Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, jam menunjukan tepat pukul sembilan lebih tiga puluh menit, dua mobil mewah baru saja tiba di sana. Dafa dan Lifia dengan gaya casual mereka keluar dari mobil lamborghini aventador berwarna hitam doff, sedangkan Doni dan Karin turun dari mobil alphard keluaran terbaru berwarna hitam glossy.
Doni kemudian membuka bagasi mobil lalu menurunkan dua buah koper berukuran sedang yang langsung diambil oleh Karin dan Lifia.
"Kakak antar sampai disini ya dek. safe flight." ucap Dafa sambil memeluk Lifia.
"Thank you kak, janji ya jenguk Lifi kalo kakak lagi ngga sibuk."
"Iya kakak janji, kamu semangat belajarnya disana dan jangan sering nyusahin Karin. Kasihan dia ngurusin bayi gede kayak kamu."
"Bayi gede yang cantik dan gemesin, he he he. Ya udah, Lifi pamit yaa. See you kak, see you kak Doni."
"Kak Dafa, Karin pamit ya kak." giliran Karin yang pamit sambil mencium tangan Dafa.
"Safe flight." balas Dafa sambil menepuk pelan bahu Karin.
"Kak Doni, Karin pamit ya kak."
Karin mencium tangan Doni. Diam - diam Doni tersenyum dalam hati membayangkan ternyata seperti ini rasanya saat seorang istri izin pamit pada suaminya. Walau pun belum sah menyandang status suami, tetapi membayangkannya saja sudah bisa membuat hati Doni berbunga - bunga.
"Ingat janji kamu ya sayang. Aku akan menunggu sampai kamu kembali." ujar Doni dengan suara pelan, bahkan hanya bisa di dengar oleh Karin. Sambil menahan senyum, Karin menganggukan kepalanya.
Setelah Karin dan Lifia pergi, Doni dan Dafa kembali ke mobil mereka masing - masing. Kali ini mereka akan menuju ke salah satu resort berbintang milik Dafa untuk bertemu dengan rekan bisnis Dafa yang berasal dari Paris untuk membicarakan tentang proposal kerjasama yang di tawarkan oleh Dafa sekaligus untuk makan siang bersama disana.
*
*
*
Saat ini di kediaman Mika tepatnya di salah satu ruang tamu yang ada disana, Mika dan Rendy sedang fokus mendengarkan isi surat wasiat yang sedang dibacakan oleh seorang notaris. Surat wasiat itu sudah disiapkan Alex jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Seakan sudah memiliki firasat kalau hidupnya akan segera berakhir, saat itu dengan di temani istrinya, Alex kemudian menulis surat wasiat yang kemudian dia berikan pada notaris kepercayaannya.
Inti dari isi surat wasiat itu adalah semua harta kekayaan miliknya, dia berikan sepenuhnya pada satu - satunya putri kesayangan mereka, Mikayla Putri Hartawan.
Disana juga tertulis kalau Mika tidak boleh memberikan surat kuasa kepada siapa pun untuk menggantikannya memimpin Perusahaan mereka, kecuali pada suami Mika nanti. Alex sengaja menulis hal itu karena dia sangat mengenal Mika yang memiliki cita - cita menjadi seorang model internasional terlebih obsesinya untuk menjadi salah satu angel victoria secret.
Alex tidak ingin Perusahaan yang sudah susah payah dia bangun jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Alex tahu betul kalau putri kesayangannya itu tidak pernah ada niat sedikit pun untuk mengurus perusahaan mereka. Alex sangat percaya pada Rendy, itu sebabnya dia sengaja menambahkan hal itu di surat wasiatnya agar Mika akhirnya menikahi Rendy.
"Sekian isi surat wasiat dari pak Alex, silakan nona Mika tanda tangan di sini." notaris itu memberikan selembar kertas pada Mika untuk di tanda tanganinya bersama Rendy sebagai saksi.
"Abang mau kan bantu Mika mengurus perusahaannya daddy ?" tanya Mika sambil menoleh ke sampingnya.
Rendy yang mendapat tatapan permohonan dari Mika segera menganggukan kepalanya. Sebagai orang kepercayaan Alex, Rendy memang sudah banyak belajar tentang bagaimana mengelola perusahaan itu. Bahkan dia seringkali menggantikan Alex untuk menghadiri pertemuan dengan rekan bisnis dan menjadi pemimpin rapat di perusahaan saat Alex berhalangan hadir.
"Kalau begitu kita harus menikah secepatnya." tambah Mika sambil tersenyum.
"Asal nona tidak melakukannya dengan terpaksa dan merasa bahagia dengan keputusan itu." balas Rendy.
"Mika bahagia kok, sangat bahagia." ujar Mika lalu memeluk Rendy, melupakan seorang notaris yang masih berada disana menunggu tanda tangan mereka berdua.
"Eheem... saya ikut senang mendengarnya."
Saat mendengar suara notaris itu, Mika melepas pelukannya pada Rendy dan terkekeh geli melihat notaris kepercayaan daddy nya itu yang terlihat salah tingkah.
"Maaf Pak, Mika lupa kalau masih ada bapak disini... he he he"
"Saya masih menunggu tanda tangan nona Mika dan mas Rendy." sambil terus tersenyum Mika dan Rendy menandatangani kertas itu lalu memberikannya kembali pada notaris.
Setelah mengantar notaris itu sampai ke depan rumah, Mika dan Rendy kembali masuk ke dalam menuju tempat favorit mereka, gazebo di dekat kolam renang.
"Bagaimana kalau kita tunangan dulu minggu depan, abang mau kan ?" tanya Mika dengan senyum lebarnya.
Sejak kehilangan orangtuanya, Mika berusaha untuk kembali semangat menjalani hari - harinya. Tujuan hidupnya saat ini hanyalah ingin mengabulkan permintaan terakhir daddy dan mommy nya yang saat itu sempat dia tolak. Melupakan perasaannya pada Dafa, walau sebenarnya dia juga belum tahu pasti yang dia rasakan saat itu apakah perasaan cinta atau hanya sekedar rasa penasaran. Entahlah, bahkan saat ini juga dia sendiri tidak tahu perasaan apa yang dia miliki untuk Rendy. Yang jelas dia hanya ingin mengabulkan keinginan daddy nya dan seperti yang daddy nya yakini kalau dia pasti akan hidup bahagia bersama Rendy.
"Apa nona yakin ? Saat berita pertunangan kita tersebar, banyak orang di luar sana pasti akan membicakan kita. Mungkin lebih banyak omongan negatif yang akan kita dengar nanti, karena sebelumnya mereka tahu kalau nona sudah menolak pertunangan ini, di tambah lagi berita bapak dan ibu yang belum lama meninggal."
"Mika ngga peduli dengan omongan orang di luar sana, lagipula Mika juga ngga kenal sama mereka. Atau jangan - jangan abang yang ngga mau menikah dengan Mika ?"
"Kamu mau tahu sesuatu tentang abang ?"
"Apa ?"
Sebelum menjawab Mika, Rendy membawa tubuh Mika mendekat padanya dan memeluk Mika dari belakang. Mika sama sekali tidak menolak, malah kedua tangannya memeluk tangan Rendy yang melingkar di perutnya.
"Sejak makan malam itu, saat bapak dan ibu meminta abang untuk menikah dengan nona, abang tak henti - hentinya bersyukur pada Tuhan karena akhirnya apa yang selama ini abang doakan dikabulkan. Abang bahkan tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Abang makin bahagia saat menjemput nona di bandara waktu itu. Bahagia karena melihat senyum lebar nona saat melihat abang. Sampai akhirnya abang melihat senyum manis nona itu hilang saat bapak mengumumkan pertunangan kita di pesta itu. Sebelum bapak memanggil abang naik ke atas panggung, abang sudah bisa menebak kalau nona pasti akan menolaknya. Tapi abang sangat mengerti perasaan nona saat itu dan abang tidak ingin memaksa."
"Maaf, Mika sangat menyesal saat itu sudah menolak abang." ucap Mika dengan nada penyesalan.
"Abang sama sekali tidak masalah. Yang ingin abang tanya sekarang, nona pernah bilang kalau nona mencintai pria lain. Kalau kita sampai menikah, bagaimana dengan cinta nona pada pria itu ?"
"Mika hanya cari alasan saja waktu itu. Sebenarnya tidak ada pria lain yang Mika cintai." jawab Mika yang kini berbalik menghadap Rendy sambil tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
"Abang sangat senang mendengarnya. Selama ini abang mengira kalau nona sudah punya kekasih." ucap Rendy sambil mencubit kedua pipi Mika dengan gemas.
"Kalo kata daddy, cinta bisa tumbuh seiring banyaknya waktu yang kita habiskan bersama."
Rendy kemudian berdiri dari duduknya sambil terus menatap Mika dengan senyum manisnya yang membuatnya semakin tampan. Alis Mika saling bertautan saat melihat Rendy mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Mikayla Putri Hartawan, will you mary me ?"
Sambil memegang sebuah kotak kecil berwarna merah dan membukanya, menampilkan sebuah cincin berwarna silver dengan permata kecil di tengahnya, Rendy berlutut di depan Mika dan melamar gadis cantik itu. Refleks, Mika menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan nya karena tidak menyangka kalau Rendy akan melamarnya saat ini. Rendy bahkan sudah menyiapkan cincin untuknya.
"Yes, I do." jawab Mika antusias.
Rendy kemudian memasang cincin itu di jari manis Mika.
"Terima kasih karena sudah menerima abang." ucap Rendy tulus sambil berdiri dan memeluk erat gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
*
*
*
Sementara di tempat lain, Dafa baru saja selesai meeting dan makan siang bersama dengan rekan bisnisnya. Seperti meeting - meeting sebelumnya,, dengan skill yang dia miliki, Dafa kembali berhasil mendapatkan tanda tangan dari rekan bisnisnya itu, tanda proposal kerja sama yang dia tawarkan pada mereka, diterima.
Dengan rasa penuh kemenangan Dafa keluar dari resort itu, namun langkah kaki Dafa terhenti saat melihat sosok wanita yang tidak pernah bosan mengganggu hidupnya, saat ini sedang bersandar di mobil mewahnya. Seperti sedang menunggu kekasihnya, wanita itu tersenyum lebar saat melihat pria yang sejak tadi ditunggunya, akhirnya keluar juga dari dalam sana.
Siapa lagi kalau bukan Sintia Gunawan. Wanita yang tidak pernah menyerah berjuang untuk mendapatkan perhatian dan cinta Dafa.
"Hai sayang, sejak tadi aku menunggu kamu disini." ucap Sintia dengan suara manjanya membuat Dafa merasa jijik mendengarnya.
Padahal saat ini Sintia terlihat sangat cantik dengan dress pantainya yang panjang namun seksi karena bagian atasnya yang berbentuk kemben memperlihatkan leher jenjangnya serta bahu dan punggungnya yang putih mulus. Bahkan sejak dia berdiri menunggu Dafa di tempat itu, sudah ada beberapa pria bule yang mencoba mendekatinya.
"Menjauhlah dari sana." balas Dafa dingin dan sama sekali tidak tertarik melihat Sintia.
Namun bukan Sintia namanya kalau menyerah begitu saja. Saat Dafa membuka pintu mobilnya, dengan cepat Sintia juga membuka pintu mobil di samping kursi penumpang lalu masuk dan duduk di dalam.
"Apa yang kau lakukan ? Keluar dari mobilku sekarang juga." geram Dafa dengan suara yang mulai tinggi.
Kalau saja tidak mengingat kebaikan ayah Sintia padanya dulu, mungkin saat ini dia sudah berbuat kasar pada wanita itu. Kalau di pikir - pikir, sebenarnya Sintia sangat cantik namun sayangnya dia sudah pernah dengan sukarela memberikan tubuhnya untuk Dafa. Walaupun Dafa bukan yang pertama, tapi entah kenapa Sintia sangat mencintai Dafa yang bahkan tidak pernah sekali pun tertarik pada nya.
"Sampai kapan kamu akan sadar kalau hanya aku satu - satunya wanita yang mencintai kamu dengan tulus ? Apa yang salah dengan aku ? Kenapa kamu begitu benci melihatku ?" balas Sintia dengan nada yang tidak kalah tinggi dari Dafa, bahkan seperti sedang berteriak.
Bukannya menjawab Sintia, Dafa malah memilih keluar dari dalam mobilnya dan berpindah ke mobil Doni yang memang sejak tadi berdiam disana menyaksikan drama anatara bosnya dan Sintia.
"Jalan sekarang, Don. Aku muak meladeni wanita gila itu."
Doni pun segera menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari sana meninggalkan Sintia yang sedang menangis di dalam mobil Dafa.
"Aku akan membuat mu menyesal Dafa. Kau akan membayar semua yang kau lakukan pada ku hari ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada satu wanita pun yang bisa memilikimu. Siapa pun akan aku singkirkan dengan tanganku sendiri." ujar Sintia pada dirinya sendiri.
Setelah sampai di hotel tempat mereka menginap, Doni menunjukan video rekaman cctv di ponselnya pada Dafa. Video yang baru saja di terima Doni dari anak buahnya yang masih menjadi mata - mata di rumah Mika. Entah kenapa, hati Dafa kembali mendidih saat melihat Mika yang dengan manjanya berada dalam pelukan Rendy.
Melihat tangan Rendy yang memegang wajah Mika sampai Mika yang terlihat sangat bahagia saat Rendy memakaikan cincin di jari manis nya. Tanpa sadar tangan Dafa mengepal kuat.
"Nona Mika menerima lamaran Rendy, bos. Dan sepertinya mereka akan melangsungkan acara pertunangan mereka minggu depan." jelas Doni.
"Lakukan sesuai dengan yang aku katakan sebelumnya."
"Baik, bos."
"Aku akan menghapus semua jejak tangan pria sialan itu di tubuhnya." gumam Dafa.