Tak Bisa Dimaafkan

1060 Words
Cerita ini hanya eksklusif di Dreame/Innovel. Jika kalian menemukan ini dijual murah. Sudah dipastikan itu bajakan. Author tidak akan ikhlas jika cerita ini dibajak dan uang hasil jualan dia author haramkan dunia akhirat.  Mata yang masih berat mulai terbuka perlahan ketika sinar matahari menembus gorden putih disalah satu suite room hotel tempatnya berada saat ini. Faraz membuka matanya perlahan begitu mendengar isakan yang membuat tidurnya terasa sangat terganggu. Di kamar yang begitu luas, suara bisingpun sepertinya tidak ada di sana kecuali suara tangisan dari seorang perempuan yang meringkuk diujung bawah ranjang di mana Faraz tidur. Ingatan itu mulai lintas di dalam pikiran Faraz begitu melihat pakaian berserakan dan juga tubuh gadis yang menangis itu hanya ditutupi dengan selimut, sementara Faraz menutup tubuhnya dengan selimut yang sama. Begitu ia mengedarkan pandangannya di penjuru kamarnya yang di mana semua pakaian berserakan, dan satu hal lagi yang tak kalah membuat Faraz terkejut adalah ketika melihat bercak darah di atas sprei putih polos. Bayangan tentang dirinya yang berbuat salah itu mulai muncul. Sekali dia berpikir positif, akan tetapi ingatan semalam masih terlintas. Yang ia tarik semalam adalah Bianca, tapi ketika dia terbangun, ia justru melihat seorang perempuan yang barangkali masih training di hotelnya. Faraz menghela napas panjang dan memijit pelipisnya. "Aku memperkosa," batinnya berkecamuk ketika dia mengingat teriakan perempuan yang ada di bawah tersebut teriak berusaha melepaskan diri semalam. Faraz yang berusaha meraih celananya yang tak jauh dari tempatnya duduk sekarang ini. Dia memang melihat perempuan itu duduk dan matanya sudah sembab, pakaiannya sudah tidak bisa digunakan sama sekali karena Faraz merobeknya dengan kasar, bahkan dia juga sedikit mengingat bagaimana dia memaksa perempuan itu melayani nafsu bejatnya. Faraz menengadahkan kepalanya berdoa kepada sang kuasa atas apa yang telah dia lakukan karena semalam menganggap perempuan yang ada di bawah tersebut adalah Bianca untuk membalaskan dendamnya karena perbuatan Bianca dengan saudaranya sudah sangat keterlaluan. Perlahan, Faraz melangkah mendekati perempuan itu dan berjongkok, "A-aku aku minta maaf,"  Maaf yang tidak akan pernah berguna jika sudah terjadi kejadian seperti sekarang ini. Faraz sangat menyesali perbuatannya yang hanya karena Bianca, dia harus melampiaskan emosinya pada alkohol dan justru menyakiti hati orang lain. Ketika perempuan itu mengangkat kepalanya, terlihat manik kesedihan dan juga ketakutan saat melihat ke arah Faraz, dia berusaha meraih tangan perempuan itu. Tapi dengan cepat perempuan tersebut langsung mendorong tubuh Faraz agar menjauh. "Aku minta maaf," ulang Faraz. Hanya isakan yang terdengar dengan jelas. Faraz mengerti bahwa perempuan itu masih benci kepadanya. Ia tidak akan memaksa untuk mendekati, Faraz langsung memunguti seragam perempuan yang ia robek semalam dan melihat nama perempuan yang sudah dinodainya itu. Dengan segera, Faraz langsung menghubungi Sarah yang sudah menjadi tangan kanannya di hotel ini. "Bawakan seragam baru untuk Nila! Bawakan ke kamar saya, segera!" pintanya begitu Sarah menjawab teleponnya. Terdengar kata sanggup dari Sarah yang membuat Faraz mencari kausnya untuk menutupi tubuhnya kali ini. Karena dia hanya menggunakan celana pendek ketika mendekati perempuan itu tadi. Faraz melihat dengan jelas nama yang ada diseragam kerja perempuan itu hingga dia bisa tahu nama perempuan yang sudah ditidurinya. Jam yang sudah menunjukkan pukul Sembilan lebih dan Faraz yakin bahwa Sarah sudah datang, maka dari itu dia tanpa ragu mempercayakan hal ini kepada Sarah. Selang beberapa menit, dia tetap melihat Nila duduk memeluk lututnya sendiri dan terdengar suara ketukan pintu yang membuat Faraz langsung melangkah untuk membukakan pintu. Begitu dia melihat Sarah berdiri di luar, "Ada apa, Pak? Nila memangnya ada di dalam?" Faraz menutup pintu dan berbicara dengan Sarah di depan pintu kamarnya, "Saya berbuat salah sama dia," "Maksud Bapak?" Faraz mengusap wajahnya dengan sangat gusar, "Saya memperkosa, Nila!" Ekspresi Sarah yang terkejut karena seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pemilik hotel ini. Apalagi semalam dia meminta Nila untuk merapikan kamar tersebut. Seharusnya dia meminta bantuan kepada laki-laki. Tapi, kali ini dia juga tidak tahu jika hal ini akan terjadi. "Bapak nggak bercanda?" Faraz menggeleng, "Nila nggak mau ngomong sama saya, saya sudah berusaha untuk dekati," "Bapak keterlaluan, bagaimana kalau orang lain tahu mengenai Bapak yang perkosa karyawan sendiri," "Sumpah, saya mabuk. Saya nggak tahu lagi mau gimana," "Bapak kan sebentar lagi mau nikah. Terus gimana sama Nila, Pak? Bapak nggak bisa selesaikan masalah ini hanya dengan kata maaf dan juga kekeluargaan. Ini sudah menyangkut masa depan dia yang sudah bapak rusak," "Saya bakalan tanggung jawab apapun yang terjadi," "Nggak semudah itu. Apalagi kalau Bapak mau menikah sama orang lain. Bapak enak-enakan sama orang lain, nah dia? Apa iya semua pria bisa menerima dia? Dia juga sudah pasti trauma, Pak. Nggak semua trauma itu bisa diobati. Sekalipun saya di sini kerja dibayar sama Bapak. Tapi, saya juga punya perasaan dan juga hati nurani untuk bela bawahan saya, Pak. Sekarang mau gimana?" "Dia nggak mau ngomong sama saya. Jadi saya serahkan ke kamu," "Bapak gampang banget ngomongnya," "Tolong, saya janji saya bakalan tanggung jawab. Jangan sampai berita ini menyebar, saya akan tetap tanggung jawab," "Bagaimana saya mau ngomong sama orang tuanya. Bapak nggak tahu apa kalau dia ini adalah tulang punggung keluarga," Jawaban Sarah semakin membuat Faraz merasa frustrasi dengan kenyataan itu. "Saya tahu, tapi tolong Sarah. Apapun yang terjadi saya bakalan tanggung jawab, saya bakalan nikahin kalau dia hamil," "Bapak gila, sebentar lagi Bapak bakalan nikah sama orang lain," "Nggak. Saya nggak nikah sama Bianca acaranya bakalan batal. Jadi seperti yang saya bilang tadi, kamu urus Nila, saya mau pergi," "Kabur dari masalah?" tanya Sarah ketika melihat Faraz hendak pergi. "Nggak, saya mau urus pembatalan pernikahan saya sama Bianca," "Kenapa mendadak?" Faraz tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya dikhianati oleh kekasih dan kakaknya sekaligus. Apalagi ketika Faraz melihat dengan matanya sendiri mengenai perselingkuhan Bianca dengan kakaknya yang bahkan sampai berhubungan badan. Selama berpacaran dengan Bianca, Faraz sendiri paling takut melakukan hal tersebut bahkan untuk berciuman pun Faraz masih berpikir panjang untuk melakukannya. Tapi, sekarang ini sudah jelas bahwa kekasih dan juga kakaknya mengkhianatinya bahkan sudah menghancurkan segala benteng kesetiaan yang pernah dibangun Faraz. Ia yang dengan berani melamar kekasihnya di hadapan banyak orang. Ia juga yang dengan berani meminta perempuan itu ke orang tuanya. Apalagi nanti jika mereka menikah, sudah pasti kakak dan Bianca akan melakukan hubungan itu juga dan jika hamil, kemungkinan akan dikatakan bahwa itu adalah anak dari Faraz. Sekalipun yang berhubungan itu adalah kakak dan juga kekasihnya sendiri. Dikhianati adalah hal yang paling sakit dan tidak pernah dibayangkan semua itu akan terjadi. Kepercayaan juga kesetiaan dihancurkan dalam waktu yang begitu singkat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD