Lima pemuda berpostur tinggi dengan otot berisi, berdiri melingkar dengan wajah serius dan kecewa. Pakaian mereka rapi, berjubah selutut, dengan kemeja hitam dan celana kain hitam. Semuanya serba hitam. Lalu dua orang lagi datang. Satu orang membiarkan tudung kepalanya tetap menutupi wajah, satu lainnya menarik tudung jubah itu ke belakang. Pedang panjang khas Vocksar mereka menggantung di pinggang masing-masing. Dua diantara mereka menyelempangkan pedangnya di punggung. Masing-masing saling menggeleng dengan desahan napas pelan. Sorot mata tujuh pemuda Vocksar itu beragam. Namun, temaram cahaya mengaburkan hal itu. “Sudah pastikan di semua tempat?” tanya ketua tim mereka. Pria Vocksar yang paling kekar ototnya dengan pedang di punggungnya. Dia melepaskan kain hitam penutup

