Hubbina, nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku yang memiliki arti “pecinta” sebagai doa agar semua orang mencintai dan mengasihiku, begitulah harapan mereka, dan begitu juga harapanku.
Aku cukup bahagia dengan nama yang dipilihkan oleh kedua orang tuaku. Mungkin diantara beberapa perempuan, aku adalah gadis yang beruntung.
Aku tinggal di dalam lingkungan keluarga yang berada, meski bukan orang kaya. Aku teramat disayang oleh keluargaku, dan oleh mbak-mbak santri di pesantren asuhan abah dan ummiku. Mereka juga sangat sayang dan menghormatiku, sering kali memujiku dan tidak jarang mengungkapkan kekagumannya atas kepribadian, kecerdasan, dan juga kecantikanku.
Aku lahir dari keluarga pesantren, beradab, sopan, santun, sederhana, dan didasari oleh ilmu agama. Begitulah pendidikan yang diajarkan oleh kedua orang tuaku.
Berada di pesantren bertahun-tahun, mengenyam pendidikan di pesantren bertahun-tahun, mendidikku menjadi pribadi yang penurut dan patuh kepada kedua orang tuaku.
Termasuk ketika tiba saatnya keputusan perjodohan yang beliau tetapkan untukku.
Aku mengangguk, mengiyakan keputusan abah dan ummi ketika beliau menjodohkanku dengan seorang pria yang masih memiliki hubungan kerabat dengan keluargaku. Gus Ashfa namanya. Dia adalah putra bungsu dari Kiayi Masykur, sepupu abah. Salah satu kiayi besar yang ada di Pulau Jawa.
Kiayi Masykur adalah kiayi ternama di kotaku. Pesantrennya pun adalah pesantren terbesar di kota ini.Yayasan pendidikan yang dikelola dalam pesantrennya mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tinggi. Murid yang diasuh pun lebih dari dua ribu santri.
Bagaimana keluargaku tidak bangga menerima lamaran beliau untukku, begitu juga diriku. Seorang putra kiayi besar ingin mempersuntingku, sungguh berbunga-bunga rasa hatiku. Meski tidak pernah bertemu dengannya, aku tidak ragu menerima lamaran kedua orang tuanya untukku, meski hanya tahu dia dari sebuah gambar di dalam ponsel. Aku pun yakin untuk menerima lamarannya. Apalagi yang aku dengar dia adalah pria yang taat, cerdas dan saat ini sedang menempuh pendidikan di universitas negeri jurusan Kedokteran di luar kota.
Keputusan kedua orang tuaku menerima lamarannya membawaku kepada sebuah perjalanan baru dalam hidupku. Karena setelah keluargaku menyetujui perjodohan itu, aku langsung diboyong untuk ikut tinggal bersama mereka (keluarga Kiayi Masykur).
Alasan keluarga itu memboyongku adalah agar lebih dekat dengan keluarga mereka. Selain itu untuk alasan pendidikan juga, aku yang baru lulus SMA diminta oleh Kiayi Masykur dan istrinya ibu Nyai Arifah untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi di pesantrennya.
Sudah dua bulan aku tinggal bersama keluarga Kiai Masykur. Ummi Arifah istri kiayi sangat menyayangiku, begitu juga dengan calon kedua kakak iparku Ning Azna, dan Ning Khilma.
Aku bagaikan anak bungsu dalam keluarga mereka. Seperti nama "Hubbina" yang dipilihkan oleh kedua orang tuaku, aku sangat dicintai dan dikasihi di rumah ini, rumah laki-laki yang InsyaAllah akan menjadi suamiku.
Hari terus berlalu, aku sudah menjadi santri di pesantren calon mertuaku. Aku belajar ilmu umum dan agama di tempat ini. Meski statusku sudah menjadi seorang santri, aku tidak tinggal di asrama pesantren, karena aku masih memiliki hubungan family. Jadi Kiai memintaku untuk tinggal bersama keluarga mereka di rumah induk, atau biasa disebut "Ndalem" oleh para santri.
Sudah enam bulan aku berada di pesantren ini, namun aku belum pernah bertemu dengan Gus Ashfa, calon suamiku. Dia masih sibuk dengan perkuliahannya di luar kota.
Berbeda dengan kakak-kakaknya yang menempuh pendidikan di pesantren dan setelah lulus menjadi pengajar di pesantren atau pun berdakwah agama di luar pesantren.
Gus Ashfa lebih memilih menempuh pendidikan kedokteran, mungkin tujuan Gus Ashfa adalah ingin mengembangkan sekolah tinggi ilmu keperawatan dan klinik kecil yang ada di pesantrennya ini, hingga akhirnya dia memilih untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran.
Kini genap delapan bulan aku berada di rumah calon mertuaku ini. Aku dengar dari Ning Azna, dan Ning Khilma kalau Gus Ashfa akan pulang hari ini. Ummi Arifah juga mengatakan padaku kalau putranya akan datang hari ini.
Jujur perasaanku jadi cemas dan gelisah. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan laki-laki yang telah dijodohkan denganku. Ada perasaan senang, takut, dan malu di dalam hati.
Pagi ini Ummi Arifah memintaku untuk membantunya di dapur menyiapkan makanan kesukaan Gus Ashfa. Karena jam kuliahku kosong, aku pun membantunya.
Ada beberapa mbak-mbak santri juga yang membantu ummi dan aku di dapur. Selain itu ada juga abdi ndalem yang membantu untuk bersih-bersih dan membereskan semua pekerjaan rumah tangga di dapur saat ini.
"Gus Ashfa itu suka soto, jadi kamu harus belajar masak soto ya, Nduk!" kata Ummi Arifah padaku.
"Nggih, Ummi!" jawabku mengangguk sembari mengupas kentang yang dari tadi sudah aku kupas bersama ummi.
"Gus Ashfa sukanya soto ayam kampung masakan ummi, yang taburan bawang goreng dan kentang gorengnya banyak," kata Ummi Arifah lagi.
"Nanti ummi catatkan resep bumbunya, ya! Jadi kalau kamu sudah menikah dengan dia, kamu nggak bingung lagi menyiapkan makanan kesukaannya," lanjut ummi dengan lembut padaku.
Aku melanjutkan memasak bersama ummi, sampai kemudian Ning Azna menantu pertama ummi mengabarkan pada kami kalau Gus Ashfa sudah datang.
Ummi pun segera keluar dari dapur meninggalkanku untuk menemui anak bungsunya yang terlihat sangat beliau rindukan.
"Waaah baunya seger sekali, Nduk," kata Ning Azna padaku sembari mengaduk kuah soto yang ada dalam kuali di atas kompor.
Kulihat Ning Azna segera meracik soto tersebut ke dalam sebuah mangkuk besar, kemudian memintaku untuk segera menata semua masakan yang telah selesai dimasak di meja makan.
"Ditata yang rapi di meja makan ya, Nduk!" katanya padaku sembari memberikan semangkuk soto yang telah selesai diracik tersebut.
Aku pun segera membawa hidangan itu ke meja makan. Namun sesampai di pintu ruang makan, langkahku terhenti saat melihat Ummi Arifah sedang berbicara dengan seorang pria yang posisinya membelakangiku.
Mungkin dia adalah Gus Ashfa, seorang pria yang telah dijodohkan denganku.
"Jadi Ning Hubbi tinggal di rumah ini?" tanya pria itu.
"Iya, sebentar lagi kalian akan menikah. Jadi abahmu minta kepada keluarganya agar dia tinggal di rumah ini, agar kita bisa lebih dekat dengannya. Selain itu, dia juga bisa kuliah di sini," jelas Ummi Arifah pada putranya.
"Kenapa dia tidak tinggal di asrama pesantren aja, Ummi?" tanya Gus Ashfa.
"Looo, kan dia masih keluarga, calon menantu ummi juga. Masak tinggal di asrama?"
"Kenapa sih, Ummi mesti menjodohkan Ashfa sama dia?"
Gus Ashfa terlihat marah.
"Loh, kok kamu tanya gitu?"
Ummi begitu lembut saat menjawab.
"Ummi! Ashfa kan sudah pernah bilang. Ashfa bisa cari calon istri sendiri, jadi nggak perlu dijodoh-jodohin seperti ini."
"Ashfa! Ummi dan Abah hanya ingin memilihkan jodoh yang baik buat kamu," jawab ummi. "Ning Hubbi itu gadis yang salihah, cantik, hafal 10 juz Al-Qur'an," lanjut Ummi Arifah.
"Kakak-kakakmu juga dijodohkan semua sama Abah dan Ummi, dan mereka juga bahagia," tambah ummi meyakinkan Gus Ashfa.
"Ning Azna, Ning Khilma mereka sangat baik, kan? Jadi istri salihah juga buat kakak-kakakmu, dan kakak-kakakmu juga sangat mencintai mereka. Nanti kalau kamu ketemu Ning Hubbi, kamu juga pasti akan suka sama dia."
Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka, dan tanpa sengaja juga Ummi Arifah melihatku yang sedang berdiri di pintu masuk ruang makan dengan membawa semangkuk besar soto ayam kesukaan putranya.
"Hubbi!" gumam Ummi Arifah saat melihatku.
Seketika Gus Ashfa menoleh ke arahku yang saat itu berdiri di belakangnya. Dan aku pun melihat wajahnya untuk pertama kali, wajah pria yang telah dijodohkan denganku.
Pria berjaket kulit warna hitam, bercelana jeans, dengan tas punggung di pundaknya. Wajah pria yang menatapku dengan mata sayu, dengan raut wajah kesal, dan binar mata kekecewaan. Karena setelah melihatku dia langsung pergi dengan acuh menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Aku menunduk lesu. Ya Allah! Kemarin aku berpikir akan ada sebuah hati yang bahagia saat pertemuanku dengan Gus Ashfa. Ternyata aku keliru. Pria itu sama sekali tidak mengharapkanku.
"Hubbi!" seru Ummi Arifah membuyarkan lamunanku.
"Iya, Ummi."
Aku segera berjalan untuk meletakkan semangkuk soto itu di meja makan.
Bersambung