Cukup lama aku mempertimbangkannya. Tangisan Brayen terdengar semakin kenang membuat perasaanku bertambah kacau. “Maafkan aku untuk masalah di mobil. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Brayen membutuhkanmu, Sasya.” “Baiklah. Aku akan ke sana sekarang.” “Supirku sudah menjemputmu. Terima kasih sudah mau datang demi Brayen.” Sambungan terputus. Aku keluar menunggu jemputan supir Brian. Tidak perlu menunggu lama sebuah mobil putih berhenti di depanku. “Nona Sasya?” tanya pria yang ada di belakang kemudi setelah menurunkan kaca spion mobilnya. “Iya, saya Sasya.” “Mari Non, masuk.” Mobil melesat pergi meninggalkan rumah Raya. Perasaanku semakin tidak karuan memikirkan antara Jun Hee dan Brayen. Kedua laki-laki ini membuatku pusing di saat yang bersamaan. Seorang pelayan menyam

