Melamar pekerjaan

1129 Words
Tak kuasa melihat kenyataan dan juga sangat malu dengan Dion. Orang yang tadi sangat disanjung dan yakin bahwa memiliki perasaan yang sama dengannya, tetapi semua itu seakan memberi tamparan keras untuk Keysa. Ia keluar dari cafe tersebut, tak lupa dengan tas miliknya, meninggalkan Dion yang bertanya-tanya. “Eh, Keysa tunggu!” Dion segera berdiri, membayar total makanan yang dipesan oleh Keysa, lalu mengejar langkah Keysa yang sudah terlalu jauh. Namun, untung saja Dion berhasil menghentikan langkah Keysa. “Key! Lo kok lari sih? Kenapa? Masih enggak percaya sama kenyataannya?” tanya Dion, dengan tangan yang berhasil mencekal satu tangan Keysa. “Lepasin! Gue benci sama lo!” teriak Keysa frustrasi, lalu ia menghempaskan tangan Dion dengan kasar dan duduk di pinggir jalan dengan muka yang disembunyikan pada kedua telapak tangannya. Dion menghela napas, lalu ikut duduk di samping Keysa. “Memang benar, di dalam kehidupan enggak semuanya sama dengan apa yang kita inginkan, tetapi kalau kenyataannya seperti itu, kita enggak bisa apa-apa.” “Berisik lo!” sungut Keysa, lalu menutup kedua telinganya dengan tangan. Dion melirik Keysa, lalu tersenyum jahil. Melepaskan kedua tangan Keysa dari telinga, lalu berucap, “Udah! Sama gue aja, Key yang udah pasti.” Buru-buru Keysa menarik tangannya dari Dion, lalu menjawab, “Ogah! Najis!” Bukannya tersinggung, Dion justru tertawa mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Keysa. “Pulang aja, yuk! Udah enggak ada jadwal kampus lagi, kan?” “Yuk lah! Lumayan irit ongkos,” jawab Keysa jujur, apalagi sekarang uang miliknya semakin menipis. Dirinya mencoba untuk melupakan kejadian yang tadi. Dion mengangguk, lalu tanpa izin ia meraih tangan kanan Keysa dan menggenggamnya erat. Tak ada percakapan di antara keduanya, hingga sampai masuk ke dalam mobil. “Lo ada lowongan kerja enggak sih?” tanya Keysa, saat mobil baru berjalan beberapa menit. Dion langsung mengernyit mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Keysa. “Buat apaan lo nanya tentang kerja?” “Ya biar gue punya uang lah! Uang yang dikasih orang tua gue itu pas-pasan banget. Udah nyari ke sana kemari, tetep aja belum dapet kerjaan,” jawab Keysa, sambil membereskan rambutnya yang terlihat berantakan. Dion menganggukkan kepalanya, lalu untuk memastikannya ia kembali bertanya, “Lo yakin nih mau kerja?” “Yakinlah! Lo ada lowongan kerja buat gue?” jawab Keysa dengan sangat antusias. “Kalau jadi office girl, gimana? Mau enggak?” tanya Dion, sebenarnya bukan lowongan itu yang ada. Dion hanya ingin menguji keseriusan Keysa saja. Terlihat berpikir sejenak, lalu Keysa menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Apa aja deh kalo kerja mah! Yang penting digaji.” “Eh, tapi harusnya sih gue udah dapet gaji dari lo!” Dion mengernyit ucapan Keysa, memangnya Dion memperkerjakan Keysa, hingga harus membayarnya? Keysa memang ada-ada saja. “Dih! Lo kerja apaan? Kok tiba-tiba bilang digaji sama gue?” Keysa menatap Dion dari jarak dekat, lalu menjawab, “Jadi pacar pura-pura lo! Hal itu juga kan ngurangin waktu sehari-hari gue.” “Dih! Ya enggaklah! Kalau lo jadi pacar beneran gue, lo minta apa aja juga bakalan gue kasih!” ujar Dion, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Keysa. “Jadi pacar pura-pura lo aja udah tekanan batin. Gimana jadi bener-bener pacaran!” Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Dion. Membuat Keysa kembali berucap, “Dion! Beneran nih gue nanya, ada lowongan kerja enggak buat gue?” “Jadi kekasih gue?” tawar Dion lagi, karena kesal Keysa segera memberi cubitan pada pinggang Dion. Membuat laki-laki tersebut meringis menahan perih. “Iya, iya! Ada kok kalau buat lo mah! Nanti besok gue bawa ke kantor milik gue,” ucap Dion. Keysa langsung menaikkan satu alisnya. “Omongannya gaya bener ya! Segala pake kantor gue!” “Dih! Lo nggak percaya? Itu emang beneran kantor punya gue!” ujar Dion, sabil menatap Keysa heran. Keysa mengeluarkan tawa ringannya dan menjawab, “Kenapa enggak sekarang aja kita ke sana?” “Liat dong, sekarang jam berapa! Ini tuh udah jam lima sore. Semua karyawan itu pulangnya jam empat,” ujar Dion yang membuat Keysa menganggukkan kepalanya saja. Mobil Dion berhenti tepat di depan indekos Keysa. “Udah sampai tuh!” “Thanks ya!” ucap Keysa, lalu keluar dari mobil milik Dion. Bukannya segera pergi dari indekos Keysa, Dion justru ikut turun dan menghampiri Keysa. “Loh! Kok lo enggak balik?” tanya Keysa heran, saat mendapati Dion yang tiba-tiba berada di sampingnya. “Emangnya kenapa? Main bentar aja, enggak boleh?” tanya Dion dengan kedua alis yang ditautkan. Keysa mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya lagi masuk ke dalam indekos. “Ya siapa tau lo ada niat macem-macem! Kan kita beda kelamin.” Mendengar penuturan Keysa, Dion langsung mengusap dadanya sambil mengucapkan istighfar berkali-kali. “Kok lo bisa kepikiran sampe situ sih?” Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Keysa, perempuan tersebut justru memilih untuk membuka gorden, lalu jendela. Membiarkan udara panas masuk ke dalam indekos Keysa. “Key, lo bisa kok kerja jadi asisten gue,” ucap Dion yang langsung menghentikan kegiatan Keysa yang tengah merapikan seprai. “What! Gue enggak salah denger, kan?” pekik Keysa sangat senang. Dengan refleks Dion langsung menggerakkan kedua tangannya menutup telinga. “Berisik tau nggak!” “Ya abisnya, gue bener-bener enggak nyangka! Lo tadi ngomongnya serius kan? Gajinya berapa? Kerjanya ngapain aja?” Keysa langsung memberikan Dion bertubi-tubi pertanyaan. “Satu-satu kalo nanya tuh! Gue bingung mau jawab yang mana dulu,” sahut Dion kesal, sambil melepas tangannya dari telinga. Keysa menampakkan deretan giginya yang rapi itu. “Hehe, ya udah maaf. Emang jadi asisten lo itu kerjanya ngapain aja?” “Bantuin kerjaan gue lah,” jawab Dion lurus, membuat Keysa menatap Dion tambah tak mengerti. “Kerja lo ngapain aja sih?” tanya Keysa yang semakin ingin tahu tentang kerjaan yang akan ia geluti. Dion menatap Keysa cukup lama, lalu menjawab, “Mau atau enggak?” “Curiga nih gue sama lo!” “Astagfirullah! Lo kenapa sih dari tadi suuzan mulu sama gue,” sahut Dion dengan tangan yang kembali mengusap dadanya. “Ya abisnya tampang lo enggak kek yakin gitu,” ujar Keysa jujur. “Kan gue ngomong bener. Sebagai seorang pengusaha, saat akan merekrut karyawan yang pertama kali dilihat adalah antusias dalam bekerja. Makanya gue nanya ke lo, mau atau enggak?” Keysa mengibaskan tangan kanannya, lalu menghembuskan napasnya kasar. “Hadeuh! Ya udah, gue mau!” “Nah! Gitu kek dari tadi! Nanti besok, gue ke sini lagi,” ujar Dion, lalu bangkit dari posisi duduknya. “Eh! Ngapain besok ke sini lagi?” tanya Keysa yang menghentikan gerakan Dion. Menahan napas supaya amarahnya tak keluar. “Gue mau ngejelasin kerjaannya besok, Sayang!” Keysa bergidik ngeri saat mendengar Dion memanggilnya dengan sapaan sayang. Seakan kehormatannya luntur entah ke mana. Ia juga menunjukkan ekspresi yang dibuat ingin muntah saat itu juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD