama Oma.” Gadis kecil itu menundukkan kepalanya. “Maaf Oma, sebenelnya Mei mau telus tinggal sama Oma tapi Mei juga mau telus tinggal sama Daddy. Kata Daddy Cuma sebental, Om enggak usah khawatilin Mei. Mei baik-baik aja.” “Mama denger ‘kan? Yaudah, Lano berangkat dulu ya,” pamit Gelano mengambil tangan Permata lalu mencium punggung tangan Permata. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” “Daddy tunggu! Mei juga mau salim!” seru Meira membuat Permata dan Gelano tertawa. Permata mengulurkan tangannya lalu dicium punggung tangan Permata oleh Meira. “Oma baik-baik ya. Nanti Mei Dateng lagi ke sini, assalamualaikum Oma.” “Waalaikumsalam. Hati-hati ya sayang.” Permata berjinjit, mencium pipi Meira. *** Haris : P Haris : P Haris : P Haris : Udh pindah ke apartemen? Gw mau ngomong sesuatu. Tapi, lo tenang aja dulu ya jangan emosi Anda : Ya, ngmng ap? Haris : Pokoknya jangan marah. Lo tau kan gw kemarin ke sana, tapi, enggak jadi deh. Titip salam buat Meira, kapan-kapan gw main lagi sama Meira Anda : Gak jls banget, asli Gelano meletakkan handphone-nya di meja kerja. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan saat ini juga. Meira sedang belajar berhitung. Sungguh, suara lantang Meira tidak mengganggu aktivitas kerjanya. Justru mendengar suara Meira yang begitu semangat dalam belajar membuatnya semangat juga bekerja. Beberapa hari setelah pernikahan dia akan cuti, bukan keinginannya melainkan keinginan Permata. Hadiah pernikahan dari Meira adalah tiket honeymoon ke Bali selama seminggu. Honeymoon? Pernah dia memimpikan honeymoon, bukan bersama Keyla tapi bersama Gresia. Gelano mengambil buku diary milik Gresia, saking sibuknya dia mengurus pekerjaan dan Meira, banyak lembaran yang belum dia baca. Sejenak dia lupakan soal pekerjaan, beralih membaca buku diary. Kak Gelano, apa kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja. Selalu saja aku menanyakan kabarmu. Kak, anak kita itu lucu sekali. Mirip seperti Kakak. Kita itu sama-sama berambisi, jadilah Meira yang super-super ambisi. Kelak Kak, Meira akan menjadi orang sukses sama seperti Kakak. Aku ingin datang dan menceritakan banyak hal pada Kakak, tapi aku belum berani. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi mencampuri urusan Kakak. Kakak harus bahagia dan pasti bahagia, aku yakin Kak. Aku sudah membuat kesalahan, dan kakak juga sudah menyesali perbuatan Kakak. Kita sama-sama salah, tapi Meira enggak salah. Aku harap, Meira bisa bahagia dan itu satu-satunya tujuanku. - Gresia Gresia mencintainya. Begitu juga dengannya. Sama-sama saling mencintai tapi tak bisa bersama. Sama-sama saling terluka, tapi yang lebih terluka adalah Gresia. “Saya sudah melihat semuanya, Gres. Saya sudah melihat Meira yang super-super ambisi. Saya akan melanjutkan tujuanmu. Saya akan membuat Meira bahagia, sangat-sangat bahagia. Saja berjanji akan mendahulukan kebahagiaan anak kita daripada kebahagiaan saya sendiri. Aku janji,” batin Gelano.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD