Bab 8. Kamu Cantik

1003 Words
“Eh?!” pekik Gressida hampir saja berteriak andai mulutnya tidak dibekap dengan telapak tangan suaminya. Gressida tidak menduga bahwa pria itu bersembunyi di belakang pintu kamar masih dengan tubuh lembab, Gressida berpikir suaminya sudah mandi padahal dia lumayan lama berbincang dengan Joelle. “K-kenapa?” tanyanya kemudian dikarenakan tangannya masih dicekal oleh Isaac untungnya pria itu tak berniat mencelakainya. Mulut Isaac terkatup rapat akan tetapi, pergerakannya pasti ... mempersempit jarak dengan Gressida membuat perempuan itu spontan mundur, tapi pinggangnya direngkuh sehingga semakin menempel dengan d**a bidang suaminya. Adegan yang mereka lakukan di kolam renang berada dalam bayangan Gressida. Tangan bebas Isaac mengudara mengusap pipi mulus Gressida yang tirus lalu naik merapikan anakan rambut yang mencuat dari cepolan model ekor kuda. “Kamu cantik,” ujarnya membuat Gressida tertegun. Cantik versi Isaac karena tubuh mungil dan wajah imutnya serasa sedang menikahi anak remaja padahal usia Gressida terbilang legal dua puluhan. Sayangnya badan mungilnya berkelahi dengan pipi tirus yang terlihat jelas kurang gizi, kemungkinan besar karena selama hidupnya bertahun-tahun belakangan ini tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Tanpa sadar Isaac berdecak ketika membayangkan hari-hari Gressida yang direcoki oleh dirinya sebagai bos yang terbilang cerewet bahkan doyan mempekerjakan sampai malam di luar jam kerja. Ya bisa dibilang masa pendekatan Isaac agak diluar nalar dan dark alih-alih memberi perlindungan pada si perempuan. Begitu mendapati celah memasuki kehidupan Gressida pria itu tak mau terlambat. Dengan cara kotornya berhasil memerangkap perempuan itu, semoga saja Gressida tak membencinya setelah ini. “Gressi …,” panggil Isaac mengambang menanti respon dari ekspresi Gressida yang diam. “Kenapa diam saja?” Gressida semakin diam, tangan kakunya mencoba menyentuh telapak tangan Isaac di pipinya. Dengan gemetar kecil berhasil menurunkan dari atas sana. Terlihat pula bagaimana perubahan ekspresi wajah sang suami yang tak suka dengan tindakannya. “Nanti masuk angin kalau nggak cepat-cepat mandi,” ujar Gressida memberitahu sebelum Isaac berpikir lain. Lain lagi karena sudut bibir Isaac tersungging tipis, sangat tipis tanpa sepengetahuan Gressida. “Ayo,” ajak pria itu menuntunnya melepaskan belitan pinggang dan digantikan dengan rangkulan bahu yang membuat tumpuan kaki Gressida hampir oleng andai tak dirangkul sang suami. “Mas Isa duluan saja,” tutur perempuan itu tahu diri bahwa seharusnya Isaac dulu yang memakai kamar mandi. Dia pun masih mencari akal karena tidak membawa barang-barang. “Aku nggak bawa baju, Mas,” lanjutnya setengah tak enak. Tak yakin pula membahas perihal baju seperti yang disarankan oleh Joelle. Kepala Isaac mengangguk-angguk paham lalu mengajak Gressida tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu membawanya ke sebuah ruangan yang sudah mencuri perhatian Gressida ketika baru masuk kamar. Gressida memerhatikan tangan kekar berurat suaminya yang mendorong salah satu cermin besar full body. Gressida tercengang karena ketika dibuka wall in closet yang dia duga. Sudah menduga, tapi tetap saja kaget karena isinya memang seperti yang dibilang oleh adik iparnya. “Punya kamu,” beritahu Isaac menunjuk sisi sebelah kanan yang berderet dari sepatu, pakaian berbagai model dan merk, lalu tas dan peralatan tempur make-up. “Dan ini punya saya,” lanjutnya menunjuk sisi sebelah kiri yang tak beda jauh besar volumenya dengan milik Gressida. Isaac tidak membedakannya, Gressida merasa terharu. “Sudah, ‘kan? Ayo,” ajaknya kembali berhasil membuat Gressida hampir memekik ketika tubuhnya melayang lalu keluar dari wall in closet tanpa menutup pintunya. Tetapi, tidak lama kemudian pintu itu menutup sendiri ketika Gressida sudah direbahkan ke tengah-tengah ranjang. Gressida menatap suaminya yang berdiri di sisi ranjang setengah jongkok menarik turun celana boxer meninggalkan celana dalam yang ujungnya membentuk isi di dalamnya. Kepala Gressida memaling ketika sadar diperlihatkan yang seperti itu. Dia malu, tapi sepertinya Isaac tak merasa malu sama sekali. Merasakan gerakan ranjang seperti diniaiki sudah pasti Isaac pelakunya, tapi tetep saja Gressida takut. Perempuan itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi rasa-rasanya dia kurang siap. Apakah akan secepat ini mengingat suaminya Isaac yang terlihat tidak sabaran. Kepalanya yang berpaling ditarik perlahan dagunya oleh tangan kekar Isaac. Perlahan menatap pria itu yang berada di sebelah tubuhnya. “Kenapa, hem? Mau request?” Jika tidak mengingat yang di depannya bukan hanya suami serta bosnya kemungkinan Gressida sudah berteriak karena sikap berbeda Isaac. Apakah perangai pria itu berubah saat di ranjang?! “Kamu tahu pasti masa-masa seperti ini akan terjadi, seharusnya kamu sudah mempersiapkan.” “Nggak mandi dulu?” tanya Gressida lirih. Terdengar seperti cicitan. Isaac terkekeh lalu merebahkan tubuhnya memeluk Gressida dari samping. “Kerja dua kali, Gressi. Nanti juga keringetan lagi ngapain mandi dulu? Atau kamu tidak percaya diri kalau tidak mandi dulu. Kamu takut bau badan?” Isaac sialan! Gressida diam tak menanggapi. Diamnya menjadikan celah pria itu bergerak gesit, tahu-tahu tangannya sudah mengelus pinggang ramping perempuan itu, menyibak kimono yang masih ditali. Dalam sekali gerak tubuh mereka bersentuhan, Gressida mendiami melihat seberapa jauh keberanian Isaac. Yang namanya sudah bernafsu dan memiliki keinginan jelas tak akan mundur. Gerakannya begitu halus tahu-tahu sudah menindih tubuh mungil Gressida. Bibirnya dijangkau dalam bungkaman ciuman halus. Desah tak sadar yang keluar dari bibir mungil sang istri membuat Isaac semakin berani menekan lidahnya—membelit—membawa gerak elusan tangan hingga berhenti di aset kembar pada celah sempit Rachel dan Samantha. Gressida terkesiap akan tetapi, tak dibiarkan oleh Isaac dalam kagetnya itu dibungkam oleh ciuman panjang. Tubuhnya bergelinjang tidak karuan karena salah satu sepasang kembarnya dirangkum lalu ditekan puncuknya. Isaac sudah setengah telanjang, tetapi Gressida masih tertutup meski tidak rapi. Kimononya sudah tergeser sana-sini dengan pakaian renang yang sama berantakannya. Tak sabar dengan segala jenis penghalang dia tinggalkan bibir candu istrinya lalu beranjak setengah duduk—merunduk—mengangkat sang istri untuk duduk lalu berusaha membuka bajunya tidak sabar. "Sial! Siapa yang merancang baju seketat dan sesusah ini?! Rumit sekali," umpat Isaac hendak merobek ketika meraba punggung mencari pengaitnya, untung saja Gressida gesit menahan pergerakan tangan sang suami. "Apa?!" sentaknya tanpa sadar. "B-biar aku saja," ujar Gressida terbata-bata. Dia turunkan talinya satu per satu dari bahu. Gressida tahu setelah tali itu diturunkan maka dadanya akan terpampang nyata di hadapan suaminya. Meskipun sebelumnya punggung telanjangnya sudah terlihat jelas tetap saja malu itu hadir membersamai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD