Suara ribut grasak-grusuk dari pintu kamarnya membuat Raga mengerang keras. Pasalnya ia baru saja tertidur, namun ada saja orang yang sepertinya tidak senang dengan ia masih tidur di saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bangun dari tidurnya, Raga mengernyit saat melihat tetangganya, Arga, yang kini berdiri di depan pintunya, sambil melihat sekeliling kamarnya. "Apa?" Kesal Raga pada akhirnya. Namun sayangnya, sang tersangka, Arga, terlihat tidak merasa bersalah sama sekali. Laki-laki itu hanya memasang wajah ngeselin serta cengirannya. "Raya mana? Dia kagak ada di kamarnya" tanya Arga tanpa basa basi. Mendengus, Raga menunjuk kearah luar jendelanya. "Paling lagi kasih makan Nurleini" jawab Raga acuh. Nurleini? Arga mengerutkan keningnya. "Siapa itu? Kok gue gak kenal?" Tany

