10-Lamaran Tak Terduga

1616 Words
Wanita berkimono biru bunga-bunga itu keluar dari kamar mandi lalu menuju lemari sambil menggosok rambut panjangnya. Sejenak dia menghentikan kegiatannya, bola matanya bergerak menyusuri pakaian yang dia susun rapi. Saat hendak menarik sebuah kaus, suara dari pintu menginterupsi. “Ren. Gil udah ngasih duitnya belum?” Perhatian Rensha seketika teralih. Dia menoleh dengan satu alis terangkat. “Lo tadi tanya apa?” tanyanya sedikit bingung. Renga mendekat, duduk di unjung ranjang sambil menatap adiknya. “Gil udah ngasih duitnya belum?” Rensha menghela napas panjang lalu menggeleng lesu. “Dia janji besok mau ngasih.” “Nggak usah minta tolong dia, deh. Ada orang yang udah bantu kita.” Sontak Rensha mengangkat wajah. Dia mendekat dan berdiri di depan kakaknya itu. “Serius? Terus duit dari Gil?” Tatapan Renga tertuju ke wajah segar adiknya itu. Dia terdiam sambil berpikir. “Kayaknya nggak perlu, deh.” “Lah terus gimana?” tanya Rensha masih bingung. “Lo udah ngomong sama Om Wino?” lanjutnya. “Itu masalahnya. Gue mau diskusiin ini sama lo.” Perlahan Rensha duduk di samping Renga. Wanita itu sangat senang ketika ada orang lain yang berniat membantu. “Tapi siapa yang bantu kita?” tanyanya penasaran. Renga menatap Rensha sambil berpikir sedangkan seseorang yang membantunya meminta agar tidak memberi tahu wanita di depannya dulu. “Udah, deh, itu kita bahas nanti. Sekarang kita pikirin gimana cara ngomong ke Om Wino.” Meski penasaran Rensha tidak lagi menanyakan pertanyaan yang bersarang di pikirannya. Dia sekarang mulai memikirkan cara untuk meminta maaf ke Om Wino. “Gue udah mikir, sih. Menurut gue kita jujur aja.” Rensha mengernyit. “Apa Om Wino nggak marah?” “Ya marah, sih, tapi lo punya cara lain? Gue nggak mau hubungan papa sama Om Wino jadi buruk kalau kita bohong,” jelas Renga memikirkan risikonya. Mendengar kalimat itu Rensha menghela napas berat. Apa yang dikatakan sang kakak ada benarnya. “Oke, deh gue nurut,” putusnya. Renga beranjak, mengusap rambut adiknya yang setengah basah itu. “Besok pagi kita temui Om Wino.” Rensha menatap kakaknya yang berjalan ke pintu itu. “Siapa orang yang udah nolongin kita?” Langkah Renga terhenti lalu menoleh. Bibirnya hendak terbuka, tapi suara bel apartemen mengurungkan niatnya. Tet! Mendengar suara bel, Rensha seolah lupa dengan pertanyaannya. Dia beranjak, melewati kakaknya begitu saja dan menuju ke pintu utama. Renga diam-diam menghela napas lega. Dia paling tidak bisa berbohong ke adik satu-satunya itu. Di depan, Rensha membuka pintu. Wajah tampan dengan rambut disisir ke belakang menyambutnya. Rensha meneliti penampilan pria di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki: kemeja putih lengkap dengan dasi, celana kain hitam dan sepatu fantofel hitam. “Ren. Ngapain natap gue kayak gitu?” Verza menunduk menatap penampilannya. Dia merasa tidak salah kostum hingga membuat Rensha menatapnya aneh seperti itu. “Lo ngapain rapi banget gini? Bukan lo banget,” jawab Rensha setelah itu berbalik melangkah ke sofa. Dia duduk di sofa panjang sambil melipat kedua tangan. Di depan pintu, Verza menghela napas. Dia merapikan rambut dengan tangan, tak lupa dia juga merapikan letak dasinya. Setelah dirasa sudah rapi, Verza mengedarkan pandang, melihat Rensha yang duduk di sofa sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Verza mendekat, bertepatan dengan itu Renga dan Irsya keluar. Renga mendorong kursi roda papanya hingga berada di samping kursi single. Renga lantas duduk menatap Verza. Suasana yang sebelumnya biasa saja, kini mulai terasa menegangkan. Rensha menegakkan tubuh menatap ke tiga pria di ruangan itu dengan bingung. “Ada apa, sih, ini?” “Ada yang mau Verza bicarain.” Renga menjawab. Tatapan Rensha sontak tertuju ke Verza, merasa aneh dengan sahabatnya itu. Tidak biasanya sang sahabat terlihat gelisah. “Lo mau ngomong apa, Ver?” tanyanya dengan nada pelan. Verza mengangkat wajah lalu menatap Rensha penuh keyakinan. “Gue mau ngelamar lo, Ren. Lo mau nggak jadi istri gue?” Waktu seolah berhenti sejenak. Empat orang di ruangan saling terdiam setelah pertanyaan itu terlontar. Jika ini dalam sebuah film, maka sedang di-pause. Rensha hanya mampu diam, seluruh tubuhnya seolah tidak bisa diajak kerja sama untuk memberikan respons. Dia ngelamar gue? batin Rensha bingung. Dia menggeleng tegas yakin hanya salah dengar. Verza tidak mungkin melamarnya, meski dia sangat mengharapkan itu terjadi. Rensha menggeleng lagi. “Jangan bercanda, Ver,” pintanya. Kedua tangan Verza mengusap wajah. Dia lalu menatap Rensha yang menatapnya tajam itu. Verza lalu beranjak duduk di samping Rensha. “Gue serius ngelamar lo, Ren,” ucap pria itu. Tatapan Verza lalu teralih ke dua pria yang menatapnya. “Tadi gue udah izin sama Om Irsya sama Kak Renga,” lanjutnya. Rensha menatap Verza sekali lagi, mencari kebohongan di mata pria itu. Namun, Rensha tidak pandai menebak seseorang. Dia tidak tahu Verza sekarang sedang bohong atau tidak. “Verza nggak bohong, Ren. Dia mau nikahin kamu. Sekaligus bayar hutang kita.” Papa akhirnya mengeluarkan suara. Tatapan Rensha tertuju ke sang papa. “Benar, Pa?” Irsya mengangguk menatap putrinya yang telah dilamar itu. “Papa memberi restu, Ren. Tinggal kamu yang memutuskan,” lanjutnya. Rensha melirik Verza masih belum percaya kalau sahabatnya itu melamarnya. Tak ada angin tak ada hujan tidak mungkin Verza seperti ini. “Gue perlu ngomong sama lo,” ucapnya sambil menarik tangan Verza.   ***   Satu botol You C 1000 rasa lemon telah habis ditenggak. Pria yang telah meloloskan dasinya itu menggapai satu botol lagi sambil menunggu wanita di depannya itu mengeluarkan suara. Sejak sepuluh menit yang lalu, Verza dan Rensha duduk berhadapan tapi tidak ada yang mengeluarkan suara. “Ver,” panggil Rensha lirih. Gerakan membuka penutup botol terhenti. Verza meletakkan minuman itu ke atas meja lalu menatap Rensha sepenuhnya. “Udah?” Rensha menunduk. Jika sedang berdua dan hanya berdiam diri, itu artinya dia sedang berpikir. Dia merasa jika kejadian beberapa menit yang lalu seolah mimpi, sebuah mimpi yang tidak bisa diharapkan. “Pasti ada apa-apa, kan!” “Apanya?” “Lo!” Verza mengalihkan pandang sejenak. Setelah berbicara dengan Irsya dan Renga, dia sempat ragu. Namun, dia tidak mungkin mundur karena langkah yang dia ambil sudah terlalu jauh. “Gue bantuin lo.” Sudut bibir Rensha tertarik ke atas. Benar dugannya, Verza tidak benar-benar berniat melamarnya. “Gue udah bilang kalau nggak usah bantuin gue.” Sontak Verza berdiri mendekat dan berjongkok di depan wanita itu. “Terus lo pikir gue bisa diem aja?” tanyanya dengan nada yang cukup tinggi. “Enggak, Ren! Gue nggak bisa liat sahabat gue kesusahan!” Air mata Rensha menetes. Dia sangat menghargai usaha Verza tapi dia masih belum terima jika begini caranya. Rensha tidak ingin menanggung risiko hatinya semakin sakit. “Tapi gue nggak bisa nikah sama lo.” Jawaban itu membuat Verza mendongak lalu satu alisnya terangkat. “Terus lo mau nikah sama Gil itu? Lo yakin?” tanyanya. “Mending sama gue, Ren. Gue bisa hargain lo daripada dia.” Rensha memejamkan mata. Dia terisak hebat. Benar Verza lebih bisa menghargainya. Namun, pria itu seolah tidak sadar jika cara ini semakin menyakiti Rensha. Melihat Rensha yang menangis, Verza menangkup pipi wanita itu. Ibu jarinya menghapus air mata yang masih setia turun itu. Verza lantas mencium bibir Rensha lembut. Beberapa detik tubuh Rensha tersentak, kaget dengan ciuman itu. Beberapa detik setelahnya, dia kembali relaks. Dia memejamkan mata, membiarkan Verza menciumnya. Jika dia tidak mengenal jauh Verza, mungkin dia akan mengira pria itu mencintainya. Karena ciuman itu begitu lembut. “Nikah sama gue, ya. Ini satu satunya cara,” ucap Verza setelah mengakhiri ciumannya. Mata Rensha terbuka menatap pria tampan di depannya dengan sisa air mata itu. Dia mengalihkan pandang lalu beranjak berdiri. “Apa nggak ada cara lain?” tanya Rensha Wanita itu mendekat ke pintu. Dia hendak membuka hendel pintu, saat ingat ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Kenapa lo tiba-tiba ngebet banget nikah?” tanyanya menyelidik. “Gue tahu lo tipe cowok kayak apa!” Verza membuang napas dari mulut. Dia tidak memikirkan lebih lanjut jika Rensha bertanya seperti itu. Berhadapan dengan sahabat sendiri membuat Verza bingung sendiri karena Rensha tahu sifat-sifatnya, hal yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Verza!!” teriak Rensha tak sabaran. Perlahan Verza berdiri melangkah mendekati Rensha yang berdiri di depan pintu. Verza menghentikan langkah saat sepatunya telah bersentuhan dengan sendal Rensha. “Kalau gue berubah pikiran apa lo percaya?” tanyanya. Verza memilih berbohong. Sejak dulu ada satu hal yang tidak pernah dia ceritakan ke Rensha, yaitu tentang hubungannya dengan sang papa. Rensha mendongak menatap mata Verza yang terdapat kantung itu. “Kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran?” “Ren! Apa harus semua tindakan punya alasan?” “Ya!” Verza tidak miliki banyak alasan. Dia memiringkan wajah lalu menarik tengkuk Rensha mendekat. “Emang lo nggak mau nikah sama gue?” bisiknya membuat tubuh Rensha menegang. Kedua tangan Verza turun, mengusap lengan Rensha naik turun. Tubuh Rensha bergetar merasakan telapak tangan itu yang terasa hangat. Rensha memejamkan mata kala Verza mencium bibirnya. “Nikah sama gue, Ren. Gue lebih baik dari Gilbert,” bisik Verza. Rensha tidak tahu lagi bereaksi bagaimana. Otaknya seolah lumpuh seiring dengan ciuman dan usapan tangan Verza. “Apa jaminannya?” tanyanya masih sambil memejamkan mata. Verza menghentikan kegiatannya. Dia menatap wajah Rensha yang memerah itu. Sudut bibir Verza lalu tertarik ke atas. “Jaminan? Lo pasti puas setiap malemnya.” “Gue pengen lebih dari itu,” jawab Rensha sambil membuka mata. Sekarang dia tahu bagaimana raut Verza. Pria itu tersenyum penuh kemenangan. “Lo minta apa? Pasti gue kabulin. Asal lo nikah sama gue.” Tak ingin wanita itu kembali mengajukan pertanyaan, Verza mencium Rensha lagi. Rensha sangat terkejut, dia ingin mendorong tapi tubuhnya terasa lemas. Dia hanya bisa memejamkan mata berharap jika keputusannya kali ini tepat. Gue mau hati lo buat gue, Ver!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD