Malam hari membaca novel ditemani dengan segelas s**u hangat, itu bahagia sederhana dan yang pasti sangat nyaman. Sasa duduk di tempat tidur, s**u ditaruh dinakas. Ia membaca novel ciptaan pidi baiq yaitu Dilan 1990. Baru saja mulai membaca ia sudah sangat menyukainya. Dari bahasa dan kata gombalan yang dilontarkan Dilan beda dengan cowok lainnya. Oh God! Sasa sangat mengagumi sosok Dilan dal cerita itu. Sesekali ia menyerutup susunya dan membacanya lagi.
Drrrrttttt... Ponsel Sasa bergetar dan menandakan ada pesan dari seseorang. Ia membukanya dan tenryata dari "Alnata" yaitu pacarnya hehe.
Alnata
Malam Sasa.
Sasa tersenyum sebentar melihat pesan singkat itu, setelahnya ia segera membalas agar Alvaro tidak menunggu balasannya.
Malam Alvaro.
Alnata
Tadi pulang telat ya?
Iya. Kok tau?
Alnata
Aku liat sepedamu masih diparkiran, aku cari kamu dikelas tapi gak ada.
Tadi aku di UKS.
Alnata
Kamu kenapa? Sakit? Sakit apa? Cerita sama aku.
Alvaro aku gapapa, cuma lagi males pelajaran aja.
Alnata
Serius? Gak bohong kan? Kalo ada apa-apa cerita sama aku.
Iya serius, sanss dong aku gapapa kok.
Alnata
Syukurlah, seneng aku dengernya kalo kamu gapapa. Btw lagi ngapain Sa?
Iya Alhamdulillah. Lagi baca novel.
Alnata
Oh maaf ganggu ya?
Engga kok, sanss aja gak ganggu kok hehe.
Alnata
Tidurnya jangan malem-malem.
Iya sayang.
Alanata
Cie sekarang udah berani panggil sayang ya.
Berani dong
Alnata
Sayang
Dalem sayang
Alnata
Ahh jadi makin sayang.
Aku juga hehe. Kamu lagi ngapain Al?
Alnata
Mikirin kamu.
Gombal.
Alnata
Kenyataannya gitu.
Aku gak kemana-mana kok.
Alnata
I miss you.
I miss you too.
Dan mereka saling menukar pesan sampai larut malam atau pagi, entahlah terserah mereka.
---
Berangkat sekolah selalu semangat semenjak ada Alvaro didekatnya, hari-harinya Sasa lewati penuh kebahagiaan. Sasa berharap akan terus seperti ini.
"Sa kantin yuk?" ajak Zanna.
"Yaelah masih pagi juga." balas Sasa
"Belum sarapan gue." ucap Zanna lemas.
"Ya udah ayo." balas Sasa.
Mereka berjalan kekantin dengan langkah cepat. Sampai dikantin Zanna segera memesan makanan.
"Sa lo mau pesan apa?" tanya Zanna.
"Good day mocacinno." balas Sasa.
"Pake es gak?" tanya Zanna.
"Hangat aja." balas Sasa duduk di meja paling pojok biasanya.
Zanna mengangguk lalu membeli pesanannya dan Sasa.
Alvaro datang sendiri dari parkiran. Melihat Alvaro, Sasa pura-pura tidak mengetahuinya. Bukan apa-apa, tapi ia malu jika berhadapan dengan Alvaro. Jantungnya selalu berdebar hebat, walau tidak bisa dipungkiri ia sangat senang melihat Alvaro, walaupun dari jauh.
Alvaro melihat Sasa sendirian di kantin, Alvaro menghampirinya. Duduk didekat Sasa dengan tiba-tiba.
"Sa." panggil Alvaro.
Sasa menengok kearah Alvaro, Gugup! Namun segera Sasa singkirkan sebisa mungkin.
"Iya?" balas Sasa.
"Belum sarapan?" tanya Alvaro.
"Udah." balas Sasa.
"Terus ngapain kesini? Kok sendiri?" tanya Alvaro.
"Nganterin Zanna, dia belum sarapan." balas Zanna.
"Zanna lagi pesan makanannya." lanjutnya lagi.
Alvaro mengangguk paham.
"Kamu udah sarapan?" tanya Sasa.
Alvaro menggeleng. "Belum." balasnya.
"Sarapan dulu, aku pesenin makanan ya?" ucap Sasa.
"Gak usah, aku udah terbiasa kok." balas Alvaro.
"Jangan dibiasain, gak baik." ucap Sasa
"Kalau gak mau makan, aku pesenin s**u hangat aja. Biar gak kosong tuh perut." lanjutnya.
"s**u putih apa coklat?" tanya Sasa.
"Putih aja." balas Alvaro pasrah.
Sasa segera berdiri dan memesan s**u putih hangat. Ia kemudian kembali duduk didekat Alvaro. Zanna juga ikut duduk didepan Sasa. Zanna membawa kopi pesanan Sasa dan makanannya sendiri.
"Nih pesenan lo." ucap Zanna memberikan kopinya.
"Makasih." balas Sasa tersenyum.
"Masih pagi, gak boleh minum kopi." kata Alvaro.
"Kan aku udah sarapan." balas Sasa.
"Ya pokoknya gak boleh, gak baik buat cewek." ucap Alvaro.
"Iya, sekali ini aja." pinta Sasa.
"Ngeyel banget sih." balas Alvaro.
"Yaaa, sekali ini aja. Pengen banget nih." pinta Sasa dengan muka melasnya.
"Iya, besok jangan diulangin." jawab Alvaro.
"Iyaaaa Alvaro." ucap Sasa senang.
Sasa segera menyeruput secangkir kopi itu dengan nikmat, apalagi di temani orang yang disayang. Lengkap sudah kebahagiaan Sasa. Moodnya pagi ini berkali-kali lipat tambah bagus.
"Ini minumnya nak Sasa." ucap Bu Budi, ibu kantin memberikan s**u yang Sasa pesan.
"Iya bu, makasih ya?" balas Sasa tersenyum.
Bu Budi mengangguk. "Sama-sama." balasnya, sambil berjalan kembali kedapur kantin.
"Minum dan habisin." suruh Sasa kepada Alvaro.
Alvaro menerima susunya dan menegaknya hingga tandas. Sasa tersenyum melihatnya.
"Pintar sekali pacar Sasa!" ucap Sasa bertepuk tangan.
"Pacarnya Sasa gitu loh." balas Alvaro tersenyum.
Ting... Ting... Ting...
Bell masuk sudah berbunyi.
"Sa aku anterin kekelas ya?" ucap Alvaro.
"Gak usah Al, aku sama Zanna aja. Ini udah bell. Kamu masuk kelas aja." balas Sasa.
"Ya udah aku masuk dulu." pamit Alvaro sambil mengusap rambut Sasa.
"Iya." balas Sasa tersipu malu.
Alvaro sudah berjalan kekelas duluan.
"Bucin!" sarkas Zanna.
"Jomblo syirik." kekeh Sasa.
Sasa berjalan kekelas diikuti dengan Zanna. Sampai dikelas mereka langsung duduk ditempatnya.
"Sa." panggil Avaro.
"Dalem." balas Sasa.
"Eh tumben kalem." kekeh Avaro.
"Mood gue lagi bagus." kata Sasa dengan cengirannya.
"Abis ngebucin dia." ucap Zanna.
"Syirik aja lo jomblo." balas Sasa.
"Jangan terlalu bucin. Cinta itu akhirnya pasti patah hati." kata Avaro.
"Jero tenan cok." kekeh Sasa.
"Dibilangin malah ketawa." balas Avaro sinis.
"Iyee iyeee gitu aja mencu." kata Sasa terkekeh.
Ceklek....
Guru yang akan mengajar pelajaran sudah masuk, dan segera memulai pelajarannya.