"Punya atasan kok semena-mena, dikira saya nggak punya kesibukan tersendiri apa, ya? Ya ampun! Harus ngerjain tugas kuliah, harus ngafalin ini, harus merekap data perusahaan. Astagfirullah! Semoga tubuh saya baik-baik aja!" gerutu Keysa.
Ucapan itu, Keysa utarakan saat dirinya sudah keluar dari ruangan milik Dion dan dengan tangan kanan yang terus saja mengusap-usap d**a, sembari mengutarakan kata sabar terus menerus.
Bagaimana tidak, apa yang tadi diutarakan oleh Dion, memang benar-benar membuatnya merasa sangat kesal dan juga melatih kesabaran.
Kembali berkutat dengan layar komputer, lagipula sebentar lagi akan waktunya untuk pulang. Namun, tiba-tiba saja telepon yang berada di atas meja milik Keysa kembali berdering.
Dengan sangat terpaksa sekali, Keysa menggerakkan tangan kanannya itu untuk mengangkat telepon itu. "Keysa," ucap Keysa yang terlebih dulu mengeluarkan namanya.
"Lagi apa kamu sekarang?" tanya seseorang yang berada di seberang telepon.
"Loh, Pak Dion?" tanya Keysa, dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
"Saya nanya, sekarang kamu lagi apa?" tegur Dion, yang kembali mengulang pertanyaannya tadi.
"Saya masih ngerjain pekerjaan yang tadi," jawab Keysa pada akhirnya.
Tak ada sahutan dari Dion hingga beberapa detik, setelah itu barulah atasan dari Keysa itu kembali berucap, "Sekarang jangan kerjain itu dulu, pelajari saja apa yang tadi saya kasih ke kamu! Nanti pas mau pulang, kamu percobaan presentasi di depan saya. Nanti di ruang meeting."
Bagaikan mimpi sesuatu di siang bolong, Keysa langsung terkejut dan hanya bisa menjawab, "Baik, Pak. Nanti saya pelajari dulu!"
Setelah jawaban Keysa yang setuju itu sudah terdengar, barulah detik itu juga Dion langsung memutuskan panggilannya, meninggalkan Keysa yang tengah pusing dan juga sedikit gemetar.
"Ya ampun, mana ini bentar lagi waktunya buat pulang, dan dikasih tugas segini banyaknya?" keluh Keysa, sembari menatap makalah yang tadi diberikan oleh atasan yang sangat menyebalkan itu.
Keysa mengembuskan napasnya terlebih dulu, ia harus segera mempelajari semua ini, daripada terus saja mengeluhkan waktu, yang membuat dirinya justru tak bisa produktif.
Mengambil bolpoin dan juga satu lembar kertas, yang untungnya itu sudah disediakan di laci meja.
Membaca semua lembaran, dengan ketelitian yang sangat tinggi, karena sangat tak mungkin sekali jika harus mengulang kegiatan membaca hal itu lagi. Setelah selesai membaca, kini saatnya untuk Keysa meraih bolpoin dan mencatat poin-poin penting yang sangat penting.
Belum juga Keysa menyelesaikan tugasnya mencatat rangkuman seperti itu, telepon yang berada di atas meja kembali berdering, membuat Keysa pun harus mengangkat telepon tersebut.
"Keysa." Seperti biasa, Keysa terlebih dulu menyebutkan namanya sendiri, supaya orang yang tengah menelepon ke arahnya itu dapat mengetahui siapa yang tengah dituju.
"Sudah selesai?" Lagi-lagi yang terdengar adalah suara dari atasannya yang sangat menyebalkan. Yaitu, Dion.
Mengembuskan napasnya terlebih dulu, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Pak. Tunggu sebentar ya ...."
Parahnya lagi, setelah mendapat jawaban seperti itu dari Keysa, Dion memutuskan untuk langsung mengakhiri panggilan tersebut, sebenarnya Keysa cukup sabar untuk menghadapi atasan yang seperti itu.
Memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, daripada terus memikirkan sifat Dion yang seperti itu. Setelah selesai merangkum semua isi tersebut, Keysa tak langsung masuk ke dalam ruangan atasannya, tetapi ia berlatih terlebih dulu dengan suara yang pelan.
"Kalau udah siap, kenapa enggak dari tadi masuknya?" tegur Dion, dengan kedua tangan yang ia lipat dan diletakkan di depan d**a.
Mendengar suara yang sangat familier di telinga, membuat Keysa langsung menoleh dan menyunggingkan senyum andalannya. "Eh, maaf, Pak. Ini saya udah siap semuanya kok."
"Kamu udah siap?" Dion mengulangi perkataan yang tadi keluar dari mulut Keysa, tentu saja membuat perempuan tersebut langsung menganggukkan kepala dengan sangat semangat dan berdiri dari posisi duduknya tadi.
"Tapi sayangnya, sekarang itu udah waktu buat pulang ke rumah masing-masing, atau kamu mau di sini aja? Lembur?" ujar Dion, dan langsung memberi tawaran pada perempuan yang saat ini berada di depan tubuhnya.
Tentu Keysa langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak, Pak. Saya lebih milih buat pulang ke kosan aja, lagian masih banyak banget tugas mata kuliah yang dateng di hari ini."
Dion mengulas senyumnya, lalu menyahut, "Ya udah, kalau gitu silahkan diberesin semua peralatan kamu itu, terus kita pulang!"
"Baik, Pak!" Dengan sangat senang hati, Keysa langsung membalikkan tubuhnya itu dan mengemasi semua peralatan yang ia bawa, dimasukkan ke dalam tas.
Melihat Keysa yang tengah sibuk sendiri itu, Dion pun memilih untuk masuk ke dalam ruangannya dan ikut merapikan semua yang berada di situ.
"Pak, udah selesai?" tanya Keysa untuk memastikan, dengan wajahnya yang diperlihatkan hanya sebelah, karena perempuan tersebut tengah berada di pintu.
Apa yang dilakukan oleh Keysa, justru mengundang tawa dari Dion, tetapi karena sadar jika sekarang tengah berada di dalam kantor, maka Dion memilih untuk tak terlalu mengeraskan suara tawanya.
"Kamu sendiri sudah selesai?" tanya Dion, sembari melangkahkan kakinya mendekat ke arah Keysa yang berada di luar ruangannya itu.
Keysa pun menganggukkan kepalanya, karena pada kenyataannya memang seperti itu, dirinya sudah selesai dengan kegiatan mengemasi semua barang yang sangat penting.
"Ya udah, yuk!" ajak Dion, dengan tangan yang sangat tak sopan sama sekali, langsung berada di pundak Keysa.
Perempuan tersebut diam sebentar, dan Dion tahu akan hal itu. Sehingga ia hanya mengulas senyum, karena memang itu tujuannya, membuat Keysa jatuh hati padanya.
Namun, untung saja Keysa adalah perempuan yang tak terlalu bodoh. Sehingga ia paham akan hal tersebut, ia mengulas senyum dan menggerakkan tangan kanannya supaya berada di pinggang milik Dion.
Mereka berdua saling melempar senyum, karena di balik senyuman itu tersimpan niatan tersendiri, tetapi dalam hal yang sama. Yaitu, membuat orang yang mereka perlakukan manis itu segera terbawa perasaan dan berakibat jatuh cinta.
"Mau langsung pulang, Sayang?" tanya Dion, setelah mereka sudah benar-benar keluar dari ruang lingkup kantor, dan tengah berjalan menuju ke parkiran perusahaan milik Dion.
Mendengar pertanyaan Dion yang seperti itu, dengan panggilan 'Sayang', membuat Keysa langsung melepas tangan kanannya dan bergerak untuk mencubit pinggang milik laki-laki yang berada di sampingnya itu, sembari tertawa.
Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Keysa, Dion juga tertawa. Dirinya juga geli setelah memanggil Keysa dengan panggilan yang seperti itu. "Buat kamu baper itu gak susah ya ternyata," ujar Dion, dengan sangat jujur.
"Ya iyalah, kan hatinya udah dilatih buat tahan segala cuaca!" sahut Keysa, dengan sangat percaya diri, meskipun sebenarnya jauh di dalam hati, Keysa itu sudah mulai ada rasa pada laki-laki di sampingnya itu.