Di tempat lain, Kobob menerima laporan rutin dari Alice. Mendengar bagaimana rencananya berjalan lancar dan bagaimana kelima pelaku itu perlahan-lahan hancur oleh tangan mereka sendiri dan permainan psikologis Alice, hati Kobob terasa sangat puas dan bahagia. Dendamnya perlahan terbalas, dan ia tahu... akhir yang mengerikan sedang menanti mereka semua.
"Hancurkan mereka, Alice..." bisik Kobob sendiri sambil mencengkeram erat foto mendiang putrinya. "Hancurkan pikiran, jiwa, dan tubuh mereka. Buat mereka membayar setiap tetes air mata dan rasa sakit yang dirasakan anakku. Aku ingin mereka menderita selamanya."
Dan di sekolah itu, di balik wajah manisnya, Alice terus menenun jaring-jaring kejahatan dan kebohongannya. Ia tahu, tak lama lagi, kekacauan besar akan meledak, dan saat itulah ia akan mulai bergerak untuk memetik buah hasil dari permainannya yang panjang dan mengerikan itu.
Minggu demi minggu berlalu, dan suasana di dalam kelompok Eca semakin memanas layaknya tungku api yang siap meledak kapan saja. Kebencian dan kecurigaan yang ditanamkan Alice perlahan tumbuh menjadi racun yang menyebar ke seluruh pembuluh darah mereka. Di depan orang lain, mereka masih berusaha tampak akrab dan bersahabat, namun di saat sendirian, tatapan mata mereka saling menusuk, penuh curiga dan permusuhan.
Alice hanya tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Ia tahu waktunya sudah semakin dekat untuk memicu ledakan besar yang akan menghancurkan ikatan persahabatan palsu itu selamanya. Dan kesempatan itu datang lebih cepat dari yang ia duga.
Kejadian itu bermula saat jam istirahat siang di kantin sekolah. Seperti biasa, kelompok itu duduk di meja paling sudut yang dianggap sebagai tempat terhormat milik mereka. Namun hari itu, suasana di meja itu terasa sangat berat dan menegangkan. Tidak ada yang tertawa atau bercanda seperti biasanya. Mereka duduk diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran buruk dan prasangka yang telah meracuni hati mereka.
Eca, yang merasa ada yang tidak beres, semakin sering marah-marah dan menegur teman-temannya dengan nada kasar. Ia merasa mereka semakin tidak hormat dan tidak patuh padanya. Padahal, sikap dingin mereka hanyalah akibat dari bisikan-bisikan jahat yang Alice tanamkan ke dalam telinga mereka satu per satu.
"Kalian kenapa sih hari ini?" bentak Eca tiba-tiba, membanting sendoknya ke atas meja hingga membuat semua orang di meja itu terkejut. "Diam saja dari tadi. Apa kalian ada rencana jahat di belakangku? Atau jangan-jangan kalian sudah bosan berteman denganku dan ingin mencari pemimpin baru ya?"
Tati yang sedang minum tersentak, wajahnya memerah karena tersinggung. Selama ini, meskipun ia sangat mengagumi Eca, kata-kata yang diucapkan Alice terus berputar di kepalanya: "Eca menganggapmu kasar, bodoh, dan tidak berpendidikan. Dia hanya membutuhkan kekuatanmu, tapi hatinya meremehkanmu. Dia berencana menggantikanmu dengan aku..."
Perasaan rendah diri dan marah yang sudah lama terpendam akhirnya meluap juga. Tati meletakkan gelasnya dengan kasar hingga terdengar bunyi berisik.
"Kau sendiri kenapa, Eca?" balas Tati dengan nada tajam dan menantang, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Selama ini kau selalu saja menganggap dirimu paling benar dan paling hebat. Kau mengatur kami sesuka hatimu, kau menyuruh kami melakukan pekerjaan kotormu, dan kalau ada masalah, kami yang disuruh menanggung risikonya. Tapi di belakang, kau bicara buruk tentang kami dan menganggap kami sampah, kan?"
Eca terbelalak kaget mendengar perkataan itu. Ia tidak menyangka bahwa tangan kanan yang paling setianya berani bicara seperti itu padanya.
"Apa maksudmu, Tati?" bentak Eca dengan wajah merah padam karena marah. "Kau berani melawanku? Siapa yang mengajarimu bicara kasar seperti itu? Apa kau lupa siapa yang membuatmu dihormati dan ditakuti di sekolah ini? Tanpa aku, kau hanyalah gadis kasar yang tidak punya teman!"
"Lihat kan!" seru Tati dengan mata berkilat marah. "Benar kata orang... kau memang hanya menganggap kami alat saja! Selama ini aku sudah melakukan segalanya untukmu. Aku memukuli orang, aku menakut-nakuti orang, aku rela melakukan apa saja. Tapi balasannya? Kau menghinaku di belakangku! Kau bilang aku bodoh dan kasar! Lebih baik aku tidak berteman denganmu daripada terus diinjak-injak seperti ini!"
Nuvi yang duduk di seberang meja ikut tersulut emosinya. Ia menunjuk ke arah Eca dengan jari yang gemetar.
"Kata Tati benar, Eca!" seru Nuvi dengan suara berat dan mengerikan. "Kau menganggapku anjing, kan? Kau bilang aku tidak punya otak dan hanya berguna untuk diatur-atur! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau bicarakan di belakangku? Aku diam saja selama ini karena aku menghormatimu sebagai pemimpin. Tapi ternyata kau sama jahatnya dengan orang-orang yang kita benci!"
Eca menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah bingung dan marah luar biasa. Ia melihat wajah-wajah teman-temannya yang penuh kebencian dan kemarahan. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba semuanya berubah menjadi seperti ini.
"Kalian... kalian bicara apa sih?" seru Eca dengan suara tinggi. "Aku tidak pernah bicara begitu! Siapa yang memberitahu kalian omong kosong itu? Apa kalian sudah gila sampai percaya pada fitnah orang lain?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Eca!" potong Ilfa dengan senyum licik namun dingin. "Aku juga tahu segalanya. Kau tidak percaya padaku, kan? Kau menganggapku licik dan berbahaya, dan kau berencana menyingkirkanku agar aku tidak bisa menggantikan posisimu. Kau pikir aku bodoh dan tidak menyadarinya? Aku tahu persis apa isi kepalamu yang jahat itu."
Indah yang sejak tadi diam tiba-tiba tertawa kecil, namun tawanya terdengar mengerikan dan menakutkan. Ia memegang erat ponselnya di atas meja, matanya menatap Eca dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.
"Kalian semua pembohong..." kata Indah dengan suara lirih namun terdengar jelas. "Terutama kau, Eca. Kau bilang rekaman-rekamanku itu berbahaya dan ingin menghapusnya, bahkan mau menyeretku sendirian kalau ada masalah. Kau mau menyalahkanku untuk semua kejahatan yang kita lakukan, kan? Kau ingin aku masuk penjara sendirian sementara kau bebas dan bersih? Aku tidak akan membiarkannya! Aku punya semua buktinya... aku punya rekaman semuanya. Kalau kalian berani menyakitiku atau menyalahkanku, aku akan menyebarkan semuanya. Aku akan membuat kalian semua hancur bersamaku!"
Suasana di kantin menjadi hening seketika. Semua siswa dan guru yang ada di sana menoleh menatap meja itu dengan kaget dan penasaran. Pertengkaran yang dahsyat sedang terjadi di antara kelompok yang paling ditakuti di sekolah itu.
Eca berdiri dengan gemetar, matanya berkaca-kaca karena campuran antara marah, malu, dan rasa tidak percaya. Ia menatap teman-temannya satu per satu, orang-orang yang selama ini ia anggap pendukung setianya, ternyata menyimpan begitu banyak kebencian dan kecurigaan terhadapnya.
"Jadi... kalian semua memusuhiku ya?" kata Eca dengan suara gemetar menahan tangis. "Kalian percaya pada omongan orang lain daripada percaya padaku? Setelah semua yang kita lalui bersama, setelah semua yang aku lakukan untuk kalian... kalian membuangku begitu saja hanya karena kata-kata orang asing?"
"Karena kau memang pantas dibuang, Eca!" bentak Tati dengan kasar. "Kau jahat, egois, dan tidak punya hati!"
Bersambung...