Semua Vocksar mengangkat pedang mereka, tanda bahwa mereka telah bersumpah setia untuk bertarung hingga mati. Bukan kematian penuh hina seperti yang terjadi pada rekan-rekan lainnya, tapi kematian terhormat seorang pendekar. Mati di medan laga. Son melangkah maju, mendekat pada Angkasa dengan tatapan haru. Dia menggenggam gagang pedang tersarungnya, lalu mengangkatnya ke depan dan menempelkannya pada d**a Angkasa. dia sedang bersumpah setia bertarung habis-habisan. Suasana haru penuh kobaran semangat itu, tiba-tiba saja pecah. Saat Angkasa mendadak muntah di depan Son. “Darah?” gumam Son kaget. Dua kali Angkasa tersedak lalu muntah darah, warnanya hitam dan kental. Spontan Son membuang pedangnya dan meraih tubuh Angkasa yang oleng hampir roboh. Kini dia menopang tubuh Angkasa, dagunya

