Kejutan untuk Mika

1779 Words
"Iya sayang, apa ada yang ingin kamu ubah ?" tanya Bu Ana sembari menghampiri Mika. "Eeh i iya... emm maksud Mika tidak tante. Mika suka gaunnya" jawab Mika tertatih karena salah tingkah dengan tatapan tajam dari seorang Dafa. Bahkan Dafa belum melepaskan pandangannya dari tubuh seksi Mika. "Cantik dan seksi" batin Dafa. Perhatiannya kemudian teralihkan pada Lifia yang baru saja selesai dengan gaun yang dipilihnya. "Sudah selesai ?" tanya Dafa dengan suara baritonnya membuat Mika yang mendengarnya melihat ke arah mereka, tanpa sadar wajah Mika berubah menjadi sedih. "Sudah, ayo pulang. Lifi lapar pengen makan masakannya Bi Ningsi" jawab Lifia sambil menggandeng mesra lengan tangan kakaknya itu. "Oh ternyata sudah ada yang punya" batin Mika kecewa kemudian mengalihkan pandangannya dari mereka. "Jadi gimana sayang, kamu juga menyukai gaun ini kan ? Kamu terlihat sangat cantik dengan gaun ini" bujuk Natasya agar Mika mau memakai gaun itu di pestanya nanti. Seakan kehilangan semangat, Mika hanya pasrah menganggukan kepalanya tanda dia setuju dengan mommy nya. "Kamu kenapa sayang ? Kenapa tiba - tiba jadi murung hhmm ? tanya Natasya saat melihat raut wajah Mika yang tidak seperti sebelumnya. "Sayang kalau kamu tidak suka memakai gaun ini, kamu bisa memilih gaun yang lain sesuai keinginanmu" tambah Natasya yang kini merasa bersalah. "Tidak mom, Mika suka kok gaun itu. Mika hanya merasa capek saja. Kita pulang yuk mom" ajak Mika. "Baiklah sayang. Kamu tunggu mommy di mobil ya, mommy mau ngomong sama tante Ana dulu." Mika pun segera keluar dari butik itu menuju mobil yang sudah menunggu mereka tepat di depan butik. Saat berjalan menuju mobil, lagi - lagi mata Mika menangkap mata tajam Dafa yang juga sedang menatapnya lekat saat akan masuk ke dalam mobilnya. Mika kemudian memutus pandangannya lalu segera masuk ke dalam mobilnya. "Jantung ku tidak aman kalau semakin lama melihat mata nya" gumam Mika sambil memegang dadanya yang berdetak kuat. "Apa nona sedang sakit ?" tanya sopir nya yang melihat tingkah aneh Mika. "Oh ngga kok pak, Mika baik - baik saja" jawab Mika. Tidak lama kemudian Natasya datang dan mereka segera pergi dari sana. * * * Saat malam tiba, Mika sudah selesai dengan make up naturalnya dan juga gaun cantik itu sudah melekat di tubuh seksinya. Rambut panjangnya sengaja dia urai menutupi punggung mulusnya. Dia melengkapi penampilannya dengan stilettos dari salah satu brand ternama, berwarna silver dengan tinggi tujuh senti dan clutch mewah berwarna senada. Siapapun yang melihatnya saat ini, pasti akan mengagumi kecantikannya. Mika kemudian keluar dari kamarnya dan akan segera berangkat ke salah satu hotel berbintang dimana acaranya di adakan. "Woow... kau sangat cantik nona" kagum Rendy saat melihat Mika turun dari tangga. "Terima kasih, abang juga sangat tampan dengan setelan jas itu" balas Mika. Mika kemudian menggandeng tangan Rendy menuju mobil yang akan membawa mereka ke tempat acara. Sedangkan Alex dan Natasya sudah lebih dulu berada disana untuk memastikan persiapan acara tersebut. Saat mereka tiba di hotel berbintang itu, Rendy meminta Mika untuk menutup matanya. "Kenapa harus di tutup sih abang ?" "Abang hanya menjalankan perintah tuan dan nyonya." jawab Rendy yang ditanggapi dengan decakan dari bibir mungil Mika. "Oh Mika ingat, ini pasti menyangkut surprise nya daddy" ucap Mika antusias. Dengan mata tertutup, Rendy kemudian membawa Mika dengan sangat hati - hati menuju ke sebuah ballroom yang ternyata sudah terdapat banyak sekali orang disana, termasuk Dafa dan Lifia. Sebelumnya, semua tamu undangan yang berada disana sudah diminta hening untuk sementara sampai Mika masuk ke ruangan itu. "Congratulation Nona Mikaylaaaaa.... " ucap pembawa acara kondang dengan penuh semangat saat Mika berdiri tepat di atas panggung dan membuka matanya, kemudian disambut riuh tepuk tangan dari semua yang hadir disana. Refleks tangan Mika menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini. Matanya berbinar, senyumnya begitu lebar saat mendapati kue yang begitu besar berbentuk dirinya yang sedang menggunakan bikini dan selempang bertuliskan 'victoria secret's angel' dan kue yang satu lagi dengan ukuran yang sama besar berbentuk dirinya dengan seragam kelulusannya. "Thank you dad, mom... I love you both" ucap Mika tulus sambil bergantian memeluk erat kedua orang tuanya. Tak berhenti sampai disitu, dia kemudian dikejutkan dengan kehadiran dua orang sahabat baiknya saat duduk di bangku SMA dulu. "Grace...Leti..." gumam Mika masih dengan senyum lebarnya sambil melambaikan tangannya pada mereka. Grace dan Leti pun membalas lambaian tangan Mika dengan penuh semangat. Sejak Mika memutuskan kuliah di London, mereka memang sudah tidak pernah bertemu lagi. Mika kemudian mengikuti rangkaian acara yang dibawakan oleh host kondang itu, sampai akhirnya mata indahnya kembali menangkap sosok pria yang dilihatnya di butik tadi. "Siapa dia sebenarnya ? Kenapa dia ada disini ? Ah dia pasti rekan bisnis nya daddy. Oh jadi dia datang bersama kekasihnya. Cantik sih, pantas saja jadi kekasihnya." batin Mika. Setelah mengikuti beberapa rangkaian acara, akhirnya tiba di sesi makan malam bersama. Mika yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin menyapa kedua sahabatnya itu, segera turun dari panggung untuk menghampiri mereka. "Grace... Leti... I miss you so much" ucap Mika yang memeluk erat sahabatnya itu. "Kita juga kangen banget sama kamu, Mika. Look at you... gilaaa kamu cantik banget, emang cocok deh jadi angel nya victoria secret." ucap Grace yang memang sejak dulu di kenal dengan sikap periangnya. "Iya Mika, kamu cantik banget. Aku jadi iri, pasti Rio makin cinta deh kalo liat kamu sekarang." sahut Leti yang berhasil membuat mereka tertawa bersama karena mengingat masa - masa SMA mereka, apalagi saat pria yang bernama Rio itu mati - matian mengejar cinta Mika. Tawa Mika tiba - tiba terhenti saat tanpa sengaja matanya kembali bertemu dengan mata tajam Dafa. Mika kemudian mengalihkan pandangan nya lagi pada teman - temannya. "Guys, apa kalian kenal dengan cowok yang berdiri di belakang sana ?" tanya Mika penasaran. "Yang mana ?" Grace dan Leti perlahan memutar kepala mereka mencari sosok pria yang dimaksud Mika. "Yang pake setelan jas biru dongker di sudut kanan." jawab Mika sambil sesekali melirik ke arah Dafa. "Oh my God, kamu sama sekali ngga kenal dia ?" tanya Grace sambil berbisik dan dijawab Mika dengan menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mengenal Dafa. "Memangnya dia siapa ? Pemain film ? Penyanyi ?" tanya Mika polos membuat Grace dan Leti tersenyum geli mendengarnya. "Bukan Mikayla... dia salah satu CEO muda yang sangat kaya raya. Kamu ngga tahu ya kalau hotel ini tuh milik dia ?" jelas Grace masih dengan suara pelannya. "Seriously ?" balas Mika yang terkejut dengan apa yang dikatakan Grace. "Tanya Leti deh, Leti kan kerja di kantor pusatnya. Kasi tau Mika dong Let, gimana kejamnya CEO hot kamu itu." ujar Grace dengan menekan kata hot membuat Mika terkekeh geli mendengarnya. "Hot tapi serem, nakutin. Jadi mending ngga usah kenalan sama dia. Sama aja kayak adiknya, ngga pernah terlihat senyum padahal cantik." jawab Leti. "Jadi, dia punya adik ?" tanya Mika yang semakin penasaran. "Iya. Kamu lihat gadis cantik yang ada didekatnya. Itu Lifia, adiknya." jelas Leti. "Oh itu adiknya, aku pikir pacar atau tunangannya." entah kenapa mengetahui hal itu membuat hati Mika merasa tenang. "Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta sama CEO Hot itu," tebak Grace yang sedang memperhatikan wajah Mika yang terlihat tersipu malu. "Oh my God, sepertinya iya." tambah Grace sambil menepuk pelan jidatnya. "Secepat itu ? Memangnya kalian sudah pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Leti penasaran. "Sudah. Satu kali." jawab Mika sambil menahan senyumnya. "Kapan ? Udah kenalan ?" kini giliran Grace yang penasaran. "Tadi pagi di butik. Belum kenalan sih, cuma saling tatap aja." jawab Mika yang membuat Grace dan Leti kembali menepuk jidat mereka. Obrolan mereka terhenti, ketika Alex berdiri di atas panggung dan meminta Mika untuk bergabung bersamanya dan Natasya. Mika kemudian meninggalkan kedua sahabatnya itu dan dengan anggun berjalan naik ke atas panggung. "Sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di perayaan kelulusan satu - satunya putri kesayangan kami, Mikayla Putri Hartawan. Di kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan satu hal penting yang juga merupakan kabar baik dan membahagiakan untuk keluarga kami, yaitu bahwa Mika saat ini akan bertunangan dengan pria pilihan kami yang kami percaya bisa menjaga dan membahagiakan Mika." Seketika senyum manis di wajah cantik Mika menghilang. Alisnya saling bertautan, raut wajah nya terlihat sedang berpikir keras, otaknya kembali mencerna kata demi kata yang dikatakan daddy nya tadi. "Tunangan ?" batin Mika yang sama sekali tidak menerima keputusan daddy nya itu. Keterkejutannya lebih lengkap lagi saat daddy nya menyebutkan nama calon suaminya nanti. "Rendy... kemarilah nak." mata Mika membulat sempurna mendengar daddy nya menyebut nama pria yang selama ini sudah dianggap sebagai kakaknya itu. "Maaf dad, Mika ngga bisa." jawab Mika yang saat itu juga pergi dari atas panggung, meninggalkan Alex dan Natasya. Rendy bahkan belum sempat maju dan naik ke atas panggung itu, karena sejak tadi dia sudah memperhatikan raut wajah tidak suka Mika dengan apa yang dikatakan daddy nya. Bahkan Rendy juga sudah bisa menebak kalau Mika pasti akan menolaknya. "Mikaaa... Mikayla..." panggil Alex mencoba menghentikan langkah kaki Mika, namun bukannya berhenti Mika malah semakin mempercepat langkahnya. Setelah melihat Rendy menyusul Mika, Alex kemudian meminta maaf kepada semua tamu undangan yang hadir disana, lalu segera beranjak keluar dari ballroom itu bersama Natasya. Terdengar bisikan - bisikan negatif dari beberapa orang disana. Berbeda dengan Dafa yang menampilkan senyum smirk nya saat melihat drama penolakan Mika atas pertunangan yang direncanakan Alex. "Apa kita akan menunggu pemilik pesta ini kembali, kemudian berjabat tangan dengan mereka menyampaikan ucapan selamat kita atas batalnya pertunangan mereka ,kak ?" sarkas Lifia yang mulai bosan berada disana. "Iya bawel... kita pulang sekarang." jawab Dafa yang ditanggapi decakan kesal dari Lifia. "Lifi mau istirahat di hotel saja kak, kaki lifi rasanya mau patah sejak tadi memakai heels sialan ini." "Ya sudah, kamu pergi ke kamar kamu saja, segera telepon manager hotel kalau butuh sesuatu. Kakak harus kembali ke kantor, ada yang harus kakak selesaikan" ujar Dafa. "Kantor atau club ? Yang benar saja kak, jam segini kembali ke kantor. Atau mau main di kantor ya, makanya cari istri dong." ledek Lifia kemudian segera meninggalkan kakaknya dan menuju kamar private nya. Dafa memang sengaja menyediakan dua kamar di setiap hotel miliknya khusus untuk dirinya dan Lifia. "Dasar bawel" gumam Dafa dan kemudian meninggalkan tempat itu. Setelah berada di dalam mobil Ferrari Sport miliknya, Dafa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Doni. "Bagaimana Don ?" Tanya Dafa ketika panggilannya tersambung. "Aman Bos, sesuai rencana" jawab Doni. "Pastikan besok berjalan dengan baik, jangan meninggalkan jejak." "Siap bos, tapi sepertinya anak mereka tidak ikut bersama mereka, bos." "Ya, aku tahu. Lanjutkan saja sesuai rencana awal. Anaknya jadi urusan aku." "Baik bos." Setelah memutus sambungan teleponnya dengan Doni, Dafa melajukan mobilnya ke salah satu club malam miliknya. Ya, seperti biasa, Dafa akan mencari jalang baru untuk memuaskan nafsunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD