Suasana masih tegang. belum ada pergerakan apapun kecuali tangan laki-laki itu yang mulai menyapu mata pedang Naviza. Dia membiarkan mata Naviza mengikuti pergerakan tangannya. Dan sampailah tangan itu di ujung pedangnya, dan tiba-tiba dia menggenggamnya tanpa ragu, sampai darah banjir di telapaknya. Pelan, laki-laki itu menarik pedang Naviza, memindahkan arahnya menjauhkannya dari leher teman wanitanya. “Tidak.” ucap Naviza menjawab isyarat laki-laki itu supaya segera membuang pedangnya. Laki-laki itu semakin tersenyum, kemudian tanpa aba-aba, dengan ganasnya dia menarik pedang Naviza hingga pedangnya terbuang dan Naviza tertarik maju. Kemudian laki-laki itu menggenggam pergelangan tangan kanan Naviza, memilinnya ke belakang punggung, dengan gerakan cepat menendang lututnya hingga membu

