Ting... Ting... Ting...
Bell istirahat berbunyi. Sasa dan Zanna berjalan ke kanti. Avaro datang menghampiri mereka.
"Kekantin?" tanya Avaro.
"Iya." balas Sasa.
"Ikut ya?" ucap Avaro nyengir.
"Ayo dah." balas Zanna.
Zanna dan Sasa berjalan ke kantin dan Avaro mengikuti dari belakang. Sampai di kantin mereka duduk dimeja paling pojok.
"Lo pesen apa? Biar gue yang pesenin." ucap Avaro.
"Bakso + es teh." balas Sasa.
"Gue juga." lanjut Zanna.
Avaro mengangguk dan berkerumun dalam antrian. Saat duduk di antrian ada seorang kakak kelas yang cantik dan famous di sekolah, namanya Clara dan sahabatnya bernama Arum. Mereka berdua sangat cantik. Clara itu ramah dan seorang osis di sekolah.
Clara duduk di dekat Sasa dan Arum duduk di depan Clara, yaitu dekat Zanna. Clara dan Arum tersenyum kearah Sasa dan Zanna, begitupun Sasa dan Zanna.
"Makanan datang." ucap Avaro.
"Avaro." kata Clara.
"Eh Clara." cengir Avaro.
"Dia sepupu gue." ujar Avaro.
Sasa dan Zanna mengangguk tersenyum. Mereka saling memperkenalkan diri.
"Lo sekelas sama Avaro?" tanya Clara.
"Iya kak." balas Sasa tersenyum.
"Gimana dia kalo dikelas?" tanya Clara.
"Ya gitu deh kak." kekeh Sasa.
"Jail kak." balas Zanna.
Sedangkan Avaro hanya diam dan terkadang senyum kikuk.
"Lo mau pesen apa Clar? Biar gue yang pesen." ucap Arum.
"Bakso + es jeruk aja." ucap Clara.
"Eh gue pesenin aja. Lagian makanan gue juga udah habis ini." ucap Avaro.
"Nah daritadi dong." kekeh Arum.
"Untung gue peka." kekeh Avaro.
"Gue samain seperti Clara aja." ucap Arum.
"Oke sip." balas Avaro sambil berjalan untuk mengantri lagi.
Sedangkan dari kejauhan ada seorang cowok yang melihat itu, ketawanya Sasa yang terlihat bahagia. Sasa menengok ke kantin yang satunya lagi yang berada di pojok. Disana ada Alvaro yang lagi melihatnya. Sasa tersenyum, dan di balas senyum oleh Alvaro. Di sana juga ada Rasya dan Kenzo yang sedang melahap makanan.
"Makan yang banyak." ucap Alvaro tanpa suara, namun Sasa mengerti dari mulut Alvaro yang berbicara tanpa suara.
Sasa mengangguk dan tersenyum. Segera Sasa mengalihkan pandangannya kearah makanannya lagi, dan melahapnya hingga habis.
"Laper dek?" kekeh Clara.
"Hehe iya kak." balas Sasa mengangguk malu.
"Mau nambah?" tanya Clara.
"Eh enggak kak, udah kenyang kok." ucap Sasa tersenyum kikuk.
Ternyata memang benar Clara dan Arum itu kakak kelas yang ramah. Begitu mengenalnya, Sasa langsung menyukainya.
Ting... Ting... Ting...
Bell masuk berbunyi. Segera Sasa Zanna dan Avaro pamit kekelas.
"Kak duluan ya?" ujar Sasa dan Zanna.
"Iya hati-hati dek." balas Clara dan Arum bersamaan.
Sasa dan Zanna mengangguk.
"Gue kekelas dulu, mengawal bidadariku." kekeh Avaro.
Clara dan Arum terkekeh. "Pergi sono." usir Clara dengan kekehan.
"Dih ngusir." kesal Avaro.
"Ntar pulang sendiri, gausah nebeng gue." kekeh Avaro.
Clara mencibik sebal, tapi Clara tau kalau Avaro hanya bercanda. Rumah mereka dekat, dan persepupuan mereka begitu erat.
Sasa, Zanna dan Avaro sudah sampai di kelas. Avaro duduk di meja dekat Sasa dan Zanna. Guru mulai datang dan mereka bersiap mengambil buku. Sasa gagal fokus dengan buku milik Avaro. Buku milik Avaro bergambar boy band yang Sasa sukai, Smash!
"Avaro." panggil Sasa dengan pelan.
Avaro menoleh. "Iya?" balasnya.
"Lo beli buku itu dimana?" tanya Sasa.
"Kenapa emangnya?" tanyanya.
"Pengen." cengir Sasa.
"Besok gue bawain." ujar Avaro.
"Bener ya?" balas Sasa girang.
"Sip." ucap Avaro mengacungkan jempolnya.
"Makasih." kekeh Sasa.
Sedangkan Avaro hanya mengangguk. Untuk Zanna? Ia fokus dengan materi yang diajarkan gurunya. Pantesan pinter!
---
Bell pulang sudah berbunyi. Kini semua murid sudah berhamburan untuk segera pulang, termasuk Sasa dan Zanna.
"Zan gue besok mau bawa motor ah." ucap Sasa.
"Berani emang?" tanya Zanna.
"Berani dong." ucap Sasa percaya diri.
"Awas nanti ketahuan nangis." kekeh Zanna.
"Astagfirullah inginku berkata bangsat." ucap Sasa
Zanna hanya terkekeh. Kini mereka sudah berada di parkiran dan mengambil sepeda masing-masing.
"Ayo bareng ke gerbang depan." ajak Sasa.
"Ayo lah." balas Zanna.
Mereka mulai mengayuh sepedanya sampai depan gerbang. Dan berpisah di depan gerbang.
"Hati-hati Sa." ujar Zanna.
Sasa mengangguk. "Lo juga." balasnya
Zanna mengangguk.
Sasa mengayuh sepeda sendirian, mungkin Ade udah duluan lagi. Hm tidak apa, Sasa sudah terbiasa sendiri.
Dan dibelakangnya seperti ada suara motor familiar bagi Sasa.
"Sasa." panggil orang itu yang sudah berada di samping Sasa.
Sasa menengok kearah asal suara. Nah kan benar, Alvaro!
"Hai Alvaro." balas Sasa.
"Aku tarik seperti biasanya ya?" ujar Alvaro.
Sasa mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk digenggam Alvaro.
"Sa nanti main yuk?" ajak Alvaro.
"Kemana?" tanya Sasa.
"Bukit paralayang." balas Alvaro.
"Sama temenku." lanjutnya.
"Malu ih gak kenal sama temenmu." kata Sasa.
"Kan ada aku, nanti aku kenalin." balas Alvaro.
"Nanti biar temenku cewek yang jemput kamu." ucap Alvaro.
"Iya deh." balas Sasa.
"Udah sampai." ucap Alvaro.
"Cepet ya?" balas Sasa.
"Iya kalo sama orang yang di sayang mah waktu terasa cepat." gombal Alvaro.
Sasa tersenyum malu.
"Udah sana pulang." usir Sasa.
"Ngusir nih?" goda Alvaro.
"Iyaa." balas Sasa terkekeh.
"Kamu dulu, aku awasin dari sini." ucap Alvaro.
"Okay yang waras ngalah." final Sasa.
Alvaro hanya terkekeh.
"Ga waras tapi kamu juga suka kan." kekeh Alvaro namun tidak ditanggapi oleh Sasa.
Sasa sudah mengayuh sepedanya untuk kembali kerumah. Sasa rindu kasur, guling dan selimut. Tentu juga rindu keluarganya.
Sampai dirumah seperti biasa, Cia dan Ibu di depan televisi.
"Assalamualaikum, Sasa cantik pulang." ucap Sasa.
"Waalaikumsalam." balas Hanna.
Sasa mencium tangan Hanna.
"Cia kok gak jawab salam kakak. Dosa loh ada orang salam gak dijawab." ujar Sasa menghampiri Cia.
"Waaikumalam." (Waalaikumsalam) jawab Cia.
"Nah gitu dong." kata Sasa sambil mencium pipi gembul Cia.
"Ih akak au." (Ih kakak bau.) balas Cia.
"Masa sih?" Sasa mencium bajunya.
"Bau dikit doang Ci." kekeh Sasa.
"Bersih-bersih dulu Sa, cuci tangan, kaki dan muka sana." suruh Hanna.
"Iya bu." balas Sasa.
Sasa mencuci bersih tangan, kaki dan mukanya dengan sabun. Setelah itu berjalan berganti pakaian dan tiduran di kasur, tak lupa mengambil ponsel di nakas. Terlihat ada 2 notifikasi. Sasa melihatnya, yang pertama dari Alvaro Item dan yang kedua entah, hanya nomor saja.
Avaro Item
Hai Sa, udah sampai rumah belum?
Sudah.
Nanti habis ashar temenku kesitu jemput kamu.
Okay.
Ga usah dandan cantik. Santuy aja. Takutnya malah temenku pada suka kamu kan repot hehe
Apaan sih gombal mulu dari tadi.
Bukan gombal, kenyataan.
Sasa tidak membalasnya, ia terkekeh dari tadi mendengar gombalan Alvaro. Tidak pernah Sasa bayangkan bisa berpacaran dengan Alvaro. Ini cinta pertama Sasa. Sasa membuka pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.
085987654***
Hai sa.
Siapa?
Avaro.
Oalah Avaro. Ada apa Av?
Gapapa. Save ya?
Okay.
Sampai bertemu di sekolah.
Sasa tidak membalasnya. Ia memilih untuk istirahat tidur sebentar, agar nanti kembali segar saat main bersama Alvaro dan temannya.