Bab 27

1813 Words
“Mei sayang. Daddy boleh ngomong sesuatu sama kamu?” tanya Gelano seraya mengusap rambut panjang Meira. “Iya Daddy, ngomong aja sama Mei. Mei dengel kok.” Masih di kamar yang sama dan tujuan pembicaraan yang sama. Gelano masih enggan membahas soal hari yang Meira lalui di TK itu. Masalah pertemanan Gelano bisa menjamin Meira bisa berteman dengan sangat mudahnya. Namun jika salah satu teman Meira diberitahu gosip tidak berfaedah ini oleh orang tuanya atau tidak sengaja mendengarnya dari mereka, maka kehidupan Meira di sana tidak akan baik. Meira anak aktif, cerdas, pintar, pandai bergaul dan cepat paham dalam mempelajari sesuatu. Sejak tadi Meira menunggu Gelano melanjutkan bicaranya. “Kamu pindah TK ya? Daddy akan Carikan TK yang lebih baik dan lebih bagus dari sebelumnya. Teman-temannya lebih baik, dan tentunya sedikit jauh dari rumah ini. Kamu enggak keberatan ‘kan Daddy pindahin?” Raut wajah cerita Meira berubah seketika. Senyum yang tercetak di bibir perlahan menghilang. Meira menilik sang ayah. Takut sekali kejadian tadi diketahui oleh Gelano. Sementara Gelano mendadak cemas. Dilihatnya Meira tidak menyukai keputusannya. “Kenapa Daddy? Kenapa Mei halus pindah ke TK balu? Selagamnya udah dibeli, Daddy juga pasti udah bayal mahal. Mei enggak mau pindah, Mei suka ada disana.” Benar dugaan Haris, Meira akan menolak dipindahkan. Embusan kasar lepas begitu saja. Gelano memegang kedua bahu Meira, menatap Meira dalam-dalam. “Karena lingkungan di sana tidak baik Meira sayang. Daddy tahu semuanya dari Om Haris. Daddy tahu di sana kamu nangis.” Kepala Gelano menggeleng pelan. Sudah cukup, dia tidak ingin melihat air mata sedih lagi mengalir di mata putrinya. “Daddy enggak bisa diam saja. Satu-satunya jalan ya ... kamu harus pindah sayang. Daddy enggak mau kamu terluka. Di sana terlalu kejam untuk anak seusia kamu.” Kepala Meira tertunduk. Dia mengambil satu tangan Gelano yang menempel di bahunya, lantas digenggamnya kuat-kuat. Genggaman itu terasa seperti sentuhan halus. Tangan Gelano tiga kali lipat lebih besar dari tangan Meira. Kulit seputih s**u sangat kontras dengan kulit Gelano yang sedikit menggelap. “Daddy tahu ‘kan Mei kuat? Mei enggak papa Daddy. Mei anak kuat, kata Mama Glesia Mei anak yang kuat. Buktinya Mei masih mau belajal di sana,” balas Meira bibirnya melengkung kembali membentuk sebuah senyuman, “Daddy udah dengel kan kisahnya Nabi Ayub yang sabal? Dia sabal banget diuji 18 tahun, dan Mei juga mau sabal. Kalau Mei pelgi itu altinya Mei pengecut. Itu altinya Mei enggak sabal.” “Tapi Daddy enggak bisa biarin kamu belajar di sana Meira. Daddy enggak mau kamu dihina lagi, Daddy enggak mau Mamamu dihina lagi. Daddy enggak bisa sayang. Kamu mau ‘kan pindah? Nanti abis ini kamu enggak akan pindah lagi, Daddy janji. Kamu bisa sabar sepuasnya disana, kali ini aja,” pinta Gelano memohon. Pria ini tidak bisa sesabar Nabi Ayub yang Meira ceritakan tapi Gelano tetap berusaha sekuat mungkin untuk sabar. Sekarang Gelano tengah bersabar, jika tidak dia sudah menghabisi orang-orang yang sudah membuat hati putrinya terluka. Kesabaran memang tiada batas, tapi untuknya kesabaran ada batasnya. “Gini Dad, Meila mau tanya sesuatu. Semisal Mei dikata-katain lagi di TK baru, apa Daddy akan langsung mindahin Mei lagi? Dan telus begitu Dad? Nanti Mei enggak bisa belajal benel dong?” tanya Meira membuat Gelano terdiam. Genggaman tangan Meira terlepas, beralih ke pipi Gelano. “Percaya ya sama Meila, Mei enggak papa Daddy. Mei olangnya kuat, itu kata Mama. Daddy enggak percaya apa kata Mama?” “Daddy percaya sayang. Daddy percaya kalau kamu kuat, kamu hebat, kamu pintar, kamu cerdas dan kamu kesayangan Daddy. Daddy percaya itu sayang, tapi Daddy enggak bisa lihat kamu dihina.” “Awalnya Mei juga enggak kuat, tapi Mei mikil lagi, kenapa Mei enggak kuat? Mei punya Daddy. Kalau Mei sedih Mei bisa peluk Daddy. Nanti sedihnya ilang deh,” canda Meira tertawa lucu, “Mei tetep mau belajal disana, Dad. Meila udah punya temen balu. Temen yang baaik banget, masa Daddy tega misahin Mei sama temen balu Mei? Nanti Mei nangis.” Bagaimana? Apa yang harus Gelano lakukan demi menyakinkan Meira pindah ke TK baru? Gelano diam, memikirkan banyak cara untuk dapat solusi dari pemecahan masalah ini. “Jadi kamu enggak mau Daddy pindahin?” Refleks Meira menggeleng. Kedua tangannya turun, ke posisi awal. “Kamu enggak sayang sama Daddy?” Pupil mata Meira membesar. “Sayang! Sayang banget! Sama kayak Mei sayang sama Mama!” “Terus kenapa kamu enggak ikutin apa permintaan Daddy?” “Kalena Mei sayang Daddy mangkanya Mei enggak mau pindah. Mei kan udah bilang, Mei enggak papa. Daddy bisa percaya sama Mei,” Meira menyakinkan. “Ada satu syarat kalau kamu masih mau belajar di tempat itu.” Yeah, Gelano sudah menemukan jalan keluar. Dia tidak bisa memaksa Meira untuk menuruti keinginannya. Janjinya pada Meira yang berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Meira tidak bisa diingkari. Sebagai penggantinya dia harus menemukan solusi. “Apa? Mei mau ikutin syalat Daddy,” sahut Meira semangat. “Kamu harus lawan siapapun yang udah berani hina kamu dan ibu kamu. Seperti katamu, kamu kuat, berarti kamu bisa dong lawan siapapun yang udah hina kamu. Kamu enggak perlu mukul, atau buang-buang tenaga, kamu cukup balikkan saja kata-katanya. Gunakan mulutmu untuk membalas.” Melawan? “Tapi Mei—“ Gelano menutup mulut Meira. “Lakuin apa yang Daddy perintahkan. Kalau kamu tetap mau belajar di sana, lakuin itu. Kalau kamu enggak mau, kamu harus mau Daddy pindahin. Ayo berikan jawaban kamu Meira Gessi Aditchandra.” “Daddy, tapi Mei enggak bisa lawan,” ucap Meira sedih. Lagi pula dia tidak mau melawan orang. “Sayang, kamu terlalu baik. Daddy enggak mau orang semakin ngerendahin kamu kalau kamu diam, setidaknya buat mereka bungkam dengan ucapan kamu. Setiap ada orang yang rendahin kamu, kamu harus bisa tepis dengan kata-kata lain; contohnya kamu bisa ceramahin mereka dengan kisah-kisah teladan. Itu enggak dosa sayang, itu bentuk perlawanan. Allah aja enggak suka lihat hambanya lemah. Seperti contoh hari ini, kamu langsung lari kan? Itu artinya kamu lemah, sayang,” tutur Gelano panjang lebar. “Mei lemah?” cicit Meira. “Kalau kamu langsung kabur aja, itu artinya kamu setuju apa yang mereka katakan. Kamu harus bisa membalikkan ucapan mereka. Daddy tahu kamu kuat, Daddy tahu kamu bisa. Daddy enggak mau lagi denger kamu dihina, sekali lagi Daddy lihat kamu nangis karena mereka, jangan salahin Daddy kalau kamu Daddy pindahin ke tempat lain.” Jika ada mulut pedas yang berani mengatai kita, maka kita harus lebih pedas membalikkan ucapan mereka. Itu membuktikan kalau kita tidak selemah dari apa yang orang lain pikirkan. Sama saja seperti teman kecilnya dulu, terlibat menjadi korban bully. Tentu saja dirinya yang menjadikan sosok korban bullying menjadi kuat, dan bisa melawan. Bukan jahat, tapi mereka lebih jahat. Salah? Ya, memang salah. Setidaknya melakukan pada orang yang tepat. *** Malam-malam Meira keluar dari rumah, duduk di kursi halaman rumah. Memakai jaket berbulu hadiah dari Permata. Punggungnya bersandar begitu juga kepalanya yang dia sandarkan agar mendongkak menatap langit. Langit hitam nan luas, bulan dan bintangnya menghiasi malam ini. Keluar tanpa siapa pun tahu. Mulai hari ini Meira akan menjadi orang kuat. Tidak cengeng yang mudah sekali menangis. Apa kata Gelano benar, ibunya akan menangis jika dia menangis di sini. Bibir mungil Meira melengkung membentuk senyuman indah. Menunjuk beberapa bintang di atas langit, salah satunya mungkin Gresia. “Mama jangan sedih ya. Mei janji, Mei enggak akan nangis lagi. Mama seling-seling masuk mimpi Mei ya, Mei kangen banget sama Mama. Kalau Mama di sini, Mama pasti bahagia, kita semuanya bahagia. Ada Daddy, ada Mama, ada Oma dan Meila. Mei enggak suka Tante Keyla, Ma. Dia enggak suka sama Mei, dan kayaknya dia benci sama Mei kalena mungkin Tante Keyla nganggap Mei pelusak,” ucap Meira, membayangkan Gresia bisa mendengar ucapannya. Meira menunjuk bintang paling besar dan paling bersinar terang. “Itu! Itu Mama kan?! Iya, Mama paling terang kalena Mama baik. Mama baik banget, dan Mei pelcaya Mama lagi sama malaikat Ridwan.” Meira percaya, Gresia sudah bahagia di alam sana. “Meira?” panggil seseorang refleks Meira menoleh ke belakang. Melihat Gelano tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. “Daddy cariin kamu kemana-mana ternyata kamu ada di sini. Daddy pikir kamu udah tidur tadi, Daddy kaget kamu enggak ada di kamar.” Gelano duduk di samping Meira, memeluk tubuh putrinya dari samping. “Mei pengen liat bintang Daddy. Katanya Mama jadi bintang ya?” “Tapi kalau kamu masuk angin gimana sayang? Daddy enggak mau kamu sakit.” Meira menunjuk jaketnya. “Kan Mei pake jaket Daddy. Mei enggak kedinginan.” Gelano membuka jaketnya, menyelimuti tubuh kecil Meira mengunakan jaketnya. Jaket Gelano terlalu besar, nyaris menutupi seluruh tubuh Meira. Gadis itu mendengkus kesal. “Kalau Daddy pakein Mei jaket Daddy, nanti Daddy sakit. Mei kan udah pake jaket, jadi Mei gak kedinginan lagi tapi Daddy sekalang enggak pake jaket. Kalau nanti Daddy sakit gimana? Mei enggak mau liat Daddy sedih.” Gadis itu berusaha melepas jaket Gelano, tapi Gelano menggenggam kedua tangan Meira—menghentikan Meira membuka jaket kebesaran di tubuhnya. “Daddy enggak bakal sakit, sayang, karena kulit Daddy udah tebal dan kebal.” Gelano menarik tangan Meira, menyandarkan kepala gadis kecil itu bahunya. Melihat bintang-bintang yang berkelip-kelip indah nan memukau. Meira tampak sangat menyukai bintang. Matanya tiada henti menatap benda langit di atas sana. “Daddy Mei mau punya ibu lagi,” dusta Meira, mendongkak menatap Gelano. “Kamu mau punya ibu lagi?” tanya Gelano memastikan. Siapa tahu pendengaran salah. Berharap Meira menggeleng, tapi harapannya sirna ketika dia melihat Meira mengangguk. “Kamu enggak dipaksa siapapun kan?” “Memangnya siapa yang maksa Mei?” Meira malah bertanya balik, “enggak ada yang maksa Mei, kata olang-olang Daddy mau nikah sama Tante Keyla tapi enggak jadi, kenapa? Padahal Mei seeneng banget kalau Tante Keyla jadi ibu Mei. Tante Keyla olangnya baik, sopan, ramah dan sayang sama Mei.” “Maaf ya Allah, maafin Mei. Maafin Mei udah bohong sama Daddy,” lanjut Mei dalam hati. Meminta maaf sebesar-besarnya karena telah membohongi ayahnya. Ini semua dia lakukan demi kebaikan bersama. Mei tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan ayahnya. Hening. “Mei pasti seneng banget punya mama balu.” “Meira sayang, kamu ...,” ucap Gelano menggantung. Dia bingung harus bagaimana, di satu sisi dia ingin fokus mengurus Meira tapi di sisi lain dia sudah berjanji akan menuruti semua permintaan Meira. “Kamu, kamu serius Nak? Kamu serius minta ini sama Daddy? Tapi Daddy masih cinta sama mama kamu.” “Daddy, Mei selius. Mama kan udah tenang di sana, jadi Daddy halus lanjutin hidup Daddy tanpa Mama. Tapi ya jangan lupain Mama juga.” Meira tertawa lucu. “Mei,” panggil Gelano pasrah, “kalau itu yang kamu minta, Daddy akan turutin. Demi kamu sayang.” “Maafin Mei Dad! Maafin Mei udah bohong sama Daddy. Mei enggak mau posisi Mama terebut! Tapi Mei juga gak mau jadi penghalang di hidup Daddy,” batin Meira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD