MABUK

1419 Words
Orang baru tidak akan bisa membuka kunci hati yang sudah lama disinggahi oleh orang lama jika tidak diberikan ijin. Kesempatan bisa jadi peluang untuk membuka pintu hati yang lama diisi oleh orang lain. Risa masih berada di Kantor merapihkan beberapa file yang diminta oleh Chen. Seperti perintah yang Chen katakan melalui Walda, Risa diminta untuk print semua file yang Chen butuhkan. Jam kerja Risa sudah melampaui batas, sudah pukul delapan malam tapi masih ada beberapa yang harus Risa kerjakan. Risa masih sibuk mengurus semuanya. Walda setelah mengantar Chen dari kantor Polisi tidak langsung pulang tapi meeting dengan tim hukum yang menangani kasus Chen. Walda sudah beres meeting. Walda hendak pulang tapi Walda menyempatkan dulu mampir ke ruangan Risa untuk cek apakah permintaan yang Walda perintahkan ke Risa sudah mulai dikerjakan atau belum. Walda membuka pintu ruangan Risa. Risa sedang menata file yang sudah selesai di print. “Sudah beres semua yang diminta oleh Pak Chen?” Walda bertanya pada Risa. Risa berhenti sejenak dari pekerjaannya dan menengok ke arah Walda “Sudha Bu, sudah beres. Ini saya sedang rapihkan dan cek ulang memastikan tidak ada yang tertinggal.” Risa menjawab pertanyaan Walda. “Bagus lah kalau begitu. Besok pagi kamu anta raja langsung ke rumah Pak Chen ya. Alamat rumah Pak Chen sudah saya kirim ke WA kamu. Kalau bisa kamu antar saja secepatnya, Pak Chen menunggu untuk dijadikan bahan study memastikan tidak ada yang salah dengan anggaran dari proyek yang Pak Chen kerjakan dengan pemerintah.” Walda memberikan intruksi. “Baik Bu, ini saya sudah hampir selesai. Setelah selesai akan saya beri kabar ke Pak Chen dan bertanya kapan perlu diantarkan.” Risa kembali memeriksa beberapa berkas yang sudah di Print. “Kalau begitu saya pulang duluan ya Risa. Pastikan ruangan Pak Chen sudah terkunci dan untuk saat ini tidak boleh ada yang masuk tanpa seijin kamu atau saya.” Walda memberikan senyuman dan langsung pulang. Risa hanya menjawab denga singkat “Baik Bu.” Walda sudah ke luar dari ruangan Risa. Tidka lama kemudian Risa sudah selesai menyusun dan memeriksa ulang berkas yang Chen minta. Risa salah mengartikan apa yang dibilang oleh Walda. Walda bilang berikan secepatnya kepada Chen tapi di hari besok, Risa malah berpikir harus diberikan sekarang juga. Risa mengirim pesan kepada Chen. Selamat malam Pak, mohon maaf mengganggu waktunya. Berkas yang bapak minta melalui Bu Walda sudah saya print sesuai perintah Bapak. Rencananya saya akan antar sekarang, apakah Bapak ada di rumah? Risa menunggu balasan dari Chen beberapa saat tapi Chen belum juga membalas pesan dari Risa. Risa memasukan document ke dalam satu bundle map. Risa sudah siap untuk pergi tapi masih menunggu balasan dari Chen. Hampir lima belas menit Risa menunggu balasan dari Chen tapi Chen tidak kunjung membalas. “Mungkin Pak Chen meninggalkan HP di kamar atau ruangan lain gitu ya, atau Pak Chen sedang nonton Tv jadi gak lihat pesan aku. Kata Bu Walda document nya sangat penting, jadi lebih baik aku langsung antar saja deh. Aku pikir Pak Chen butuh segera dokumennya.” Risa bicara sendiri dan menerka apa yang sedang Chen lakukan. Risa sudah sampai di rumah Chen. Risa masuk ke lobby dan minta ijin kepada satpam yang berjaga. Satpam yang berjaga sebelumnya sudah dititipkan pesan kalau akan ada sekretaris yang datang. Risa diantar dan dipandu oleh Satpam menuju unti Chen. Sesampainya di depan unit Chen, Risa ditinggalkan sendiri oleh satpam. Risa dengan ragu mendekat ke arah bel pintu. Hati Risa degdegan karena ini pertama kali Risa datang ke rumah Chen. Meski dalam urusan kerja tetap saja Risa gemetaran. Risa memberanikan diri menekan bel. Chen sudah mulai mabuk karena minum wine hampir satu botol penuh. Chen hanya duduk diam di sofa. Chen masih tidak menyangka kalau Kessy bisa mengkhianati Chen. Chen masih memikirkan alasan Kessy melakukan pengkhianatan kepada Chen. Chen merasa sudah melakukan yang terbaik kepada Kessy tapi balasan Kessy ternyata pengkhianatan. Chen baru saja akan memejamkan mata tapi bel berbunyi. Chen spontan berkata ”Kessy!” Chen dengan segera bangkit dari duduknya. Chen semangat sekali ingin bertemu dengan Kessy. Chen ingin menanyakan banyak hal kepada Kessy. Dengan jalan sempoyongan Chen membuka pintu. Ketika pintu terbuka Chen melihat Risa berdiri di depan Chen. Chen mengucek-ngucek mata karena takut salah melihat. Bua tapa sekretaris gue datang ke rumah malam-malam? Apakah gue yang nyuruh? Chen berkata dalam hati. Risa tersenyum segan kepada Chen. “Masuk.” Satu kata yang keluar dari mulut Chen. Risa dengan ragu ikut masuk mengikuti Chen. Ketika masuk Risa mencuri-curi pandang ke seluruh ruangan rumah Chen. Rumah yang sangat mewah dan modern. Chen duduk di ruang tengah. “Kamu duduk disana.” Chen menunjuk dan Chen meminta Risa duduk dihadapan Chen. Risa mengikuti perintah Chen dan duduk dihadapan Chen. Chen diam saja memandang Risa. Tidak lama Chen senyum-senyum sendiri melihat Risa. Chen sudah mulai kehilangan kesadaran. Duh sepertinya gue kurang tepat waktu datang ke rumah Pak Chen. Pak Chen lagi mabuk dan gue gak ngerti harus ngapain ini, masa gue harus balik lagi? Risa berkata dalam hati. Chen menyenderkan kepala ke sofa. Chen terlihat pinsan. Risa saat itu memperhatikan Chen, Risa mengira Chen pisan. Risa mendekat ke arah Chen dan mencoba membangunkan Chen. Ketika Risa sedang berusaha membangunkan Chen, Chen menarik Risa untuk mendekat ke arah Chen. Risa tepat berada di pelukan Chen. Chen tersenyum manis ke arah Risa. Risa susah melepaskan diri dari Chen. Meski sudah meronta dan berusaha melepasakan pelukan Chen tapi tangan Chen terlalu kuat. “Kamu cantik.” Chen berkata dengan nada orang mabuk dan tersenyum. Risa tidak menganggap apa yang Chen katakan serius karena Risa tahu Chen sedang tidak sadarkan diri. “Aku dari siang belum makan, aku lapar.” Chen kembali bicara. Chen bicara dekat sekali dengan muka Risa. Risa jelas bisa mencium bau wine yang Chen minum. “Kamu tau gak aku lagi patah hati!” Chen tiba-tiba merengut dan hendak menangis. Risa ingin tertawa melihat apa yang Chen lakukan. Chen biasanya kuat sekali dalam urusan minum wine. Chen juga biasanya tidak minum banyak, hanya minum seperlunya untuk menghangatkan badan. Tapi malam ini Chen sangat emosi melihat apa yang sudah Kessy lakukan. Chen seperti ditusuk ribuan pisau, d**a Chen terasa sangat sesak. Chen melepaskan pelukan Risa. Risa merasa lega dan buru-buru bangun dari duduk. Chen ikut bangun dari duduk, tidak lama Chen jalan menuju kamar mandi namun belum sampai kamar mandi Chen muntah. Risa hanya memejamkan mata sesaat. Risa mengelus d**a karena pekerjaan Risa belum selesai. Risa nggak mungkin tidak membersihkan muntah Chen. Setelah muntah Chen jalan beberapa meter kemudian pinsan. Risa semakin menarik nafas panjang. Risa mencoba membopong tubuh besar Chen menuju osfa. Risa menidurkan Chen di sofa. Setelah Chen aman dan tertidur, Risa membersihkan muntahan Chen. Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan bagi Risa. Pagi tadi Risa harus menahan penyidik masuk ke ruangan Chen dengan berbagai alasan, siangnya Risa juga harus menerima banyak telpon dari klien Chen dan malamnya seteleh membereskan dokumen yang Chen minta Risa masih harus sibuk mengurus Chen yang mabuk parah. Risa sudah selesai membersihkan muntah milik Chen. Risa memastikan Chen tidur dengan pulas. Risa mencoba mencari selimut untuk Chen. Risa membuka pintu ruangan yang berada di samping dapur dengan ragu. Risa melihat di ruangan tersebut banyak sekali peralatan rumah tangga dan stock sabun juga stock selimut yang baru saja di laundry. Risa mengambil satu selimut yang masih terbungkus plastic. Risa membuka plastic dan memberikan selimut kepada Chen. Risa memegang kening Chen. Suhu tubuh Chen sedkit panas. Risa langsung pergi ke dapur mengambil kompres. Risa mengompres Chen dan memastikan suhu tubuh Chen sedikit turun. Risa juga menyimpan dokumen yang Chen minta di meja samping sofa tempat Chen tidur dengan note Ini dokumen yang Bapak minta. Risa. Risa juga menyiapkan satu gelas besar air putih yang ditutup, Risa berpikir saat Chen bangun tidur Chen akan membutuhkan air putih. Setelah memastikan Chen aman dan sudah terlelap, perlahan Risa berjalan keluar dan menuju pintu. Risa pulang. *** Waktu sudah subuh, Chen terbangun dari tidurnya. Chen berusaha duduk, Chen memegang erat kepala karena kepala Chen terasa sakit. Chen melihat ke arah meja, sudah ada air putih. Chen meminum air putih yang ada di meja. Chen juga melihat map yang Risa simpan. Chen membaca note dari Risa. Pertama-tama tidak ada yang mengganjal dari Chen karena Chen mengira kalau tidak ada kejadian apapun. Tapi lama-lama Chen pensaran apa yang sudah terjadi. Chen melihat CCTV dan Chen merasa malu karena sudah merepotkan Risa. Bukan hanya malu tapi Chen juga tersenyum kecil, setelah sekian lama Chen baru merasakan ada wanita yang merawat Chen meskipun dengan terpaksa. Chen menghargai apa yang Risa lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD