BAB 1

1170 Words
"Dewi prastika Robinson maukah kamu menjadi yang terakhir dalam pencarianku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Menjadi teman hingga aku menua?" Kalimat itu masih terngiang-ngiang di benak Dewi. Sambil menyusut hidungnya dan membuka kembali tisue baru untuk menghapus air matanya, Dewi merobek-robek foto seorang lelaki yang tampak begitu tampan berpose di depan mobil kesayangannya. "Dimas brengsekkkk!!" Teriaknya entah sudah yang keberapa kali. Di depan kamar yang terkunci, Ada kakak laki-lakinya-Alvin sedang menggedor pintunya seperti ingin merobohkan bangunan besar rumah itu. "Buka pintunya atau gue dobrak?" Teriaknya kencang. Dewi beringsut ke arah pintu dan membukanya sedikit. Menyembulkan kepalanya saja sambil menatap malas kakaknya yang menyebalkan sekaligus ditakutinya itu. "Gila, males banget gue punya adek kaya Zombie gini. Gak usah deket-deket gue! Jaga jarak dari gue dan gak usah ngaku-ngaku adek gue di depan semua temen gue kalau tampang lo kayak gini!" Dewi menyipitkan matanya sambil mengatupkan bibirnya keras menahan amukan yang sebentar lagi akan keluar. Alvin membuka pintu secara paksa sampai Dewi hampir terjengkang ke belakang. "Disekolahin tinggi-tinggi masih mau aja dibegoin sama cinta." Alvin menggeleng-gelengkan kepalnya sambil berjalan kesana-kemari mencari sesuatu tanpa mempedulikan adiknya yang terduduk di lantai akibat ulahnya. "Ck,ck,ck Kasihan banget bokap nyokap gue keluarin uang banyak buat sekolahin orang tapi gak pinter-pinter." Alvin terus saja menjelajah kamar Dewi mencari sesuatu. Dia tidak sadar bahwa seseorang dibelakangya sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang. Buk...buk...buk... "Kakak iblis, nyebelin, sialan, tenggelam aja sono di laut lepasssss!" "Aw! sakit woy. Gila lo mau makan gue? Edan adik gue jadi vampir sekarang?" Alvin terkekeh sambil mencengkeram rahang Dewi-menahan Adiknya yang hendak menggigit lehernya Lagi. Tapi inilah yang dia harapkan! "Kaka dwurhwaka... Alvwin brwengswek..." Umpat dewi kencang dan tidak jelas karena tulang pipinya di cengkeram Alvin sekarang. Laki-laki itu tidak suka melihat adiknya mengurung diri di kamar sambil menangisi laki-laki b******k bernama Dimas itu. Alvin lebih suka Dewi memukulinya seperti sekarang sambil berteriak kesal, setelah itu dia akan kelelahan dan kemudian tertidur. Nafas Dewi memburu. Posisinya sekarang adalah berada diatas tubuh Alvin, setelah hampir sepuluh menit dia memukulinya dengan membabibuta. Wajahnya dia susupkan di ceruk leher kakaknya itu sambil menikmati aroma menenangkan yang mirip seperti milik ayahnya. "Udah lelah?" Tanya laki-laki itu lembut. Dewi mulai mengantuk sekarang. "Hu um." Jawabnya mulai lemah. Alvin mengelus lembut kepalanya membuat semakin mengantuk saja. Beberapa menit kemudian, Dewi sudah pergi ke alam mimpi. Setelah memastikan tidur adiknya nyaman. Alvin perlahan bangun dan kembali mencari cargeran laptop milik Dewi. Begitu ketemu, laki-laki itu menyempatkan diri untuk mengecup kening adiknya dan keluar dari kamar itu dengan perlahan. "Halo boy, Selidiki Dimas Alexander Prayogo! Gue mau datanya ada di meja gue besok pagi." Alvin memutuskan panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban apapun. Kemudian memasukan kembali ponselnya ke saku celana dan bersenandung riang menuju kamarnya. Siapa saja yang mengganggu peri kecilnya akan dapat hukuman. Tak terkecuali Dimas prayogo yang agung. Dimas tidak tahu saja, seberapa menyeramkannya Alvin Giano Robinson ketika sedang marah. *** Dimas menatap malas kearah wanita yang terlihat jelas sekali sedang memainkan peran "PURA PURA TERSAKITI." Hanya orang bodoh yang tidak menyadari bahwa dia sedang bersandiwara. Sayangnya Fransiska prayogo, ibu Dimas termasuk dalam kalangan orang bodoh yang begitu mempercayai drama ular betina itu. "Saya tidak menuntut banyak, yang penting anak saya punya ayah." Ucap Lina lemah lembut dan anggun. Membuat Dimas ingin memuntahkan isi perutnya. Setelah kemarin menghancurkan lamaran romantis yang dirancang sempurna untuk Dewi, sekarang wanita itu mendatangi kediaman Dimas bersama kedua orang tuanya menuntut pernikahan secepatnya. "Kenapa tidak mencari laki-laki di tempat lain saja? Dijalanan banyak yang masih jomblo. Yang penting anak lo punya ayah kan?" Ucap Dimas Acuh. Langsung dapat pelototan dari Fransiska. "Jaga bicara kamu Dimas!" Kali ini Ayahnya yang berkata tegas. Dimas benar-benar gak habis pikir kenapa kedua orang tuanya bisa sepercaya itu pada si ular betina. "Sampai matipun Dimas cuma mau nikah sama Dewi. Titik. Lagian dari awal kan Dimas dan Dewi memang udah dijodohkan." Dimas berdiri hendak meninggalkan pembicaraan tidak berfaedah itu, tapi tidak bisa berkutik ketika Ayahnya mencengkeram bahunya dan memaksanya kembali duduk. Dimas berdecih malas sambil mengalihkan pandangannya dari si ular betina. Laki-laki itu sudah tahu permainan ini kembali dimulai. Permainan yang dirancang untuk selalu menggagalkan pernikahannya. Sudah tiga kali laki-laki itu mengalaminya. Sudah cukup sabar dia selama ini, tapi sekarang tidak lagi. Dimas bersumpah tidak akan membiarkan Dewi meninggalkannya seperti ketiga mantan pacarnya dulu. "Sebagai laki-laki kamu harus bertanggungjawab. Papah tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pengecut." Dimas masih tidak bergeming. Terlihat begitu acuh, sombong dan arogan. Membuat Fransiska geram. "Dimas gak ngerasa bikin pah, ngapain Dimas tanggungjawab." Jawabnya malas-malasan. "Kamu kok gitu, kalau kamu gak bikin gimana bisa jadi anak?" Lina mengatakannya sambil menitikan air mata. Berekspresi seolah-olah Dimas baru saja menyiksanya. "Eh denger yeh uler, waktu itu tuh gue cuma remas remas dikit doang itu juga karena lo yang kegatelan godain gue yang lagi mabuk. Masukin aja nggak gimana bisa jadi anak?" Fransiska melotot mendengar kalimat vulgar yang dilontarkan Dimas. Dia bahkan kehilangan kata-katanya. "Enak aja. Waktu itu kamu keluar di dalam, makanya aku hamil. Kamu kan mabuk mana sadar?" Dimas semakin mendengus kesal bukan main. Selama ini laki-laki itu sudah mencuriga banyak orang sebagai dalang dari permainan menyebalkan yang seperti mimpi buruk ini. Tapi tidak ada satupun yang mampu dia buktikan. Dan apakah kali ini Dimas juga harus mencurigai keluarganya? "Eh uler gatel! Gue gak pernah masukin! Celupin aja gak. Gimana tuh s****a bisa keluar di dalam?" Gunawan dan Fransiska beserta kedua orang tua Lina melotot mendengar kalimat Dimas yang tidak disaring. "Emangmya s****a jaman sekarang pada punya sayap apah? Bisa terbang terus masuk?" Dimas memang secuek itu. Dia tidak peduli pendapat orang lain buruk atau baik tentang dirinya. Dia tidak pernah jaga image, kecuali di depan gebetan. "Aw, Sakit mah! Apaan sih pukul-pukul? Kalau Dimas jadi bego gimana?" Fransiska menggertakan giginya kesal sambil menahan malu. Dia tahu kalau putranya sangat m***m, tapi dia tidak pernah tahu bahwa Dimas bisa setidak sopan ini dalam berbicara. "Minta maaf sama Lina Cepet!" Fransiska melotot. Tapi dasar Dimas memang bebal dia hanya mendengus sambil membuang muka. "Dimas ini anak mamah bukan sih? Anaknya gak salah kok dipojokin mulu." Sungutnya. "Cepet minta maaf sama mereka Sekarang! Dan pertanggungjawabkan kesalahanmu." Ucap Fransiska tegas. "Baik, buktikan kalau anak itu memang berasal dari spermaku yang terbang. Baru aku nikahin." Ucap Dimas final. "Maaf nak Dimas, tapi bagaimana omongan orang nanti kalau putri kami perutnya membesar tanpa suami." Kali ini yang berbicara adalah ayah dari si ular betina. Sementara si ular sendiri maaih sesenggukan di pelukan ibunya setelah perkataan Dimas terakhir. "Maaf juga, tapi itu bukan urusan saya." Ucap Laki-laki itu enteng. "Dimas!" Yang ini bentakan Gunawan Prayogo. Tapi tidak pernah mempan buat Dimas si anak nakal. "Papah gak mau tahu, kamu akan menikahinya dalam waktu dekat atau-" "-Dimas kehilangan hak waris." Dimas memotong ucapan ayahnya cepat. Kemudian berdiri sambil menatap kedua orang tuanya tanpa beban. "Oke, coret Dimas dari ahli waris keluarga Prayogo pah. Dimas pergi bye. Lihat saja pada akhirnya kalian yang akan meminta maaf karena sudah membuatku marah." Anak itu melipir dengan cepat keluar dari kediaman Prayogo tanpa memperdulikan reaksi semua orang. "Dimassss!"Teriak Fransiska kesal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD