Mansion megah keluarga Halim terasa lebih sunyi dari biasanya pagi itu. Leonard melangkah mantap memasuki ruang tamu utama, di mana aroma parfum mahal Inggrid, ibunya, sudah memenuhi udara. Melisa, yang duduk di sofa, langsung menegakkan punggung, matanya menyipit menatap Leonard—sisa-sisa kemarahan atas pengusirannya masih membara. "Leon, Sayang, akhirnya kau datang." Inggrid bergegas menghampiri, tangan terbuka untuk memeluk putra sulungnya. Gaun sutranya berdesir lembut. "Kupikir Mama dan Papa akan menghabiskan waktu di Paris sampai akhir bulan," ucap Leonard sambil membalas pelukan singkat itu. Inggrid menarik diri, kerutan halus muncul di dahinya. "Kami mendengar kabar tentang Moza. Itu yang memaksa kami pulang lebih cepat, meski harus memotong perjalanan dua minggu." Tangannya mem

