"Siapa yang kamu sumpahin?"
Frida terkejut, mendengar suara yang membuat alarm ditubuhnya merespon, untuk tidak dekat-dekat dengan pemilik suara tersebut. Reiga lagi-lagi sudah berada di belakang Frida tanpa memberi tanda atas kedatangannya. Tidak berniat berurusan dengan lelaki arogan dan senang mengancam, Frida memutuskan meninggalkan Reiga begitu saja.
“Hei, tuli, ya? Aku sedang berbicara denganmu, kenapa tidak merespon?” Suara berat Reiga kembali terdengar.
Frida benar-benar menulikan pendengarannya. Langkahnya semakin mantap untuk segera pergi dari rumah besar ini. Merasa tersinggung dengan sikap Frida yang acuh dengan dirinya, Reiga menarik lengan gadis yang membuat Emira berani membantahnya. Karena kuatnya tarikan, hingga membuat tubuh Frida berbalik arah lalu membentur d**a Reiga.
“Mau Anda apa? tadi ngusir-ngusir, sekarang malah main tarik seenaknya!” Frida meninggikan suaranya. Sudah gerah, dengan sikap lelaki yang tidak mau kunjung melepas cekalan tangannya.
“Aku paling tidak suka diabaikan saat sedang berbicara. Paham?” Riega makin mengetatkan cekalannya.
“Lepaskan! sakit, tahu,” bentak Frida berusaha menarik lengan. Reflek Reiga melepas cekalannya.
Frida kembali meneruskan langkahnya yang terhenti. Reiga membiarkan begitu saja. Karena suara sang ibu sudah meneriakan namanya. Sementara itu, Emira yang sedang bersama pengasuh dan Omanya, sudah berulang menanyakan tentang Frida. Nyonya Gulizar yang jengah dengan hal itu memutuskan memanggil anak lelakinya, untuk membicarakan tentang hal ini.
“Ada apa Mam?” Reiga sudah bergabung dengan ibu dan anaknya.
“Mana Frida?” Leher Nyonya Gulizar memanjang, menengok keberadaan gadis yang sudah menyelamatkan acara Emira.
“Nggak tahu, sudah pergi mungkin,” jawab Reiga acuh.
“Mama belum kasih uang ke dia, lo Rei, ngawur kamu. Cari dia, lalu bawa kembali. Lagian dari tadi Emira nanyain melulu, Mama risih dengarnya,” omel Nyonya Gulizar pada Reiga.
“Udah aku transfer, lima juta. Sudah nggak usah diturutin kemauan bocah tengil itu, nanti jadi kebiasaan, manja terus jadinya, kalau apa-apa Mama turut’in.” Reiga mengajukan protes pada ibunya.
“Rei, dia anakmu lo, darah dagingmu, walau kamu membenci ibunya, tidak pantas kalau kamu melimpahkan kebencianmu pada anak yang tidak tahu apa-apa. Dia yang kelak akan menjagamu saat tua nanti, Rei. Pikirkan ucapan Mama. Pikirkan juga perasaan Emira.” Nyonya Gulizar beranjak dari tempatnya. Dadanya sesak setiap membahas nasib sang cucu. Wanita beradah campuran Turki dan Arab itu tidak habis pikir kenapa anak lelakinya justru menumpahkan kemarahannya pada Emira.
“Jangan kamu tinggalkan Emira saat merayakan ulang tahunnya, sebenci apapun kamu terhadapnya, Mama hanya minta itu, selainnya terserah. Mulai hari ini biar Emira tinggal bersama Mama, supaya anak itu tidak melihat kebencian di mata bapaknya,” ujar Nyonya Gulizar sebelum benar-benar meninggalkan Reiga.
Mbak Ria sudah membawa Emira ke depan, sejak perbincangan Nyonya Gulizar dan Reiga memanas. Pengasuh berusia tiga puluh lima tahun itu tidak mau kalau Emira sampai mendengar perdebatan antara Oma dan Papanya, apalagi membahas tentang dirinya. Mbak Ria memang sudah menjadi pengasuh Emira sejak anak itu berumur satu bulan, itu juga karena Nyonya gulizar merasa kewalahan mengurus baby Emira karena juga harus mengurus butiknya. Maka memutuskan menggunakan jasa Mbak Ria untuk membantunya.
“Mbak Frida!” Panggilan Mbok Jum, menghentikan Frida yang sudah bersiap untuk naik ke boncengan ojek online pesanannnya.
“Mbak, bisa minta tolong sekali lagi? kurir pengantar kue tart untuk Non Emira mengalami kecelakaan, jadi kuenya belum ada,” pinta Mbok Jum lirih.
Kepala Frida seketika terasa pening. Di hadapannya ada Mbok Jum menunduk, menunggu jawaban darinya, di sebelahnya ada driver ojol yang menunggunya, juga wajah cantik Emira melintas begitu saja di benaknya. Hela’an napas kasar terdengar jelas dari bibir kemerahan tanpa polesan, milik Frida. Cukup lama gadis yang masih memendam kemarahan pada Reiga, berpikir, menimbang, baik buruknya kalau dia kembali masuk ke dalam rumah besar itu.
“Mbak, jadi nggak ini, Mbak?” Driver ojol bertanya pada Frida.
“Sebentar, Pak,” Pinta Frida pada driver ojol. “Memang tidak bisa pesan lagi, Mbok. Bukan saya nggak mau membantu, tapi Mbok Jum tahu sendirikan, bagaimana papanya Emira memperlakukan saya?”
“Demi Non, Emira, Mbak,” pinta Mbok Jum dengan penuh harap.
“Ya, sudah, sebentar saya bayar ojolnya dulu.” Akhirnya Frida mengiyakan permintaan Mbok Jum, semata-mata demi Emira.
“Alhamdulillah, terima kasih, Mbak. Saya masuk dulu menyipakan bahan yang di perlukan.” Mbok Jum tampak semringah, lalu masuk ke dalam dengan langkah lebar.
“Pak, maaf saya nggak jadi pakai ojol. Ini tetap saya bayar ongkosnya. Nanti sepuluh menit lagi matikan saja orderan saya, anggap saya sudah sampai.” Frida menyerahkan uang lebih dari ongkos yang sudah tertera di aplikasi.
“Kebanyakan ini, Mbak,” ujar driver ojol.
“Buat Bapak saja, sekali lagi maaf, ya, Pak,” balas Frida dengan senyum ramahnya.
“Terima kasih, banyak, Mbak. Saya permisi.” Frida kembali masuk ke dalam rumah Nyonya Gulizar setelah menjawab salam driver ojol.
Keraguan menguasai hati Frida, tapi rasa welas pada Emira lebih mendominasi. Tidak selang berapa lama gadis pemilik tubuh sekal itu, sudah berkutat dengan pertepungan di dapur. Waktu yang tersisa tidaklah lama. Di luar, MC acara ulang tahun Emira sudah memulainya. Frida dibantu Mbok Jum dan seorang asisten rumah tangga lainnya berjibaku menyelesaikan kue tart untuk Emira.
Berbekal informasi dari Mbok Jum dan Mbak Ria, akhirnya Frida membuat cake dengan pondan karakter Putri Sofia, sesuia karakter kartun kesukaan Emira. Hampir satu jam kue ulang tahun berbentuk hati dengan d******i warna ungu sudah selesai di buat. Di atas kue ada sosok Putri Sofia yang terbuat dari batang cokelat yang dilelehkan, lalu dibentuk sesuai kebutuhan. Ada kelinci, sahabat putri cantik yang selalu mengenakan gaun berwarna ungu. Frida tersenyum menatap hasil karyanya. Mbok Jum bahkan sampai berpelukan dengan Murni—asistern rumah tangga yang juga membantu menyelesaikan pekerjaan Frida.
“Kamu masih di sini? mau apa lagi?” Reiga sudah berdiri di ambang pintu dapur, menatap tajam pada Frida.
“Mbok, pekerjaan saya sudah selesai, saya pamit, assalamualaikum.” Frida melepaskan celemak dan penutup kepalanya. Meyambar tas yang tergantung di kasptok dekap lemari es, lalu beranjak pergi.
“Hei! Aku belum sele …” Reiga bermaksud mengejar Frida, tapi suara Mbok Jum menghentiakannya.
“Tuan muda, maaf. Saya yang meminta Mbak Frida kembali, untuk membuat kue ulang tahun Non Emira. Kurir yang mengirim kue pesanan Nyonya mengalami kecelakaan, jadi kuenya juga hancur. Karena waktunya mepet maka saya minta bantuan Mbak Frida, maafkan saya Tuan, kalau sudah lancang,” terang Mbok Jum memotong perkataan Reiga. Wanita yang sudah bekerja pada keluarga Latif lebih dari sepuluh tahun ini, tidak mau kalau Frida menjadi sasaran kemarahan Tuan mudanya.
“Bocah tengil itu lagi, terserahlah, yang penting jangan sampai perempuan tadi datang ke rumah ini lagi. Kalau sampai ada yang berani mengundangnya, apapun alasannya, jangan salahkan aku kalau sampai pelakunya kehilangan pekerjaan, paham?” Ancam Reiga pada Mbok Jum, Murni, juga Pak Nardi yang kebetulan masuk ke dapur untuk menanyakan tentang kue ulang tahun.
Tiga orang pekerja yang menggantungkan nasibnya pada keluarga Latif, hanya bisa mengangguk dan menurut pada perintah Tuan mudanya, yang terkenal arogan sejak ditinggalkan sang istri. Murni meminta izin untuk mengantarkan kue ulang tahun yang sangat cantik, bahakan lebih cantik dari kue yang biasa dipesan pada toko langganan Nyonya Gulizar.
‘Gadis itu ternyata punya kemampuan mumpuni di bidang kuliner. Tidak hanya masakannya yang lezat, tapi kue buatannya juga luar biasa cantik. Emira pasti sangat suka kalau sudah melihatnya. Ck, nagapain juga jadi memikirkan dua orang itu. Masa bodoh dengan mereka.’ Mata Reiga memancarkan kekaguman sesaat, ya hanya sekejap, lalu membuat muka saat Murni melintas di depannya.
“Mur, kok kuenya nggak bertingkat?” tanya Nyonya Gulizar penuh keheranan. Melihat kue ulang tahun yang bentuknya lebih kecil dari yang dipesanya tempo hari. Memang hiasannya lebih bagus yang ini, bahkan sesuai dengan karakter kartun kesukaan Emira.