Angkasa menahan tangan Naviza bersamaan dengan dia bangun dan berdiri menghadapnya. “Hati-hati.” Bisik Angkasa sebelum dia melepaskan tangannya. Suaranya terdengar begitu tulus, dibalut dengan kekhawatiran dan keengganan untuk melepaskannya pergi. suaranya tidak hanya menggetarkan gendang telinga Naviza, tapi juga berhasil merasuk ke sukmanya. Kata-kata yang mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya sudah lama sangat ingin ia dengar. Keinginan kuat yang tak pernah bisa dimiliki, malam ini sungguh terjadi. bukan sebuah kata perpisahan, bukan juga sebuah penahanan. Itu sebuah doa. Ada harapan besar yang terselip dalam kata-katanya. Naviza menyembunyikan senyumnya dibalik helai poni yang jatuh ke wajahnya. “Aku pergi.” pamitnya. Tapi.. Belum juga kakinya melangkah, dia terpaksa berhent

