Ancaman Samudra

1032 Words
Malam ini, Luna duduk dengan gelisah. Matanya selalu menatap awas ke segala arah. Clara yang melihatnya pun mendengkus keras. "Kamu ini kenapa sih, dari tadi aku perhatikan gelisah terus. Ada apa?" tanya wanita itu ketus. Luna menggeleng pelan, tapi tetap saja wanita itu tidak tenang. "Atau jangan-jangan kamu masih berharap laki-laki itu datang lagi, lalu kamu berniat ingin merayunya lagi?" tebak Clara. "No! Justru aku menginginkan yang sebaliknya. Sumpah, ya! Gara-gara dia, hidup aku itu nggak sebebas dulu. Aku tuh ngerasa kayak ada yang merhatiin terus dari tadi," keluh Luna. Clara tergelak kencang. "Makanya, jangan main api, kena sendiri, kan, percikannya, kayak aku gini loh, cukup hanya 1 pria, kalau udah bosan, baru cari lagi," cibir wanita itu. Luna menanggapinya hanya dengan senyuman sinis saja. Jelas saja mereka jauh berbeda, seandainya saja Bella dan Clara tahu sebenarnya permainan Luna seperti apa, pasti mereka berdua tidak akan berbicara seperti itu. "Kamu nggak ngamar?" tanya Luna tiba-tiba. Clara mengembuskan napasnya dengan kasar. "Sepertinya nggak, tapi kalau buat semi-semian jelas aja harus. Aku butuh uang, ya kali harus nunggu dia datang," celetuk wanita itu. "Bukannya kamu udah dibayar sama dia?" tanya Luna dengan raut wajah bingung. Clara tak menjawab, dia malah balik menatap Luna dengan tajam. "Bukannya kebiasaan kamu juga seperti ini?" Pertanyaan sarkas dari Clara membuat Luna lagi-lagi terdiam. Dan ketika Luna ingin membuka mulut, dari arah kejauhan Luna melihat Bella datang dengan jalan sedikit sempoyongan, hal itu membuat Luna mengurungkan niatnya untuk berbicara pada Clara. Tepat di depan Luna dan Clara, Bella menjatuhkan tubuhnya begitu saja di sofa. "Aku kira kalian udah pada ke kamar masing-masing," ucap wanita itu dengan mata terpejam. Napas Bella tampak tak beraturan. Bahkan, pakaian yang tadinya rapi, kini terlihat begitu kusut, ditambah lagu rambutnya acak-acakan. "Gila!" umpat Clara. "Harusnya kalau mau keluar, rapi-rapi dulu, kek. Lihat penampakan kamu sekarang, udah kayak zombie aja," dengkus Clara. Bella mengedikkan bahunya. "Dia nyuruh aku cepat-cepat pergi." Luna memerhatikan kondisi Bella dari atas sampai bawah, selanjutnya wanita itu bergidik ngeri. "Kamu kenapa?" tanya Bella. Luna tersenyum kikuk karena ketahuan telah memerhatikan kondisi wanita itu. "Nggak ada," jawabnya singkat. "Kamu benar-benar main sama pria tadi?" tanya Luna dengan suara yang dia buat serendah mungkin. "Menurutmu?" tanya Bella dengan kedua alis bertaut. "Pertanyaan macam apa itu? Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama?" Luna mengangguk paham, dia tidak berani berbicara lagi. Sepertinya Bella tersinggung dengan ucapannya. "Tau tuh si Luna, dari tadi dia itu aneh banget. Mendadak jadi alim, padahal biasanya juga nggak kayak gini," celetuk Clara. Luna mendelik tajam. "Mana ada, nggak ada yang berubah, ya," sungut wanita itu tak terima. "Halah! Sudahlah, lebih baik aku cari mangsa baru, dari pada diam terus di sini, nggak bakal dapat uang." Clara bangkit dari sofa itu, dia perlahan menjauh dari kedua temannya. Sedari tadi Clara memang sudah mengincar seorang pria yang tengah duduk di pojokan ruangan klub itu. Bahkan mereka berdua sering kali saling mengedipkan sebelah matanya. "Biasanya kamu selalu bersemangat jika diajak ke tempat seperti ini, tapi kenapa kelihatannya tampak nggak semangat gitu?" tanya Bella curiga. "Lagi nggak mood, Bell," sahut Luna. "Serius? Luna bisa bicara seperti itu? Wah, wah, wah, sungguh tidak bisa dipercaya," decak Bella. "Aku serius, Bell. Biasanya uang yang selalu jadi penyemangat agar aku bisa datang ke tempat seperti ini. Tanpa memedulikan resiko ke depannya seperti apa. Tapi, untuk kali ini, aku merasa--" "Apa karena pria yang bernama Samudra?" sela Bella, membuat Luna langsung terdiam. Cukup lama wanita itu terdiam, hingga pada akhirnya Luna mengangguk mengiyakan. "Kenapa? Nyesal karena sudah pernah nolak dia?" tanya Bella sinis. "Bukan karena itu. Tapi ...." Luna tak melanjutkan ucapannya, wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan pelan. "Udahlah, kenapa jadi bahas dia sih, sekarang aku udah aman dari dia, aku mau ke toilet dulu." Luna bangkit dari duduknya, berjalan menjauh dari Bella. Bella menatap Luna dengan heran. "Kenapa tuh orang, berubahnya drastis banget." Tanpa Luna, Clara dan Bella ketahui, sedari tadi ada yang tengah mengawasi mereka berdua, dan ketika Luna bangun dari duduknya, pria itu tersenyum menyeringai. Akhirnya momen yang dia tunggu-tunggu tiba juga. Pria itu mengikuti Luna dari belakang. membiarkan Luna masuk ke dalam toilet, menunggu sambil menyenderkan tubuhnya di dinding itu. Cukup lama pria itu menunggu, hingga pada akhirnya dia mendengar suara pintu toilet itu terbuka, senyum licik pun terbit dari bibirnya. Luna terkejut bukan main ketika dia melihat seorang pria tengah berdiri tepat di depan pintu itu, yang lebih mengejutkan lagi, dia sangat mengenali siapa pria itu. Dengan cepat Luna kembali menutup pintu itu, sayangnya terlambat, tangan pria itu lebih dulu mencekal tangan Luna. "Lepas!" sentak Luna. Tak ada tanggapan, pria itu hanya tersenyum menyeringai. "Aku bilang lepas," geram Luna, wanita itu terus meronta. "Setelah kamu berhasil mengambil uangku, kamu mau lepas tanggung jawab begitu saja? Tidak akan aku biarkan, Nona," desis pria itu. Luna menelan salivanya dengan susah payah karena mendapat tatapan mematikan dari pria itu. "A--aku akan mengembalikan uang itu," kata wanita itu lirih. Pria itu tertawa sinis. "Yang aku butuhkan bukan uang, tapi perjanjian kita. Kamu berjanji, setelah aku memberikan uang, akan bercinta denganku. Nyatanya, kamu malah kabur dengan membawa uang itu. Sejauh apa pun kamu pergi, kamu tidak akan bisa lepas dariku, Nona." Luna memundurkan langkahnya, memutar otak bagaimana caranya agar bisa lepas dari pria yang bernama Samudra itu. "Ingat, kamu nggak akan pernah bisa lepas--" Dughhh!! "Arrggghh, sialan kau!" ringis Samudra, karena Luna menendang miliknya dengan keras. Ketika cekalan tangan Samudra mulai merenggang, Luna mendorong tubuh pria itu. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Luna langsung kabur dari tempat itu. Berlari secepat mungkin, sesekali wanita itu menoleh ke belakang, karena takut jika pria itu akan kembali mengejar. Setelah dirasa aman, Luna memelankan langkahnya, wanita itu bernapas lega karena sudah terlepas dari pria itu. "Ini benar-benar sudah tidak aman. Sial! Kenapa aku harus berurusan dengan pria seperti dia sih," gerutu Luna. Luna terlonjak kaget ketika ada yang memegang pundaknya, wanita itu menelan salivanya dengan kasar, ingin menoleh ke belakang namun tidak mempunyai keberanian. "Woi! Yaelah, kenapa tubuhmu jadi tegang begini. Lama banget ke toiletnya, cepat ayo anterin aku pulang." Luna membuang napasnya dengan kasar, sedikit lega karena ternyata yang menepuk pundaknya adalah temannya, Bella. "Kamu ini, ngagetin aja." "Habisnya aku lihat kamu kayak ketakutan gitu," celetuk Bella sambil mengedikkan bahunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD